Perjalanan waktu tidak dapat dihentikan oleh siapapun. Kini pada akhir tahun 2011 ini banyak sekali hikmah yang Allah berikan kepada kita semua. Berkah ilmu, rezeki dan umur telah kita rasakan. Saatnya menjadikan setiap langkah dalam kembali kepadaNya menjadi suatu kebahagiaan.

Mereka yang merasakan dengan bertambahnya usia bertambah bahagia karena janji bertemu yang Maha Rahmat sudah dekat, maka akan merasakan bahwa iman kepada Allah SWT merupakan sebuah nikmat yang luar biasa. Lebih membahagiakan daripada apapun yang ada di dunia termasuk emas, berlian, rumah mewah, mobil yang bagus bahkan jabatan apapun yang kita miliki.

Setiap detik ketika kita melangkah, setiap menit ketika kita bergerak, setiap jam ketika kita melakukan aktivitas di rumah, di kampus, sekolah, tempat kerja atau di daerah wisata maka iman kepadaNya merupakan naungan yang membahagiakan.

Cobalah berhenti sebentar ketika kita begitu sibuk setiap hari. Perhentian itu bisa dalam shalat lima waktu dimana kita mendapatkan tempat khusus untuk menjalin komunikasi, memanjatkan doa dan mensyukuri nikmat-Nya.

Dari Anas r.a. bahwa Nabi saw. bersabda, “Tiga hal yang apabila terdapat pada diri seseorang maka ia mendapat manisnya iman yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai olehnya daripada selain keduanya, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan ia benci untuk kembali ke dalam kekafiran (1/11) sebagaimana bencinya untuk dicampakkan ke dalam neraka.”

Maka dalam perjalanan waktu ini rasa iman merupakan nikmat tiada tara.

Demi masa.Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (Al’Ashr)

Surat ini dengan jelas menguraikan makna iman dalam perjalanan waktu dimana kita melaluinya setiap saat. Tahun 2012 tidak lama lagi berakhir sedangkan bulan Muharram sudah meninggalkan kita. Saatnya kita menuliskan dalam diary kita untuk menikmati rasa iman ini setiap waktu. Ketika kita bekerja, ketika belajar, ketika belanja, ketika dalam perjalanan dan ketika bercengkrama dengan keluarga. Semuanya akan dirasakan sebagai karunia-Nya.

Iman kepada Allah inilah yang akan menjadikan tambahan waktu setiap hari kita menjadi nikmat. Nikmat karena kita akan bertemu dengan Sang Pencipta, Yang Maha Penyayang dan Maha Pengasih. Bukankah tujuan hidup kita di dunia tidak lain dalam mencari Ridha-Nya. Jadi alangkah herannya jika dalam perjalanan waktu ini kita terasa sesak dan berat. Semuanya sudah berada dalam garis takdirnya, saatnya kita merasakan nikmat waktu ini dalam kehidupan sehari-hari, sebagai anugerah Allah SWT yang sangat besar. Wallahu’alam bishawab.

PENGANTAR: Menjelang puncak ibadah haji yang jatuh pada minggu pertama November nanti, berikut ini beberapa catatan ringan penulis mengenai lokasi dan tema haji. Sebagian catatan ini ketika umrah pertama kali serta sebagian lagi menyaksikan jutaan orang berjiarah, melengkapi rukun Islam sekaligus sebuah perjalanan ruhani penuh makna pada bulan Zulhijah. Sebuah ibadah sekali seumur hidup, sungguh sayang kalau kita tidak sempat menunaikan kita ibadah ini tatkala umur semakin senja, ketika kita tidak tahu kapan menghadap-Nya.

PERTAMA kali mengenal Jabal Rahmah ini dari seorang pemandu umrah. Menurut pemandu asal Thailand ini, Nabi Adam dan Siti Hawa diusir dari surga ke dunia ini. Mereka terpisah selama 300 tahun, katanya, kemudian Allah mempertemukan keduanya di tempat yang sekarang disebut Jabal Rahmah di tengah Padang Arafah.

Pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa di Padang Arafah ini dapat disebut sebuah kisah cinta abadi, kisah pencarian kasih sayang yang berujung pada kebahagiaan. Padang Arafah menjadi saksi sejarah bagaimana Nabi Adam selama ratusan tahun mencari isterinya setelah diusir dari Surga.

Itulah monumen cinta pertama peradaban kemanusiaan yang disimbolkan sebuah tugu di Padang Arafah. Pertemuan Arafah ini nanti merupakan puncak ibadah haji karena tidak ada haji tanpa berdiam sebentar di Arafah. Arafah adalah simbol suci sebuah ritual perjalanan ruhani kepada Allah yang menggenapkan rukun Islam kita.

Saya diberitahukan pula bahwa ketika Nabi Adam diusir dari Surga ditempatkan di daerah yang sekarang disebut India sedangkan Siti Hawa di daerah Irak sekarang. Kisah ini tentu belum menjadi sebuah kebenaran namun sudah menjadi bagian dari perjalanan Nabi Adam ketika dipisahkan di dunia dengan Siti Hawa. Demikian juga soal lamanya berapa di dunia dalam masa pencarian belum ditemukan pendapat yang kuat.

Di sisi lain jiarah ke Jabal Rahmah bagi calon jemaah haji mungkin akan menjadi sebuah perenungan untuk melihat kembali bagaimana Nabi Adam bersuka cinta dalam pertemuan dengan kekasih dan isterinya. Inilah sebuah kisah romantisme monumental dalam perjalanan hidup manusia di dunia dimana pasangan pertama Adam dan Hawa hidup di daerah yang sekarang menjadi Padang Arafah.

Jabal Rahmah atau bukit Kasih Sayang juga tempat berjiarah untuk merenungkan betapa kasih sayang Allah kepada kita semua sangat luar biasa, tidak bisa dihitung.

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (16:18)

Jabal Rahmah kita betapa Kasih Sayang Allah tak terhitung bahkan ketika Nabi Adam melanggar larangan Allah setelah bertaubat diampuni.

Doa Nabi Adam diabadikan dalam Al Quran.

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. (7:23)

Meskipun Nabi Adam mengaku telah berbuat dzalim dengan melanggar pantangan Allah namun Allah memberikan kasih sayangNya dengan mengampuni dosa Nabi Adam.

Di Padang Arafah inilah nanti dua sampai tiga juta lebih calon haji mengukuhkan dirinya dalam doa sejak siang hari sampai menjelang magrib. Mereka beristighfar, bertasbih, bertakbir dan bertahmid menggagungkan Asma Allah.

Inilah sebuah proses dimana seorang insan yang berpakaian umrah menyambungkan dirinya, berdoa kepada Allah dengan sepenuh hati, memantapkan janjinya untuk hidup semata karena Allah, bukan untuk yang lain.

“Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”.(6:162-163)

Di Jabal Rahmah banyak jemaah berkumpul menengadahkan tangannya ke langit, memanjatkan doa, menundukkan hati agar Allah membimbingnya.

Di Jabal Ramah pula sebuah pertemuan ribuan atau mungkin lebih Nabi kita Adam dan ibu dari semua ibu, Siti Hawa, dengan mengharukan bertemu dalam satu kasih sayang, satu tekad beribadah kepada Allah Yang Maha Agung. Wallahualam’bishawab. (bersambung)

Tadarus Al Quran selama Ramadhan dapat menjadi pengalaman dimana terjadi “pertemuan-pertemuan” dengan sejumlah ayat Al Quran yang ternyata “hidup” dalam menyiram ruh ini.

Empat tulisan terdahulu, mengenai perjalanan menuju Allah yang dilukiskan dalam proses penciptaan Nabiyullah Adam sampai dengan kepastian maut akan menjemput, mengukuhkan bahwa kita semua dalam langkah-langkah menuju kematian, yang dalam doa Al Matsurat disebutkan:”hidupkanlah dengan ma’rifah-Mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu.”

Tulisan kedua merupakan proses penyadaran bahwa Allah itu Dekat, lebih dari urat leher kita, yang menggugah kesadaran bahwa segala lintasan didengar Allah.

Tulisan ketiga, saat membaca ayat Kursi terungkap bahwa Allah itu Maha Hidup. Allah merespons doa kita, menanggapi permohonan kita melalui ilham-Nya.

Tulisan keempat, merupakan renungan akan bulan monumental dalam penanggalan Islam, training sebulan mengasah ruh sehingga selama Ramadhan menjadikan diri kita pada akhirnya kembali fitrah, ruh kita menjadi sadar dengan jasmani, ruh kita diilhamkan ketaqwaan.

Dalam Al Quran bertebaran ayat-ayat yang menjelaskan Shalat, sebuah ibadat yang dianugerahkan kepada umat Nabi Muhammad ketika Miraj. Kewajiban shalat lima waktu yang nyaris kita lupakan karena sudah terlalu rutin. Rukun Islam kedua sesudah Syahadat yang sangat bermakna, syarat dengan nilai dan bisa dikatakan dalam perjalanan menuju Allah, menunggu kita masing-masing dipanggil, Shalat merupakan sebuah pelatihan pulang kepada Allah.

Shalat merupakan ibadat yang dimulai dari Takbir dan diakhiri dengan Salam dan tata caranya sudah ditentukan secara teliti oleh ayat-ayat Al Quran dan dipraktekan oleh Rasulullah.

Shalat adalah menghadap-Nya dengan tata cara dan waktu yang sudah ditentukan – meski ada beberapa keringanan dalam keadaan tertentu – namun semuanya merupakan sebuah proses gerakan dan bacaan.

Apabila gerakan fisik ini disertai dengan gerakan ruhiah maka Shalat ternyata sebuah Kekuatan yang Maha Dahsyat.

Sayyid Qutb dalam salah ungkapannya menjelaskan bahwa Shalat sebenarnya merupakan Silatun (komunikasi) dan Liqoun (pertemuan) dengan Shang Khaliq. Pendapat ini jelas terlihat dari penjelasan Al Quran mengenai Shalat.

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (2:45-46)

Sabar dapat dimaknai dengan rasa ikhlas akan takdir yang sudah ditentukan, pasrah terhadap segala rencana Allah, menerima semuanya karena Allah, menyerahkan semuanya kepada Allah, tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah.

Shalat ternyata merupakan sebuah proses yang meyakini ketika berdiri dalam shalat sedang menghadap Yang Maha Perkasa, Yang Maha Besar yang apabila dirasakan akan menimbulkan keharuan, kedamaian,kebahagiaan dan mungkin tangisan sebagai rasa syukur bahwa Allah benar-benar hadir menerima ibadat kita.

Maka doa-doa yang dibacakan dalam shalat menjadi komunikasi yang hidup, menjadi interaksi antara hamba dengan Tuhan, kita dengan Allah, sebuah komunikasi yang terjalin sehingga tumbuh kelezatan iman. Sehingga rasanya ingin setiap ucapan keluar dari qalbu, diresapi maknanya dan berhenti, tumaninah untuk merasakan getaran-getaran Ilahi berupa ilham, berupa janji Allah memberikan ketenangan, kesejukan, tambahan iman dan menunggu respons yang datang.

Sehingga rasanya ketika shalat-shalat wajib terutama ditunaikan tidak lagi secepat kilat untuk menggugurkan kewajiban, tidak pula hanya bacaan dan gerakan namun seluruh jasmani dan ruhani ikut dalam Shalat ini. Karena yakin bahwa Shalat adalah “pertemuan” dengan Allah.

Barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(29:5)

Rasanya shalat ini ingin lebih lama karena merasakan nikmat dan kebahagiaan tak terkira bertemu dan berinteraksi dengan Sang Maha Pencipta, Sang Maha Pemberi Rizki, Sang Maha Suci dan Maha Kasih Sayang. Inilah yang kemudian digambarkan dalam ayat-ayat Al Quran seperti Surat Maryam ayat 58.

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israel, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (19:58).

Shalat menjadi proses bukan menumpahkan semua keluh kesah namun sebuah ibadah yang membahagiakan dan apabila kemudian ayat-ayat itu membuatnya menangis, sungguh karunia yang sangat besar karena sesungguhnya getaran yang dirasakan itu merupakan sebuah nikmat dari Allah SWT. Ayat-ayat yang dibaca itu menjadi sebuah sarana komunikasi yang menghujam qalbu tidak hanya sampai lidah, menjadi penambah keimanan.

Apabila merasakan Shalat seperti itu maka waktu tidak menjadi sebuah hambatan, waktu terasa sangat cepat berlalu, rasanya ingin sekali berdiri, ruku, sujud dan bersimpuh duduk diantara dua sujud bermunajat, bertasbih, bertakbir, berdoa yang dilafalkan dengan seluruh jiwa, menyertakan jasmani dan ruhani, maka terasa sekali empat rakaat itu sangat nikmat.

Inilah yang disebut dalam Al Anfal bahwa ayat demi ayat yang didengar dan dibaca dalam Shalat dari hari ke hari semakin menambah Iman kepada Allah, Iman kepada semua rukun iman termasuk Iman kepada Qadha dan Qadar.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (8:3-4)

Gerakan dan bacaan mungkin beda, namun ruhiah yang ikut dalam shalat akan merasakan sekali bagaimana merespon bacaan dan doa yang dipanjatkan.

Kondisi Ruhiah inilah yang bisa membuat waktu tidak terasa, shalat empat rakaat bahkan sampai berlangsung lama bukanlah hal yang aneh. Lezatnya iman telah menyebabkan shalat tumaninah ini merupakan anugerah yang apabila tidak dirasakan dalam kehidupan ini sungguh sangat disayangkan, apabila salah satu nikmat Allah ini berupa lima kali shalat ini adalah sebuah ibadat yang Dahsyat dan Luar Biasa Pengaruhnya dalam perjalan menuju Allah.

Maka tatkala ruh kita dipanggil pulang, maka “latihan-latihan” dalam shalat ini akan menghantarkan dia dalam kebahagiaan. Dengan mengenal asma dan sifat-sifat Allah maka semakin akrab dan dekat dengan Allah, semakin shalat itu menjadi lebih bermakna. Maka mereka yang sudah melalui proses Shalat ini akan terhindar dari kemunkaran karena memang kedekatan dengan Allah yang akan mencegahnya.

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (29:45)

Seorang yang Shalat secara komprehensif sadar akan hasil Shalat. Ada hubungan antara pertemuan-pertemuan dan komunikasi dengan Allah dengan langkah-langkah sesudah Shalat. Bahkan rasanya ingin sekali setelah Shalat benar-benar khusyu bersimpuh duduk, berdzikir melanjutkan lezatnya berkomunikasi dengan Sang Pencipta.

Dan bagi mereka yang melakukan ibadat ini secara maksimal maka Allah menjanjikan sebuah kesuksesan.Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya,(23:1-2).

Rasulullah SAW yang menekankan betapa pentingnya Shalat wajib ini ditunaikan dengan paripurna. Hadits dari Imam Tabrani dengan sanad yang baik dari Abd Ibn Qurd dengan kalimat; Amal seorang hamba yang pertama yang dihisab (dihitung amalnya oleh Allah) adalah Shalat, Allah melihat shalat seorang hamba, apabila shalatnya baik, maka baiklah amal-amal yang lain, apabila shalatnya tidak baik/cela, maka tidak baiklah amal yang lainnya.

Karena Shalat ini adalah dzikir yang utama maka sangat diprioritaskan untuk merasakan bagaimana komunikasi dengan Allah yang Maha Hidup ini terjalin.

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (20:14)

Dan rasa tersambung dengan Allah ini Insya Allah ingin penulis lanjutkan dalam seri selanjutnya. Wallahu’alam bishawab.

Allah itu Maha Hidup
Menlanjutkan tulisan mengenai hikmah berinteraksi dengan Al Quran selama Ramadhan, terasa mendapatkan pencerahan sangat besar. Saat mengetahui bagaimana perjalanan kepadaNya dan saat mengetahui karena Allah yang mengajarkan kita bahwa Allah itu dekat.Tidak hanya itu ternyata Allah itu Maha Hidup, Allah itu Hidup.
Selama ini dalam kesadaran sepertinya kita merasa Allah itu adalah Rabb, Yang Memelihara tetapi kadang tidak terasakan Allah itu Hidup.
Setiap pagi atau sore kita baca dalam Al Matsuraat – dimulai dengan Al Fatihah dan diakhiri Doa Rabithah – yang kalau direnungkan ternyata sangat luas maknanya, sangat tergetar kedalam kalbu mendapatkan kesadaran dan pengetahuan yang hakiki bahwa Allah itu Hidup. Allah itu berinteraksi dengan mahluknya.
Kalau merenungkan lagi isi Al Matsuraat, menengok kembali arti yang kita baca,  maka secara logika adalah mustahil terjadi proses yang terhambat dalam menuju Allah, proses yang seperti “sulit” dalam menyatukan langkah ini, mustahil dengan doa-doa yang tulus dan ikhlas ini, hati tidak bersatu. Coba kita tengok lagi betapa semuanya merupakan sebuah permohonan agar ketika kembali kepada-Nya kita dijauhkan dari perbuatan yang malah menjauhkan diri dalam mendekati-Nya.
Karena Allah Maha Hidup maka doa demi doa untuk menyatukan kalbu ini bisa kita rasakan responsnya dari Allah, kecuali memang doa itu dibacakan tidak dengan sepenuh jiwa, hanya sampai lidah saja, hanya sampai bacaan saja, tidak menghujam kedalam doa itu sendiri yang disampaikan dengan rasa khusyu, rasa rendah hati, rasa harap, rasa pasrah dan rasa menantikan respons Allah atas doa yang kita panjatkan. Doa Al Matsurat adalah sebuah interaksi dengan Allah.
Bahkan dalam shalat-shalat itu, sebuah ibadah yang sudah ditentukan tata cara dan waktunya, langsung diberikan Allah kepada Rasulullah ketika Mi’raj merupakan sebuah wahana interaksi yang intim dengan Allah, sebuah ibadah yang mengukuhkan dimana doa-doa kita dipanjatkan dan gerakan-gerakan kita dijadikan sebagai bagian dari proses menuju pencapaian kepada Nya.
Dalam satu istilah Shalat itu sebagai sebuah latihan untuk pulang kepada Nya, dimana Ruh ini akan dipanggil pulang. Sedangkan bulan Ramadhan adalah pelatihan besar untuk merasakan bagaimana Ruh ini akan pulang tidak tergantung kepada jasad, bagaimana kesadaran akan pulang kepada Nya itu menjadikan diri ini berada dalam Taqwa, kondisi terbimbing Allah, kondisi tersambung terus kepada Allah, seperti halnya gelombang telepon seluler kita yang ingin selalu tersambung, manakala terputus terasa sekali kekosongan.
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (2:255)
Allah mendengarkan semua doa kita. Allah mengetahui semua desiran hati kita, bahkan Allah tahu keluhan kita, kekesalan dan kesedihan kita. Allah Mendengar semua itu karena Allah itu HIDUP !
Bahkan Allah berinteraksi dengan mahluknya, memelihara semua apa yang ada di alam semesta, Allah yang menggerakkan semuanya. Galaksi Bima Sakti dimana ada Sistem Tata Surya, Allah lah yang menggerakkan dan memeliharanya. Milyaran bintang, galaksi yang jutaan tahun cahaya luasnya serta semua alam semesta yang masih belum diketahui manusia ujungnya dan luasnya, semua Allah yang menciptakan dan memeliharanya.
Allah tidak tidur, Allah tidak mengantuk. Allah senantiasa bersama kita dimanapun kita berada, ketika sendiri, ketika bersama, ketika kelelahan dan mengantuk karena tadarus, ketika membaca Al Matsurat, ketika berpuasa, ketika shalat, ketika shalat dhuha, ketika bersilaturahmi dan ketika mengikuti halaqah, mengikuti semua langkah dan desiran hati kita.
Sungguh luar biasa ! Bahwa Allah itu Maha Hidup dan terus menerus memelihara kita. Mungkin kita mengatakan, aneh sekali baru tahu bahwa Allah Hidup itu khan sudah menjadi pengetahuan dan materi dasar tarbiyah. Bukan-bukan itu sebenarnya, namun ketika Allah memberikan pengetahuan langsung kepada Kalbu ini maka seperti dalam beberapa ayat Al Quran, kita ini menjadi hidup, ruh kita seperti dinyalakan yang dalam bahasa Al Quran diberikan Nur Allah sehingga semakin jelas kemana arah perjalanan diri, arah perjalanan organisasi seharusnya dan arah dari kehidupan manusia ini.
Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (2:257)
Seperti halnya sesuatu yang hidup maka akan berinteraksi dengan yang hidup. Kita manusia adalah mahluk hidup, Allah adalah Zat Yang Hidup, maka nalar kita akan mengatakan bahwa sebenarnya membaca ayat-ayat Qauliyah itu tidak lain adalah berinteraksi dengan Yang Hidup, maka akan kita rasakan pula interaksi itu, maka akan dirasakan respons dari Zat Hidup ketika membacakan baris-baris kalimat dalam Al Quran, termasuk didalamnya sejarah, penjelasan tentang hukum-hukum, keterangan tentang akhirat dan tentang Allah sendiri tatkala doa demi doa dalam baris-baris kalimat yang teruntai dalam Al Quran kita bacakan. Seperti dalam Ali Imran 190-194.
190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
192. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.
193. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.
194. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.”
Maka ketika membacakan ini teringat bagaimana Rasulullah meneteskan air mata karena betapa dahsyatnya dirasakan oleh Kalbu orang beriman untaian ayat-ayat yang sering kita dengar atau kita baca ini. Betapa permohonan kita kepada Zat Yang Hidup ini terasa sekali indahnya, terasa bahwa Allah mendengarkan rangkaian doa-doa yang dipanjatkan dalam bacaaan Al Quran, apalagi jika disampaikan dalam shalat, terasa sekali menggugah, membangkitkan ruh dan seperti didalam kalimat terakhir doa itu “Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji”.
Yakin bahwa itu MAHA HIDUP maka hati ini menjadi hidup, tidak khawatir akan masa depan karena Allah yang akan memelihara kita, tidak cemas dengan langkah-langkah dakwah, langkah-langkah tugas di pekerjaan karena Allah Maha Hidup, yang akan menjaga kita. Semua dipasrahkan kepada Allah.
Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (64:11)
Allah yang mengatur semua urusan di alam semesta ini sampai detil-detil. Perjalanan hidup kita sampai detik ini ketika membaca tulisan ini merupakan sesuatu yang sudah ditentukan Allah, ketika ketika membaca, ketika mempersepsikan, menilai, menafsirkan apa saja tulisan ini semuanya atas izin Allah. Bahkan menyempatkan membaca juga merupakan sesuatu yang karena izin Allah. Termasuk juga penulis menggerakan tuts keyboard sebagai bagian dari doa-doa dalam perjalanan kepada Allah, Dia
Yang Maha Hidup yang menggerakkan. Sungguh sebuah kondisi yang semuanya memang sangat bergantung kepada Allah.
Kadang kita menggantungkan diri kepada akal, otak, usaha dan kepandaian sendiri. Dengan berbagai planning yang detil, perhitugan yang matang, rasa percaya diri yang kuat namun Allah lah yang semuanya mengatur. Allah yang memberikan putusan akhir.
Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (3:159)
Jadi kalau ada seorang ilmuwan terkenal dari Inggris, Stephen Hawking yang mengatakan setelah riset bertahun-tahun, tidak ada campur tangan Tuhan dalam penciptaan alam semesta, tetapi konsekuensi hukum fisika, sungguh sebuah temuan yang sangat mundur yang jauh dari pendapat ilmuwan sebelumnya.
Dengan tadarus itu maka semakin terbuka bagaimana sifat-sifat Allah lainnya. Allah Maha Hidup, itulah yang menyebabkan selalu ingin dekat kepada Nya, selalu itu yang dibicarakan dalam setiap pertemuan, dalam perbincangan di pengajian karena kepada Allah kita akan pulang.
Sungguh sebuah jamaah yang indah dimana doa-doa dipanjatkan, doa-doa didengarkan Allah maka terasa sekali sebuah keharmonisan dengan kehendak-Nya dalam peribadahan kita, dalam tadarus kita karena semuanya tidak lain bukan untuk menuliskan berapa poin kita dapat, tetapi mendapatkan anugerah Hudan dari Allah, karena Allah lah yang mengetahui diri-diri ini.
Dalam tulisan selanjutnya, penulis seperti mendapatkan sesuatu tentang proses pembelajaran selama puasa yang menjadikan berbeda dari puasa sebelumnya. Proses shiyam yang sarat dengan bimbingan-Nya, tidak sebatas pada hitungan rasio atau sebatas jasad saja. Wallahu’alam bishawab (bersambung

Menlanjutkan tulisan mengenai hikmah berinteraksi dengan Al Quran selama Ramadhan, terasa mendapatkan pencerahan sangat besar. Saat mengetahui bagaimana perjalanan kepadaNya dan saat mengetahui karena Allah yang mengajarkan kita bahwa Allah itu dekat.Tidak hanya itu ternyata Allah itu Maha Hidup, Allah itu Hidup.

Selama ini dalam kesadaran sepertinya kita merasa Allah itu adalah Rabb, Yang Memelihara tetapi kadang tidak terasakan Allah itu Hidup.

Setiap pagi atau sore kita baca dalam Al Matsuraat – dimulai dengan Al Fatihah dan diakhiri Doa Rabithah – yang kalau direnungkan ternyata sangat luas maknanya, sangat tergetar kedalam kalbu mendapatkan kesadaran dan pengetahuan yang hakiki bahwa Allah itu Hidup. Allah itu berinteraksi dengan mahluknya.

Kalau merenungkan lagi isi Al Matsuraat, menengok kembali arti yang kita baca,  maka secara logika adalah mustahil terjadi proses yang terhambat dalam menuju Allah, proses yang seperti “sulit” dalam menyatukan langkah ini, mustahil dengan doa-doa yang tulus dan ikhlas ini, hati tidak bersatu. Coba kita tengok lagi betapa semuanya merupakan sebuah permohonan agar ketika kembali kepada-Nya kita dijauhkan dari perbuatan yang malah menjauhkan diri dalam mendekati-Nya.

Karena Allah Maha Hidup maka doa demi doa untuk menyatukan kalbu ini bisa kita rasakan responsnya dari Allah, kecuali memang doa itu dibacakan tidak dengan sepenuh jiwa, hanya sampai lidah saja, hanya sampai bacaan saja, tidak menghujam kedalam doa itu sendiri yang disampaikan dengan rasa khusyu, rasa rendah hati, rasa harap, rasa pasrah dan rasa menantikan respons Allah atas doa yang kita panjatkan. Doa Al Matsurat adalah sebuah interaksi dengan Allah.

Bahkan dalam shalat-shalat itu, sebuah ibadah yang sudah ditentukan tata cara dan waktunya, langsung diberikan Allah kepada Rasulullah ketika Mi’raj merupakan sebuah wahana interaksi yang intim dengan Allah, sebuah ibadah yang mengukuhkan dimana doa-doa kita dipanjatkan dan gerakan-gerakan kita dijadikan sebagai bagian dari proses menuju pencapaian kepada Nya.

Dalam satu istilah Shalat itu sebagai sebuah latihan untuk pulang kepada Nya, dimana Ruh ini akan dipanggil pulang. Sedangkan bulan Ramadhan adalah pelatihan besar untuk merasakan bagaimana Ruh ini akan pulang tidak tergantung kepada jasad, bagaimana kesadaran akan pulang kepada Nya itu menjadikan diri ini berada dalam Taqwa, kondisi terbimbing Allah, kondisi tersambung terus kepada Allah, seperti halnya gelombang telepon seluler kita yang ingin selalu tersambung, manakala terputus terasa sekali kekosongan.

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (2:255)

Allah mendengarkan semua doa kita. Allah mengetahui semua desiran hati kita, bahkan Allah tahu keluhan kita, kekesalan dan kesedihan kita. Allah Mendengar semua itu karena Allah itu HIDUP !

Bahkan Allah berinteraksi dengan mahluknya, memelihara semua apa yang ada di alam semesta, Allah yang menggerakkan semuanya. Galaksi Bima Sakti dimana ada Sistem Tata Surya, Allah lah yang menggerakkan dan memeliharanya. Milyaran bintang, galaksi yang jutaan tahun cahaya luasnya serta semua alam semesta yang masih belum diketahui manusia ujungnya dan luasnya, semua Allah yang menciptakan dan memeliharanya.

Allah tidak tidur, Allah tidak mengantuk. Allah senantiasa bersama kita dimanapun kita berada, ketika sendiri, ketika bersama, ketika kelelahan dan mengantuk karena tadarus, ketika membaca Al Matsurat, ketika berpuasa, ketika shalat, ketika shalat dhuha, ketika bersilaturahmi dan ketika mengikuti halaqah, mengikuti semua langkah dan desiran hati kita.

Sungguh luar biasa ! Bahwa Allah itu Maha Hidup dan terus menerus memelihara kita. Mungkin kita mengatakan, aneh sekali baru tahu bahwa Allah Hidup itu khan sudah menjadi pengetahuan dan materi dasar tarbiyah. Bukan-bukan itu sebenarnya, namun ketika Allah memberikan pengetahuan langsung kepada Kalbu ini maka seperti dalam beberapa ayat Al Quran, kita ini menjadi hidup, ruh kita seperti dinyalakan yang dalam bahasa Al Quran diberikan Nur Allah sehingga semakin jelas kemana arah perjalanan diri, arah perjalanan organisasi seharusnya dan arah dari kehidupan manusia ini.

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (2:257)

Seperti halnya sesuatu yang hidup maka akan berinteraksi dengan yang hidup. Kita manusia adalah mahluk hidup, Allah adalah Zat Yang Hidup, maka nalar kita akan mengatakan bahwa sebenarnya membaca ayat-ayat Qauliyah itu tidak lain adalah berinteraksi dengan Yang Hidup, maka akan kita rasakan pula interaksi itu, maka akan dirasakan respons dari Zat Hidup ketika membacakan baris-baris kalimat dalam Al Quran, termasuk didalamnya sejarah, penjelasan tentang hukum-hukum, keterangan tentang akhirat dan tentang Allah sendiri tatkala doa demi doa dalam baris-baris kalimat yang teruntai dalam Al Quran kita bacakan. Seperti dalam Ali Imran 190-194.

190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

192. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.

193. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.

194. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.”

Maka ketika membacakan ini teringat bagaimana Rasulullah meneteskan air mata karena betapa dahsyatnya dirasakan oleh Kalbu orang beriman untaian ayat-ayat yang sering kita dengar atau kita baca ini. Betapa permohonan kita kepada Zat Yang Hidup ini terasa sekali indahnya, terasa bahwa Allah mendengarkan rangkaian doa-doa yang dipanjatkan dalam bacaaan Al Quran, apalagi jika disampaikan dalam shalat, terasa sekali menggugah, membangkitkan ruh dan seperti didalam kalimat terakhir doa itu “Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji”.

Yakin bahwa itu MAHA HIDUP maka hati ini menjadi hidup, tidak khawatir akan masa depan karena Allah yang akan memelihara kita, tidak cemas dengan langkah-langkah dakwah, langkah-langkah tugas di pekerjaan karena Allah Maha Hidup, yang akan menjaga kita. Semua dipasrahkan kepada Allah.

Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (64:11)

Allah yang mengatur semua urusan di alam semesta ini sampai detil-detil. Perjalanan hidup kita sampai detik ini ketika membaca tulisan ini merupakan sesuatu yang sudah ditentukan Allah, ketika ketika membaca, ketika mempersepsikan, menilai, menafsirkan apa saja tulisan ini semuanya atas izin Allah. Bahkan menyempatkan membaca juga merupakan sesuatu yang karena izin Allah. Termasuk juga penulis menggerakan tuts keyboard sebagai bagian dari doa-doa dalam perjalanan kepada Allah, Dia

Yang Maha Hidup yang menggerakkan. Sungguh sebuah kondisi yang semuanya memang sangat bergantung kepada Allah.

Kadang kita menggantungkan diri kepada akal, otak, usaha dan kepandaian sendiri. Dengan berbagai planning yang detil, perhitugan yang matang, rasa percaya diri yang kuat namun Allah lah yang semuanya mengatur. Allah yang memberikan putusan akhir.

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (3:159)

Jadi kalau ada seorang ilmuwan terkenal dari Inggris, Stephen Hawking yang mengatakan setelah riset bertahun-tahun, tidak ada campur tangan Tuhan dalam penciptaan alam semesta, tetapi konsekuensi hukum fisika, sungguh sebuah temuan yang sangat mundur yang jauh dari pendapat ilmuwan sebelumnya.

Dengan tadarus itu maka semakin terbuka bagaimana sifat-sifat Allah lainnya. Allah Maha Hidup, itulah yang menyebabkan selalu ingin dekat kepada Nya, selalu itu yang dibicarakan dalam setiap pertemuan, dalam perbincangan di pengajian karena kepada Allah kita akan pulang.

Sungguh umat yang indah dimana doa-doa dipanjatkan, doa-doa didengarkan Allah maka terasa sekali sebuah keharmonisan dengan kehendak-Nya dalam peribadahan kita, dalam tadarus kita karena semuanya tidak lain mengharap Ridha Allah.

Dalam tulisan selanjutnya, penulis seperti mendapatkan sesuatu tentang proses pembelajaran selama puasa yang menjadikan berbeda dari puasa sebelumnya. Proses shiyam yang sarat dengan bimbingan-Nya, tidak sebatas pada hitungan rasio atau sebatas jasad saja. Wallahu’alam bishawab (bersambung)

Aug 10

Allah itu dekat

5 comments - Post a comment

Allah itu Dekat
Dalam tadarus Al Quran itu terungkap bahwa perjalanan kepada Nya dari sejak kita di alam ruh sampai alam rahim kemudian alam dunia dan lalu alam barzah serta alam akhirat sudah dijelaskan dengan gamblang.
Tinggal kita diberi kekuatan menangkap gelombang dan pancaran firman Ilahi ini melalui hati yang ikhlas, pasrah dan semata-mata karena Allah. Tatkala ada desiran hati yang bukan karena Allah maka sulit sekali kita menangkap makna-makna itu karena akan menjadi hijab dalam diri kita. Inilah yang juga dirasakan penulis yang kadang-kadang ayat-ayat itu melewati telinga atau dibacakan tetapi tidak nyangkut.
Namun begitu hati ini dibukakan Allah, maka getaran Al Quran itu dirasakan sebagai sebuah kesejukan yang meresap kedalam hati dan selalu berdoa agar serapan-serapan ke Qalbu yang langsung dianugerahkan Allah itu tidak hilang, tidak lewat begitu saja.
Tatkala ada sedikit saja rasa kesombongan karena pangkat, ilmu, usia, keturunan atau apa saja yang selain Allah maka hati yang ikhlas ini hanya semata-mata kepada Allah akan tertahan. Gelombang firman Allah melalui Al Quran akan tertahan dalam
lidah saja, dalam otak saja tidak sampai kepada qalbu, tidak sampai menghujam ruh kita. Ruh kita akan menjadi kering kalau tadarus Al Quran itu dihitung dalam jumlah halaman saja.
Saat kita terlena karena hanya tadarus saja, maka yang ada adalah kelelahan dan rasa kantuk. Tidak ada rasa Iman yang ditambahkan oleh Nya kepada diri kita. Tidak ada pengetahuan-pengetahuan baru mengenai makna-makna Al Quran yang Allah tambahkan dan Allah ilhamkan kepada ruhani kita. Allah sendiri mengatakan bahwa rasa taqwa yang dikejar dalam dan menjadi target Puasa di ilhamkan langsung kepada kita oleh Allah.
Tatkala kita baca surat Asy Syams maka tertera firmanNya yang Agung
Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya (91:8)
Taqwa, sebuah kondisi dalam bimbingannya setiap saat merupakan sasaran puasa selama satu bulan Ramadhan, sebuah pelatihan untuk menyadarkan akan kembali kepada-Nya, sebuah proses dimana kita akan merasakan bahwa ruh dan jasad sebuah entitas terpisah tapi berada dalam diri kita.
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (2:183)
Rasa lapar dan haus yang ditahan selama setengah hari itu tidak lain untuk mengidentifikasi diri sejati, mengenali ruh yang akan kembali Kepada Nya. Maka keberhasilan puasa akan terlihat ketika kita merasakan ruh kita dalam diri ini, merasakan jasad yang akan tertelan bumi dan menyadari bagaimana ruh inilah yang akan kembali kepadaNya dan ruh inilah yang ada dalam diri yang ditiupkan kepada kita.
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (15:28-29)
Maka kesadaran inilah yang kemudian muncul saat puasa Ramadhan, maka rasa bersama Allah inilah yang lahir sehabis bulan Ramadhan.
Ruh yang ditiupkan inilah yang akan kembali kepada Allah. Sedangkan jasad akan ditinggalkan di bumi membusuk.Tidak heran kalau Hassan Al Banna mengatakan dalam Risalah Pergerakan bahwa kebangkitan Islam dimulai dari kebangkitan Ruhiah, karena inilah yang menjadi motor kemajuan Islam dan kepada Ruh inilah Allah melimpahkan dan mengilhamkan ketaqwaan. Kekuatan ruhiah ini juga yang menyatukan langkah dalam organisasi, dalam dakwah dan dalam mengarungi perjalanan menuju Allah, jalan yang dilalui para Nabi, para Rasul, Shalihin, Auliya dan para Syuhada.
Lalu dimana Allah tempat kita berpulang? Allah sudah mengatakan sesudah ayat tentang puasa bahwa Allah itu dekat.
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (2:186)
Allah itu dekat, Allah itu dekat. Bagi yang paham bahasa Arab maka akan sangat dan sangat mendalam makna ini dalam bahasa Arab. Maka dari membaca ayat ini tergambar bahwa memang Allah itu dekat, sehingga
ketika berzdikir atau shalat seharusnya tidak harus kening mengkerut untuk konsentrasi mengingat Allah, sebab Allah dekat.
Allah sudah dekat bersama kita, hanya kita kadang merasakannya jauh. Dengan mengetahui bahwa Allah dekat maka desiran hati,
lintasan hati, untaian doa akan langsung di dengar Allah. Allah Maha Halus. Allah Maha Mendengar.
Bahkan tidak hanya dekat dalam arti dekat seperti pengalaman ketika membaca Al Baqarah 2:186, bahkan Allah mengatakan lebih dekat dari urat leher.
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya (50:16)
Sebuah ayat yang sangat jelas, menekankan bahwa Allah itu begitu dekatnya sehingga dikatakan lebih dekat dari urat leher kita. Kita bisa bayangkan apa yang lebih dekat lagi dari urat leher. Ayat ini secara jelas gamblang memang begitu dekatnya dengan kita sehingga secara simbolis dan secara nyata dikatakan Allah lebih dekat daripada urat leher kita.
Dan Allah mengetahui bisikan hati kita. Sungguh sebuah pernyataan yang membahagiakan karena keinginan kita dengan tadarus Al Quran tidak lain adalah sebuah statement bahwa kita ingin dekat dengan Allah. Allah sendiri sudah dekat, maka kita lah yang meneguhkan diri bahwa Allah dekat.
Kita kadang merasa Allah itu jauh. Allah itu tidak terjangkau. Allah seperti dikatakan sebagian orang bisa terhubung melalui orang-orang suci.Atau dikatakan kalau kita banyak dosa, hubungan dengan Allah terputus atau sulit. Kita kadang berpendapat, tidak memiliki akses kepada Allah karena Allah jauh. Kita kadang merasa bahwa Allah dimana kita akan kembali jauh, padahal sudah jelas Allah itu dekat.
Begitu Allah menyadarkan akan diri ini betapa dekat, maka yang ada adalah keakraban, keinginan senantiasa dekat karena Allah Maha Agung, Maha Perkasa, Maha Kaya, Maha Mengetahui dan segala atribut kebesarannya.
Tidak heran kalau ada orang yang begitu didengarkan nama Allah, maka hatinya bisa tertambat, bisa tersambung bahkan bisa meneteskan air mata kebahagiaan karena seruannya disambut Allah. Inilah proses yang bisa dialami ketika membaca ayat demi ayat selama Ramadhan ini.
Allah itu dekat mengingatkan kembali akan materi materi Ma’rifatullah, sebuah rangkaian pengetahuan yang sudah banyak kita ketahui namun kadang tidak kita rasakan. Pengetahuan yang hanya tersangkut di otak tetapi tidak sampai kepada qalbu. Maka sering kali ilmu itu lari karena tidak Allah tambatkan kepada qalbu kita. Seringkali ketika berdiskusi lupa bahwa Allah tahu apa yang kita fikirkan, kita sembunyikan, kita tuliskan kita ucapkan. Allah akan menyambungkan hati-hati ini kalau ada kesamaan gelombang untuk menuju kepada Nya.
Membaca kembali surat Al Baqarah ayat 186, Allah tidak hanya dekat kepada kita, bahkan Allah menjawab doa doa kita.
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (2:186)Allah menjawab, Allah Maha Mendengar.
Jadi meski kita dalam perjalanan menemui-Nya ternyata Allah sudah mengatakan dekat. Meski kita sedang dalam menuju Ridha-Nya, Allah itu sangat dekat dengan keseharian kita.
Beberapa ayat dan keterangan ayat-ayat lain menguatkan Iman kepada Allah bahwa Allah itu Maha Halus, Maha Dekat dengan diri kita masing-masing.
Dalam tulisan selanjutnya ternyata adanya kondisi dimana Allah dekat, tempat dimana kita akan kembali, Allah juga Maha Hidup, Allah berinteraksi dengan kita setiap detik dalam hidup ini, Allah bahkan sebagai Rabb memelihara kita, aliran darah, nafas dan detak jantung semua SANGAT BERGANTUNG KEPADA ALLAH.
Kadang ketika berdoa seperti one way, padahal sebenarnya karena Allah Maha Hidup, maka akan dirasakan respons langsung, menembus kalbu, menggetarkan ruh kita yang begitu dirasakan respons itu yang ada hanyalah kebahagiaan, keinginan senantiasa bersama-Nya. Wallahu’alam bishawab (bersambung)

Dalam tadarus Al Quran itu terungkap bahwa perjalanan kepada Nya dari sejak kita di alam ruh sampai alam rahim kemudian alam dunia dan lalu alam barzah serta alam akhirat sudah dijelaskan dengan gamblang.

Tinggal kita diberi kekuatan menangkap gelombang dan pancaran firman Ilahi ini melalui hati yang ikhlas, pasrah dan semata-mata karena Allah. Tatkala ada desiran hati yang bukan karena Allah maka sulit sekali kita menangkap makna-makna itu karena akan menjadi hijab dalam diri kita. Inilah yang juga dirasakan penulis yang kadang-kadang ayat-ayat itu melewati telinga atau dibacakan tetapi tidak nyangkut.

Namun begitu hati ini dibukakan Allah, maka getaran Al Quran itu dirasakan sebagai sebuah kesejukan yang meresap kedalam hati dan selalu berdoa agar serapan-serapan ke Qalbu yang langsung dianugerahkan Allah itu tidak hilang, tidak lewat begitu saja.

Tatkala ada sedikit saja rasa kesombongan karena pangkat, ilmu, usia, keturunan atau apa saja yang selain Allah maka hati yang ikhlas ini hanya semata-mata kepada Allah akan tertahan. Gelombang firman Allah melalui Al Quran akan tertahan dalam

lidah saja, dalam otak saja tidak sampai kepada qalbu, tidak sampai menghujam ruh kita. Ruh kita akan menjadi kering kalau tadarus Al Quran itu dihitung dalam jumlah halaman saja.

Saat kita terlena karena hanya tadarus saja, maka yang ada adalah kelelahan dan rasa kantuk. Tidak ada rasa Iman yang ditambahkan oleh Nya kepada diri kita. Tidak ada pengetahuan-pengetahuan baru mengenai makna-makna Al Quran yang Allah tambahkan dan Allah ilhamkan kepada ruhani kita. Allah sendiri mengatakan bahwa rasa taqwa yang dikejar dalam dan menjadi target Puasa di ilhamkan langsung kepada kita oleh Allah.

Tatkala kita baca surat Asy Syams maka tertera firmanNya yang Agung

Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya (91:8)

Taqwa, sebuah kondisi dalam bimbingannya setiap saat merupakan sasaran puasa selama satu bulan Ramadhan, sebuah pelatihan untuk menyadarkan akan kembali kepada-Nya, sebuah proses dimana kita akan merasakan bahwa ruh dan jasad sebuah entitas terpisah tapi berada dalam diri kita.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (2:183)

Rasa lapar dan haus yang ditahan selama setengah hari itu tidak lain untuk mengidentifikasi diri sejati, mengenali ruh yang akan kembali Kepada Nya. Maka keberhasilan puasa akan terlihat ketika kita merasakan ruh kita dalam diri ini, merasakan jasad yang akan tertelan bumi dan menyadari bagaimana ruh inilah yang akan kembali kepadaNya dan ruh inilah yang ada dalam diri yang ditiupkan kepada kita.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (15:28-29)

Maka kesadaran inilah yang kemudian muncul saat puasa Ramadhan, maka rasa bersama Allah inilah yang lahir sehabis bulan Ramadhan.

Ruh yang ditiupkan inilah yang akan kembali kepada Allah. Sedangkan jasad akan ditinggalkan di bumi membusuk.Tidak heran kalau Hassan Al Banna mengatakan dalam Risalah Pergerakan bahwa kebangkitan Islam dimulai dari kebangkitan Ruhiah, karena inilah yang menjadi motor kemajuan Islam dan kepada Ruh inilah Allah melimpahkan dan mengilhamkan ketaqwaan. Kekuatan ruhiah ini juga yang menyatukan langkah dalam organisasi, dalam dakwah dan dalam mengarungi perjalanan menuju Allah, jalan yang dilalui para Nabi, para Rasul, Shalihin, Auliya dan para Syuhada.

Lalu dimana Allah tempat kita berpulang? Allah sudah mengatakan sesudah ayat tentang puasa bahwa Allah itu dekat.

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (2:186)

Allah itu dekat, Allah itu dekat. Bagi yang paham bahasa Arab maka akan sangat dan sangat mendalam makna ini dalam bahasa Arab. Maka dari membaca ayat ini tergambar bahwa memang Allah itu dekat, sehingga

ketika berzdikir atau shalat seharusnya tidak harus kening mengkerut untuk konsentrasi mengingat Allah, sebab Allah dekat.

Allah sudah dekat bersama kita, hanya kita kadang merasakannya jauh. Dengan mengetahui bahwa Allah dekat maka desiran hati,

lintasan hati, untaian doa akan langsung di dengar Allah. Allah Maha Halus. Allah Maha Mendengar.

Bahkan tidak hanya dekat dalam arti dekat seperti pengalaman ketika membaca Al Baqarah 2:186, bahkan Allah mengatakan lebih dekat dari urat leher.

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya (50:16)

Sebuah ayat yang sangat jelas, menekankan bahwa Allah itu begitu dekatnya sehingga dikatakan lebih dekat dari urat leher kita. Kita bisa bayangkan apa yang lebih dekat lagi dari urat leher. Ayat ini secara jelas gamblang memang begitu dekatnya dengan kita sehingga secara simbolis dan secara nyata dikatakan Allah lebih dekat daripada urat leher kita.

Dan Allah mengetahui bisikan hati kita. Sungguh sebuah pernyataan yang membahagiakan karena keinginan kita dengan tadarus Al Quran tidak lain adalah sebuah statement bahwa kita ingin dekat dengan Allah. Allah sendiri sudah dekat, maka kita lah yang meneguhkan diri bahwa Allah dekat.

Kita kadang merasa Allah itu jauh. Allah itu tidak terjangkau. Allah seperti dikatakan sebagian orang bisa terhubung melalui orang-orang suci.Atau dikatakan kalau kita banyak dosa, hubungan dengan Allah terputus atau sulit. Kita kadang berpendapat, tidak memiliki akses kepada Allah karena Allah jauh. Kita kadang merasa bahwa Allah dimana kita akan kembali jauh, padahal sudah jelas Allah itu dekat.

Begitu Allah menyadarkan akan diri ini betapa dekat, maka yang ada adalah keakraban, keinginan senantiasa dekat karena Allah Maha Agung, Maha Perkasa, Maha Kaya, Maha Mengetahui dan segala atribut kebesarannya.

Tidak heran kalau ada orang yang begitu didengarkan nama Allah, maka hatinya bisa tertambat, bisa tersambung bahkan bisa meneteskan air mata kebahagiaan karena seruannya disambut Allah. Inilah proses yang bisa dialami ketika membaca ayat demi ayat selama Ramadhan ini.

Allah itu dekat mengingatkan kembali akan materi materi Ma’rifatullah, sebuah rangkaian pengetahuan yang sudah banyak kita ketahui namun kadang tidak kita rasakan. Pengetahuan yang hanya tersangkut di otak tetapi tidak sampai kepada qalbu. Maka sering kali ilmu itu lari karena tidak Allah tambatkan kepada qalbu kita. Seringkali ketika berdiskusi lupa bahwa Allah tahu apa yang kita fikirkan, kita sembunyikan, kita tuliskan kita ucapkan. Allah akan menyambungkan hati-hati ini kalau ada kesamaan gelombang untuk menuju kepada Nya.

Membaca kembali surat Al Baqarah ayat 186, Allah tidak hanya dekat kepada kita, bahkan Allah menjawab doa doa kita.

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (2:186)Allah menjawab, Allah Maha Mendengar.

Jadi meski kita dalam perjalanan menemui-Nya ternyata Allah sudah mengatakan dekat. Meski kita sedang dalam menuju Ridha-Nya, Allah itu sangat dekat dengan keseharian kita.

Beberapa ayat dan keterangan ayat-ayat lain menguatkan Iman kepada Allah bahwa Allah itu Maha Halus, Maha Dekat dengan diri kita masing-masing.

Dalam tulisan selanjutnya ternyata adanya kondisi dimana Allah dekat, tempat dimana kita akan kembali, Allah juga Maha Hidup, Allah berinteraksi dengan kita setiap detik dalam hidup ini, Allah bahkan sebagai Rabb memelihara kita, aliran darah, nafas dan detak jantung semua SANGAT BERGANTUNG KEPADA ALLAH.

Kadang ketika berdoa seperti one way, padahal sebenarnya karena Allah Maha Hidup, maka akan dirasakan respons langsung, menembus kalbu, menggetarkan ruh kita yang begitu dirasakan respons itu yang ada hanyalah kebahagiaan, keinginan senantiasa bersama-Nya. Wallahu’alam bishawab (bersambung)

Tadarus Al Quran selama Ramadhan dapat dirasakan sebagai sebuah perjalanan ruhani ini. Membaca Al Quran memang memerlukan sebuah persiapan ruhani untuk tidak sekedar membaca dengan lidah. Firman-firman Allah yang merupakan mukjizat Allah kepada Rasulullah SAW dapat dirasakan sebagai sebuah nikmat tak terhingga bagi yang membacanya, menyelaminya dan merasakan aliran nikmat itu masuk kedalam hati.

Setiap individu memiliki takaran untuk mendapatkan energi Ilahi yang terpancarkan kepada hati ini, tergantung sejauh ini hati ini pasrah dan membuka diri kepada Allah. Seperti kata “Islam” yang salah satu maknanya “surender to Allah”, maka membaca Al Quran seperti menyerahkan diri kepada Allah untuk diberi apa saja hikmah-hikmah terkandung di dalamnya.

Banyak hikmah terungkap ketika mengikuti perjalanan ayat demi ayat, surat demi surat, juz demi juz, yang semakin membulatkan bahwa Allah memang akan memberikan karunia kepada diri kita melalui rasa sambung dengan-Nya tatkala ayat-ayat itu dibacakan.
Keyakinan bahwa perjalanan hidup ini adalah tujuan dan titik akhirnya kepada Allah. Bahwa semua apa yang kita lakukan dengan bebagai tenaga dan pikiran yang kadang menyita emosi tidak lain adalah sebuah perjalanan kepada Allah. Sebuah perjalanan yang sudah ditentukan dalam Al Quran dan sudah dipastikan paa akhirnya akan menemui-Nya.

(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (2:45)

yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” (2:156)

Benar bahwa kita semua milik Allah dan akan kembali kepada Allah.

Inilah perjalanan pulang kita menuju Allah. Al Quran menjelaskan secara detil bahwa perjalanan pulang diawali dengan IMAN KEPADA ALLAH karena kita akan kembali kepadanya. Mengetahui sifat-sifatnya yang dijelaskan dalam rangkaian ayat Al Quran.

Getaran akan pulang ini dirasakan saat membaca ayat demi ayat Al Quran. Getaran itu kadang kuat, kadang menghentak dan kadang menghujam sehingga terasa ada suasana sejuk di hati, rasa ingin menangis, rasa syukur dan rasa bahagia mendapatkan sebuah “ilham” yang dipancarkan kepada kalbu oleh Sang Pencipta.

Mengapa dalam perjalanan pulang kadang kita tidak tahu kepada siapa kita pulang? Mengapa dalam perjalanan pulang itu kadang-kadang kita ribut mempesoalkan hal-hal yang tidak berkaitan dengan membawa bekal pulang? Mengapa perjalanan menuju Allah kok masih ribut antara satu orang dengan lainnya, antara satu kelompok dengan kelompok lainnya dengan mengaku lebih baik, tidak dengan kesejukan, kenyamanan, kebahagiaan karena pertemuan dengan-Nya, bagi yang meyakininya tentu akan membawa kebahagiaan. Oleh karena itu dapat dikatakan mereka yang berjuang dan berjalan menuju Allah akan saling membagi kebahagiaan.

Maka sejak awal dengan Surat Al Fatihah kita akan dirasakan tuntunan akan pulang itu bahwa Allah Maha Pemelihara Seluruh Alam – makro dan mikrokosmos. Kepada Allah kita hanya beribadah, tuntunan dalam doa setiap shalat

Tunjukilah kami jalan yang lurus (1:6)

Sebuah kepasrahan total kepada Allah agar kita senantiasa dibimbingnya, sebuah sikap yang menyerahkan semuanya kepada Allah agar senantiasa kita bergantung dan hanya bergantung kepadanya.Sikap kepasrahan, sikap ikhlas inilah yang ternyata membawa kepada ketenangan, kebahagiaan dan rasa bersama Allah.

Perjalanan kehidupan ini seperti dipaparkan dalam berbagai ayat Al Quran ternyata sebuah perjalanan tidak sederhana tetapi juga tidak rumit. Allah Ghayatuna, Allah tujuan kita bersama. Jadi kalau memang semua dalam perjalanan kepada Allah yang ada adalah kebahagiaan, rasa syukur untuk saling berbagi, yang menyambungkan Qalbu kita seperti doa dalam doa Rabithah yang dibaca pagi dan sore, sebuah permohonan dengan segala kerendahan hati agar hati kita disatukan dalam pejalanan menuju-Nya.

Maka membaca Al Quran merupakan sebuah proses ruhani sekaligus proses kemanusiaan, proses pencarian jati diri, proses peneguhan iman sehingga dengan tujuh ayat Al Fatihah dan diakhiri surat An Naas maka proses perjalanan semakin jelas, semakin indah dan semakin membahagiakan karena seperti dikatakan dalam Al Quran bahwa Allah yang menuntun kita semua untuk kembali kepada-Nya dengan syarat IMAN kepada-Nya.

Rasa IMAN inilah yang kemudian dimasukkan Allah kepada kita.

Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: “Kami telah tunduk”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (49:14)

Sebuah proses yang Allah sendiri memaparkan bahwa IMAN ini adalah karunia yang Allah berikan kepada kita.Allah yang memasukkan Iman itu kepada manusia sehingga terasa dalam dada ini iman yang semakin naik dari ke hari ke hari, atau kadang terasa semakin gersang karena kita menjauh dari Allah. Oleh karena itu membaca Al Quran dari ayat ke ayat dikatakan akan menambah iman, asalkan kita memang ikhlas membacanya. Dan dampak langsung dalam diri ini dapat diketahui hanya oleh kita sendiri yang membacanya.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, (8:2)

Ya betapa nikmatnya tadarus itu tatkala rasa iman ini Allah tambahkan kepada kita, keteguhan dan keyakinan bahwa kita akan kembali kepada-Nya dimasukkan kedalam qalbu kita sebagai landasan dalam perjalanan selanjutnya.

Inilah salah satu nikmat yang dirasakan dalam tarbiyah Ramadhan, sudah semakin jelas bahwa ayat-ayat yang dibaca ini menambah keluasan hati dalam menerima dan pasrah kepada tuntutan-Nya.

Nikmat itu memang sulit dirasakan kalau tidak ada rasa Iman kepada-Nya, anugerah berupa kesejukan, kelapangan, keteguhan itu tidak bisa didapat kecuali karena ikhlas kepada Allah. Dan anugrah ini sulit diperoleh kalau kita tidak menghadapkan diri kecuali hanya dan hanya kepada Nya dalam setiap langkah kita. Wallahu’alam bishawab.

RamadhanBuah berpuasa seperti diharapkan Allah SWT adalah menjadikan kita bertaqwa. Buah inilah yang menjadi sasaran selama menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Taqwa itu dapat dirasakan oleh diri sendiri dengan sebagian indikatornya terlihat mata manusia. Namun perasaan ketaqwaan inilah yang mengetahui mutlak hanyalah Allah SWT. Yang mulia di sisiNya pun adalah mereka yang bertaqwa, demikian firman Allah SWT.

Puasa merupakan salah satu jalan yang menuju kepada ketaqawaan, menuju maqam yang mulia disisi-Nya.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (Al Baqarah:183)

Lalu bagaimana berpuasa yang benar-benar melahirkan ketaqwaan di ujung Ramadhan?

Sebelum memahami bagaimana puasa dapat melahirkan taqwa perlu menelusuri kembali makna puasa. Shiyam di bulan Ramadhan seperti banyak dijelaskan para ulama adalah menahan dari makan, minum dan hubungan suami isteri pada siang hari. Jadi dapat dikatakan praktek utama shiyam ini adalah siang hari. Tidak makan dan tidak minum merupakan salah satu indikator berpuasa pada siang hari.

Secara istilah, shiyam adalah menahan dari dari dua jalan syahwat, mulut dan kemaluan, dan hal-hal lain yang dapat membatalkan pahala puasa mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

Saat berpuasa inilah kebutuhan fisik utama yakni makan dan minum ditahan selama siang hari. Dengan menahan diri tidak mengkonsumsi apapun siang hari maka terasa sekali bahwa badan akan lebih lemas dari biasanya pada siang hari.

Hikmah yang dirasakan dari berpuasa ini adalah satu kesadaran bahwa ketergantungan kepada makanan dan minuman bukanlah segala-galanya. Kebutuhan untuk memberikan makan dan minum kepada jasad ini dihentikan tidak lain adalah untuk memberi kesadaran akan aspek ruhiah dalam diri kita.

Coba kita rasakan sendiri aspek ruhiah yang selama ini ada dalam diri ketika terbangun. Yang diambil oleh Allah SWT ketita kita tertidur.

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir. (Az Zumar:42)

Allah menyinggung pula tentang penciptaan manusia dimana didalamnya ditiupkan ruh.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (Al Hijr:28-29)

Hikmah dari puasa dimana lapar dan dahaga ini serta menahan syahwat akan mengangkat kita kedalam mahluk yang paripurna tidak hanya jasadiyah tetapi juga ruhiah.

Hidup ini tidak hanya makan dan minum tetapi ada yang lebih sejati yang mengantarkan kepada ketaqwaan yakni dengan melepaskan diri dari kergantungan kepada hal-hal yang fisik, duniawi.

Kesadaran inilah yang kemudian menjadikan diri kita mengabdi semata-mata kepada Allah SWT karena jasad kita akan ditinggalkan, ruh kita lah yang akan kembali kepada-Nya.

Selama siang hari berpuasa disertai berbagai amalah sunat seperti tadarus Al Quran, menunaikan shalat sunnat dan sedekah akan melengkapi bangkitnya kesadaran seorang yang beriman dan bertaqwa.

Itulah mengapa Allah akan menganugerahkan ketaqwaan manakala sudah memiliki kesadaran melihat kehidupan di dunia ini merupakan tangga dan perjalanan menuju sebuah kehidupan kekal di akhirat.

Sesungguhnya kita dari Allah dan akan kembali kepadanya.

“Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” (Al Baqarah:156)

Nah kalau puasa Ramadhan ini dikembalikan dan disadari sepenuhnya maka lapar, dahaga dan menahan shaywat ini menjadi sangat kecil. Mungkin juga menjadi ringan karena kita sedang mengejar derajat tinggi menuju ketaqwaan.

Akan muncul pula kebahagiaan yang tiada taranya ketika duduk atau beraktivitas dalam puasa ini disertai keimanan karena semuanya bagi Allah SWT.

Apalagi pada malam harinya dilengkapi berbagai ibadah yang melengkapkan kesadaran untuk menuju iman dan taqwa yang lebih tinggi. Sungguh berbahagia mereka yang berpuasa pada bulan Ramadhan, dan sungguh berbahagia yang mengisi amalan malam Ramadhan dengan berbagai ibadah. Wallahu’alam bishshaab.