Assalamu’alaikum

Alhamdulillah situs Oase Tarbiyah mengalami perubahan karena format lama sudah sulit mengikuti perkembangan terbaru dunia internet

Semoga perbaikan ini membawa berkah bagi para pengunjung semuanya dan bersabar akan adanya perubahan ini.

Wassalamu’alaikum wr wb

Editor

 

Posted in Arsip | 1 Comment

Setiap waktu dalam Iman kepada Allah

Perjalanan waktu tidak dapat dihentikan oleh siapapun. Kini pada akhir tahun 2011 ini banyak sekali hikmah yang Allah berikan kepada kita semua. Berkah ilmu, rezeki dan umur telah kita rasakan. Saatnya menjadikan setiap langkah dalam kembali kepadaNya menjadi suatu kebahagiaan.

Mereka yang merasakan dengan bertambahnya usia bertambah bahagia karena janji bertemu yang Maha Rahmat sudah dekat, maka akan merasakan bahwa iman kepada Allah SWT merupakan sebuah nikmat yang luar biasa. Lebih membahagiakan daripada apapun yang ada di dunia termasuk emas, berlian, rumah mewah, mobil yang bagus bahkan jabatan apapun yang kita miliki.

Setiap detik ketika kita melangkah, setiap menit ketika kita bergerak, setiap jam ketika kita melakukan aktivitas di rumah, di kampus, sekolah, tempat kerja atau di daerah wisata maka iman kepadaNya merupakan naungan yang membahagiakan.

Cobalah berhenti sebentar ketika kita begitu sibuk setiap hari. Perhentian itu bisa dalam shalat lima waktu dimana kita mendapatkan tempat khusus untuk menjalin komunikasi, memanjatkan doa dan mensyukuri nikmat-Nya.

Dari Anas r.a. bahwa Nabi saw. bersabda, “Tiga hal yang apabila terdapat pada diri seseorang maka ia mendapat manisnya iman yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai olehnya daripada selain keduanya, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan ia benci untuk kembali ke dalam kekafiran (1/11) sebagaimana bencinya untuk dicampakkan ke dalam neraka.”

Maka dalam perjalanan waktu ini rasa iman merupakan nikmat tiada tara.

Demi masa.Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (Al’Ashr)

Surat ini dengan jelas menguraikan makna iman dalam perjalanan waktu dimana kita melaluinya setiap saat. Tahun 2012 tidak lama lagi berakhir sedangkan bulan Muharram sudah meninggalkan kita. Saatnya kita menuliskan dalam diary kita untuk menikmati rasa iman ini setiap waktu. Ketika kita bekerja, ketika belajar, ketika belanja, ketika dalam perjalanan dan ketika bercengkrama dengan keluarga. Semuanya akan dirasakan sebagai karunia-Nya.

Iman kepada Allah inilah yang akan menjadikan tambahan waktu setiap hari kita menjadi nikmat. Nikmat karena kita akan bertemu dengan Sang Pencipta, Yang Maha Penyayang dan Maha Pengasih. Bukankah tujuan hidup kita di dunia tidak lain dalam mencari Ridha-Nya. Jadi alangkah herannya jika dalam perjalanan waktu ini kita terasa sesak dan berat. Semuanya sudah berada dalam garis takdirnya, saatnya kita merasakan nikmat waktu ini dalam kehidupan sehari-hari, sebagai anugerah Allah SWT yang sangat besar. Wallahu’alam bishawab.

Posted in Al Quran, Tarbiyah | Leave a comment

Jelang Haji, Jabal Rahmah, bukit kasih sayang

PENGANTAR: Menjelang puncak ibadah haji yang jatuh pada minggu pertama November nanti, berikut ini beberapa catatan ringan penulis mengenai lokasi dan tema haji. Sebagian catatan ini ketika umrah pertama kali serta sebagian lagi menyaksikan jutaan orang berjiarah, melengkapi rukun Islam sekaligus sebuah perjalanan ruhani penuh makna pada bulan Zulhijah. Sebuah ibadah sekali seumur hidup, sungguh sayang kalau kita tidak sempat menunaikan kita ibadah ini tatkala umur semakin senja, ketika kita tidak tahu kapan menghadap-Nya.

PERTAMA kali mengenal Jabal Rahmah ini dari seorang pemandu umrah. Menurut pemandu asal Thailand ini, Nabi Adam dan Siti Hawa diusir dari surga ke dunia ini. Mereka terpisah selama 300 tahun, katanya, kemudian Allah mempertemukan keduanya di tempat yang sekarang disebut Jabal Rahmah di tengah Padang Arafah.

Pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa di Padang Arafah ini dapat disebut sebuah kisah cinta abadi, kisah pencarian kasih sayang yang berujung pada kebahagiaan. Padang Arafah menjadi saksi sejarah bagaimana Nabi Adam selama ratusan tahun mencari isterinya setelah diusir dari Surga.

Itulah monumen cinta pertama peradaban kemanusiaan yang disimbolkan sebuah tugu di Padang Arafah. Pertemuan Arafah ini nanti merupakan puncak ibadah haji karena tidak ada haji tanpa berdiam sebentar di Arafah. Arafah adalah simbol suci sebuah ritual perjalanan ruhani kepada Allah yang menggenapkan rukun Islam kita.

Saya diberitahukan pula bahwa ketika Nabi Adam diusir dari Surga ditempatkan di daerah yang sekarang disebut India sedangkan Siti Hawa di daerah Irak sekarang. Kisah ini tentu belum menjadi sebuah kebenaran namun sudah menjadi bagian dari perjalanan Nabi Adam ketika dipisahkan di dunia dengan Siti Hawa. Demikian juga soal lamanya berapa di dunia dalam masa pencarian belum ditemukan pendapat yang kuat.

Di sisi lain jiarah ke Jabal Rahmah bagi calon jemaah haji mungkin akan menjadi sebuah perenungan untuk melihat kembali bagaimana Nabi Adam bersuka cinta dalam pertemuan dengan kekasih dan isterinya. Inilah sebuah kisah romantisme monumental dalam perjalanan hidup manusia di dunia dimana pasangan pertama Adam dan Hawa hidup di daerah yang sekarang menjadi Padang Arafah.

Jabal Rahmah atau bukit Kasih Sayang juga tempat berjiarah untuk merenungkan betapa kasih sayang Allah kepada kita semua sangat luar biasa, tidak bisa dihitung.

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (16:18)

Jabal Rahmah kita betapa Kasih Sayang Allah tak terhitung bahkan ketika Nabi Adam melanggar larangan Allah setelah bertaubat diampuni.

Doa Nabi Adam diabadikan dalam Al Quran.

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. (7:23)

Meskipun Nabi Adam mengaku telah berbuat dzalim dengan melanggar pantangan Allah namun Allah memberikan kasih sayangNya dengan mengampuni dosa Nabi Adam.

Di Padang Arafah inilah nanti dua sampai tiga juta lebih calon haji mengukuhkan dirinya dalam doa sejak siang hari sampai menjelang magrib. Mereka beristighfar, bertasbih, bertakbir dan bertahmid menggagungkan Asma Allah.

Inilah sebuah proses dimana seorang insan yang berpakaian umrah menyambungkan dirinya, berdoa kepada Allah dengan sepenuh hati, memantapkan janjinya untuk hidup semata karena Allah, bukan untuk yang lain.

“Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”.(6:162-163)

Di Jabal Rahmah banyak jemaah berkumpul menengadahkan tangannya ke langit, memanjatkan doa, menundukkan hati agar Allah membimbingnya.

Di Jabal Ramah pula sebuah pertemuan ribuan atau mungkin lebih Nabi kita Adam dan ibu dari semua ibu, Siti Hawa, dengan mengharukan bertemu dalam satu kasih sayang, satu tekad beribadah kepada Allah Yang Maha Agung. Wallahualam’bishawab. (bersambung)

Posted in Tausiyah | Leave a comment

Shalat ‘latihan pulang’ kepada Allah

Tadarus Al Quran selama Ramadhan dapat menjadi pengalaman dimana terjadi “pertemuan-pertemuan” dengan sejumlah ayat Al Quran yang ternyata “hidup” dalam menyiram ruh ini.

Empat tulisan terdahulu, mengenai perjalanan menuju Allah yang dilukiskan dalam proses penciptaan Nabiyullah Adam sampai dengan kepastian maut akan menjemput, mengukuhkan bahwa kita semua dalam langkah-langkah menuju kematian, yang dalam doa Al Matsurat disebutkan:”hidupkanlah dengan ma’rifah-Mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu.”

Tulisan kedua merupakan proses penyadaran bahwa Allah itu Dekat, lebih dari urat leher kita, yang menggugah kesadaran bahwa segala lintasan didengar Allah.

Tulisan ketiga, saat membaca ayat Kursi terungkap bahwa Allah itu Maha Hidup. Allah merespons doa kita, menanggapi permohonan kita melalui ilham-Nya.

Tulisan keempat, merupakan renungan akan bulan monumental dalam penanggalan Islam, training sebulan mengasah ruh sehingga selama Ramadhan menjadikan diri kita pada akhirnya kembali fitrah, ruh kita menjadi sadar dengan jasmani, ruh kita diilhamkan ketaqwaan.

Dalam Al Quran bertebaran ayat-ayat yang menjelaskan Shalat, sebuah ibadat yang dianugerahkan kepada umat Nabi Muhammad ketika Miraj. Kewajiban shalat lima waktu yang nyaris kita lupakan karena sudah terlalu rutin. Rukun Islam kedua sesudah Syahadat yang sangat bermakna, syarat dengan nilai dan bisa dikatakan dalam perjalanan menuju Allah, menunggu kita masing-masing dipanggil, Shalat merupakan sebuah pelatihan pulang kepada Allah.

Shalat merupakan ibadat yang dimulai dari Takbir dan diakhiri dengan Salam dan tata caranya sudah ditentukan secara teliti oleh ayat-ayat Al Quran dan dipraktekan oleh Rasulullah.

Shalat adalah menghadap-Nya dengan tata cara dan waktu yang sudah ditentukan – meski ada beberapa keringanan dalam keadaan tertentu – namun semuanya merupakan sebuah proses gerakan dan bacaan.

Apabila gerakan fisik ini disertai dengan gerakan ruhiah maka Shalat ternyata sebuah Kekuatan yang Maha Dahsyat.

Sayyid Qutb dalam salah ungkapannya menjelaskan bahwa Shalat sebenarnya merupakan Silatun (komunikasi) dan Liqoun (pertemuan) dengan Shang Khaliq. Pendapat ini jelas terlihat dari penjelasan Al Quran mengenai Shalat.

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (2:45-46)

Sabar dapat dimaknai dengan rasa ikhlas akan takdir yang sudah ditentukan, pasrah terhadap segala rencana Allah, menerima semuanya karena Allah, menyerahkan semuanya kepada Allah, tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah.

Shalat ternyata merupakan sebuah proses yang meyakini ketika berdiri dalam shalat sedang menghadap Yang Maha Perkasa, Yang Maha Besar yang apabila dirasakan akan menimbulkan keharuan, kedamaian,kebahagiaan dan mungkin tangisan sebagai rasa syukur bahwa Allah benar-benar hadir menerima ibadat kita.

Maka doa-doa yang dibacakan dalam shalat menjadi komunikasi yang hidup, menjadi interaksi antara hamba dengan Tuhan, kita dengan Allah, sebuah komunikasi yang terjalin sehingga tumbuh kelezatan iman. Sehingga rasanya ingin setiap ucapan keluar dari qalbu, diresapi maknanya dan berhenti, tumaninah untuk merasakan getaran-getaran Ilahi berupa ilham, berupa janji Allah memberikan ketenangan, kesejukan, tambahan iman dan menunggu respons yang datang.

Sehingga rasanya ketika shalat-shalat wajib terutama ditunaikan tidak lagi secepat kilat untuk menggugurkan kewajiban, tidak pula hanya bacaan dan gerakan namun seluruh jasmani dan ruhani ikut dalam Shalat ini. Karena yakin bahwa Shalat adalah “pertemuan” dengan Allah.

Barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(29:5)

Rasanya shalat ini ingin lebih lama karena merasakan nikmat dan kebahagiaan tak terkira bertemu dan berinteraksi dengan Sang Maha Pencipta, Sang Maha Pemberi Rizki, Sang Maha Suci dan Maha Kasih Sayang. Inilah yang kemudian digambarkan dalam ayat-ayat Al Quran seperti Surat Maryam ayat 58.

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israel, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (19:58).

Shalat menjadi proses bukan menumpahkan semua keluh kesah namun sebuah ibadah yang membahagiakan dan apabila kemudian ayat-ayat itu membuatnya menangis, sungguh karunia yang sangat besar karena sesungguhnya getaran yang dirasakan itu merupakan sebuah nikmat dari Allah SWT. Ayat-ayat yang dibaca itu menjadi sebuah sarana komunikasi yang menghujam qalbu tidak hanya sampai lidah, menjadi penambah keimanan.

Apabila merasakan Shalat seperti itu maka waktu tidak menjadi sebuah hambatan, waktu terasa sangat cepat berlalu, rasanya ingin sekali berdiri, ruku, sujud dan bersimpuh duduk diantara dua sujud bermunajat, bertasbih, bertakbir, berdoa yang dilafalkan dengan seluruh jiwa, menyertakan jasmani dan ruhani, maka terasa sekali empat rakaat itu sangat nikmat.

Inilah yang disebut dalam Al Anfal bahwa ayat demi ayat yang didengar dan dibaca dalam Shalat dari hari ke hari semakin menambah Iman kepada Allah, Iman kepada semua rukun iman termasuk Iman kepada Qadha dan Qadar.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (8:3-4)

Gerakan dan bacaan mungkin beda, namun ruhiah yang ikut dalam shalat akan merasakan sekali bagaimana merespon bacaan dan doa yang dipanjatkan.

Kondisi Ruhiah inilah yang bisa membuat waktu tidak terasa, shalat empat rakaat bahkan sampai berlangsung lama bukanlah hal yang aneh. Lezatnya iman telah menyebabkan shalat tumaninah ini merupakan anugerah yang apabila tidak dirasakan dalam kehidupan ini sungguh sangat disayangkan, apabila salah satu nikmat Allah ini berupa lima kali shalat ini adalah sebuah ibadat yang Dahsyat dan Luar Biasa Pengaruhnya dalam perjalan menuju Allah.

Maka tatkala ruh kita dipanggil pulang, maka “latihan-latihan” dalam shalat ini akan menghantarkan dia dalam kebahagiaan. Dengan mengenal asma dan sifat-sifat Allah maka semakin akrab dan dekat dengan Allah, semakin shalat itu menjadi lebih bermakna. Maka mereka yang sudah melalui proses Shalat ini akan terhindar dari kemunkaran karena memang kedekatan dengan Allah yang akan mencegahnya.

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (29:45)

Seorang yang Shalat secara komprehensif sadar akan hasil Shalat. Ada hubungan antara pertemuan-pertemuan dan komunikasi dengan Allah dengan langkah-langkah sesudah Shalat. Bahkan rasanya ingin sekali setelah Shalat benar-benar khusyu bersimpuh duduk, berdzikir melanjutkan lezatnya berkomunikasi dengan Sang Pencipta.

Dan bagi mereka yang melakukan ibadat ini secara maksimal maka Allah menjanjikan sebuah kesuksesan.Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya,(23:1-2).

Rasulullah SAW yang menekankan betapa pentingnya Shalat wajib ini ditunaikan dengan paripurna. Hadits dari Imam Tabrani dengan sanad yang baik dari Abd Ibn Qurd dengan kalimat; Amal seorang hamba yang pertama yang dihisab (dihitung amalnya oleh Allah) adalah Shalat, Allah melihat shalat seorang hamba, apabila shalatnya baik, maka baiklah amal-amal yang lain, apabila shalatnya tidak baik/cela, maka tidak baiklah amal yang lainnya.

Karena Shalat ini adalah dzikir yang utama maka sangat diprioritaskan untuk merasakan bagaimana komunikasi dengan Allah yang Maha Hidup ini terjalin.

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (20:14)

Dan rasa tersambung dengan Allah ini Insya Allah ingin penulis lanjutkan dalam seri selanjutnya. Wallahu’alam bishawab.

Posted in Arsip, Tausiyah | Leave a comment