Archive for the 'Kultum' Category

Senantiasa dalam perjalanan kehidupan ini ada terminal dimana sejenak berhenti. Beberapa menit untuk duduk merenungkan perjalanan. Sudah berapa jauh perjalanan kita menuju Pintu Gerbang Kematian? Seberapa banyak bekal yang akan kita bawa memasuki Dunia Baru?

Pertanyaan-pertanyaan ini sekali-kali kita perlu angkat, di tengah kesibukan kerja dan belajar. Atau di tengah kesibukan beraktivitas sosial.

Bekal kehidupan di akhirat pasti lebih penting daripada hanya dalam kehidupan di dunia yang fana. Ketika harga-harga membumung tinggi akibat kenaikan BBM dan makanan, kita masih sering resah. Kita takut kelaparan. Namun pernahkah kita takut bekal amal di akhirat semakin surut dan bahkan minus?

Kembali kita lihat dan bandingkan. Betapa kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal.  Lalu mengapa kita lebih resah dengan berbagai berita tentang kenaikan di sekeliling kita.  Sudah saatnya kita mejenguk lebih tajam ruhani kita untuk menabung bekal amal.

Amal shaleh itu tidak harus memerlukan energi banyak dan biaya besar. Dengan berdziki, bersyukur kepada Allah SWT, maka tabungan akan mengalir terus. Dengan beramal maka akan berbunga dan semakin besar bekal kita. Sungguh Allah Maha Adil, menambah bekal itu bisa dilakukan dengan gratis !

Berbeda dengan bebuat yang lain harus mengendarai mobil atau harus mengeluarkan uang transportasi. Menambah bekal hanya dengan berdzikir sudah sungguh luar biasa besarnya. Lalu mengapa kita masih resah dengan dunia fana ini.

Tiba waktunya untuk bangkit menambah bekal. Tidak duduk termenung merenungkan nasib. Merenungkan kesedihan, kemunduran, kegagalan, kekesalan dan kemelaratan. Amal Shaleh bisa dibangun dengan mulai lidah ini bertasbih, bertahmid dan bertakbir. Ya, betapa mudah dan betapa indahnya amalan dalam Islam. Bahkan untuk melafalkan dzikir Anda tidak perlu ijin atasan, pembesar, ulama atau mertua. Mulailah menamah bekal amal ini.

Saya membaca di sebuah berita di surat kabar Surya, Surabaya mengenai anak yang bunuh diri karena sakit maag. Berikut berita yang kita bisa baca:

“Heran melihat Teguh Miswadi, 11, tidak masuk sekolah sejak Senin (18/2/2008), Sujarwo menjenguk salah satu murid pintarnya itu kemarin. Pak guru Sujarwo, 45, khawatir sakit maag Teguh kambuh, dan dia ingin membawanya ke Puskesmas.

Namun, tiba di rumah Teguh yang tinggal bersama neneknya di Desa Pupus, Kecamatan Lembeyan, Kab. Magetan,Sujarwo terkejut bukan kepalang. Di sebuah kamar yang tak terkunci di rumah setengah kayu dan setengah bambu itu,Sujarwo melihat siswa kesayangannya tergantung kaku. Teguh sudah tak bernyawa. Teguh bunuh diri.

Seutas tali tampar biru menjerat lehernya,kata Sujarwo. Tali itu diikatkan pada blandar atau kayu penopang atap. Menurut Sujarwo, Teguh gelap mata, sangat mungkin karena tidak tahan akan rasa sakit yang menyerang perut. Maag itu sering membuatnya mengerang. Penyakit ini seharusnya dilawan dengan makan teratur dan bergizi. Tapi, justru itulah yang tak mungkin didapatkan.”

Berita yang menyedihkan ini memberikan hikmah dan pelajaran kepada kita semua:

1. Jika kita memiliki tetangga yang dekat atau jauh kemudian dia sakit, maka kewajiban kita menolong dan menengoknya. Kalau bisa kita mengobatinya juga. Jangan sampai tetangga kita dibiarkan menderita kelaparan. Sudah menjadi tanggung jawab komunitas saling membantu.

2. Musuh nomor satu di Indonesia memang kemiskinan. Ini tanggung jawab para penyelenggara negara memberikan kemakmuran seluas-luasnya. Jangan sampai kelaparan kembali merenggut nyawa seorang siswa yang memiliki masa depan.

3. Tugas para ulama juga memberikan peringatan kepada para orang tua untuk memperhatikan pelajaran agama secara menyeluruh, bukan saja teori tetapi juga praktek dalam hal ini saling tolong menolong. Jangan sampai ulama hanya berceramah tanpa ada aksi yang nyata.

4. Sudah saatnya kita merenungkan untuk menolong keluarga yang terkena musibah berat ini. Sudah waktunya mengulurkan tangan sebisa mungkin menyantuni keluarga yang menghadapi ujian ini.

Sayyid Quthb dalam tafsir Fi Zhilail Quran dalam memahas Surat Al Buruuj (Gugusan Bintang) ayat ke-2 memberikan makna lebih dalam mengenai Hari Yang Dijanjikan, mengenai saat semua rahasia manusia dibeberkan sehingga tidak ada lagi yang tersembunyi.

Penjelasan Sayyid Quthb memberikan gambaran agar kita mempersiapkan diri menghadapi satu hari yang sangat hebat dan teliti.

“Yaitu hari keputusan menyangkut peristiw-peristiwa dunia dan penyelesaian terhadap hisab dunia dan apa yang terjadi di dalamnya. Ia adalah hari yang kedatangannya dijanjikan Allah,” tulis Sayyid Quthb.

“Pada hari ini juga Dia menjanjikan adanya hisab dan balasan dan Dia memberi tempo kepada orang-orang yang membantah dan menentang tentang hal ini. Ia adalah hari yang sangat besar yang membuat penasaran dan dinantikan oleh semua makhluk untuk mengetahui bagaiman jadinya perkara tersebut,” lanjutnya.

Kemudian ayat ketiga berbunyi : Dan yang menyaksikan serta yang disaksikan.

Sayyid Quthb menjelaskan, pada hari tersebut amal perbuatan dibeberkan dan semua makhluk ditampilkan, sehingga semuanya menjadi tersaksikan dan semuanya juga menyaksikan. Segala sesuatu diketahui dan tampak terlihat tak ada sesuatupun yang menutupi hati dan mata.

Inilah penjelasan dua ayat Al Quran yang dengan gamblang menuturkan bahwa Hari Yang Dijanjikan itu memang akan datang dan semuanya terbuka sampai yang sekecil-kecilnya.

Sudahkah kita mengingat Hari H itu akan datang ? Telahkah kita mempersiapkan semuanya ? Kelalaian kita dengan berbagai urusan dunia sering melupakan betapa dahsyatnya hari itu, betapa file amal kebaikan dan keburukan dalam ‘hard disk’ kita akan dipaparkan sampai yang sebesar atom.

Kini kita masih diberi usia dan kesehatan. Saatnya untuk menghitung amal kebaikan. Saatnya menambah amal shaleh untuk bekal di Hari Yang Dijanjikan, sebuah hari dimana tidak ada lagi dusta dan argumentasi. Tidak ada lagi perdebatan. Amal akan ditimbang dan nasib yang permanen akan ditentukan.

Orang bijak senantiasa mampu mengambil hikmah dari setiap peristiwa. Sadar bahwa manusia itu tidak sempurna, tempat lahirnya banyak kekeliruan, maka kesalahan yang telah diperbuat disertai dengan koreksi.

Setiap hari senantiasa mendapatkan hikmah karena manakala berbuat salah maka tidak bertobat. Dia tersadar dan senantiasa memperbaiki diri. Sama seperti kita sedang mengendarai mobil, begitu jalan yang atau belokan yang diambil salah, maka kita berusaha mengoreksi kesalahan itu dengan berputar mengambil jalan yang benar.

Kehidupan dengan tujuan Ridha Allah senantiasa akan kembali ke arah yang benar manakala dalam perjalanan kehidupan ini terantuk dengan kekhilafan sengaja atau tidak. Seorang sahabat nabi dijadikan calon surga karena sebelum tidur memaafkan semua orang. Setiap tidur menghitung-hitung untung dan rugi selama satu hari hidupnya.

Sedang berada dimana perjalanan hidup Anda? Jika Anda merasa bahwa hari-hari sial dan apes sedang mengunjungi Anda, mungkin merasa kehidupan ini buruk. Atau Anda gagal dalam ujian dan promosi terasa, gelap masa depannya. Mungkin pula Anda sedang dilanda kesulitan keuangan, keluarga, hubungan suami istri atau bencana alam, semuanya menghimpit hati kita.

Namun ketahuilah, Allah telah memberikan yang terbaik pada detik ketika Anda membaca tulisan ini. Allah SWT adalah Khaliq yang Sangat Penyayang kepada hamba-Nya. Allah pasti memberikan posisi dan keadaan terbaik kapanpun dan dimanapun.

Rahmat Allah meliputi segala sesuatu. Pastilah dibalik semua kesulitan yang dirasakan itu berbagai hikmah akan kebesaran-Nya akan ditemukan. Himpitan kehidupan dan kesulitan ini bagian dari kebaikan Allah SWT kepada mahluknya untuk senantiasa beribadah kepada-Nya.

Kita semua dalam keadaan terbaik dalam kehidupan kita. Sungguh Allah SWT telah melimpahkan begitu banyak kasih sayang mulai dengan memelihara detak jantung kita, memelihara mata kita, pendengaran kita dan nurani kita sehingga semua potensi ini seyogyanya menjadi ajang rasa syukur.

Janji Allah sendiri manakala kita bersyukur, senantiasa mengingat nikmat-Nya, maka Allah SWT akan menambah segala kenikmatan dunia yang fana ini dan membalasnya dengan kenikmatan abadi di akhirat kelak.

Jadi tidak ada waktu bagi kita berkeluh kesah. Bangkitlah ! Bangkitlah untuk senantiasa mensyukuri segala karunia yang kita peroleh. Dengan itu kita akan menambah keimanan karena Allah Maha Pemurah dengan Rezekinya dan Allah Maha Kasih Sayang akan hamba-hambaNya.

Apakah Anda pernah terpikir bahwa seorang ibu merupakan madrasah pertama yang menjadikan kita sekarang dalam keadaan baik? Pernahkah terpikir bertapa besarnya jasa seorang ibu membesarkan kita ? Sudahkah kita memberikan kebaikan kepada ibunda kita? Sudahkah kita berdoa hari ini untuk ibunda yang sudah wafat?

Ya betapa besarnya kasih sayang ibunda kepada kita semua. Namun sayang kita sering lupa. Kita kadang-kadang marah ditegur ibunda. Kita kesal kalau ibunda menanyakan sudahkah kita shalat? Sudahkah kita ngaji? Sudahkah kita berdoa sebelum makan? Sebelum tidur? Sebelum belajar ?

Kasih ibundatidak bisa dibalas dengan uang. Kasih sayang ibundag tidak pantas dibalas dengan muka cemberut, kesal dan marah? Apalagi ibunda dihardik. Itulah mengapa Al Quran dengan tegas melarang bahkan mengatakan”ah” (uffin). Teguran kepada kita untuk senantiasa sayang kepada ibunda. Dialah yang menumpahkan kasih sayang kepada kita,melindungi ketika dingin dan memeluk kita ketika kedinginan atau ketakutan.

Ibunda juga yang membesarkan hati kita tatkala kesedihan karena musibah dialami kita. Ibunda pula yang Rasulullah SAW suruh agar kita berbuat baik sebanyak mungkin. Rasulullah sampai berkata tiga kemudian barulah ayahanda. Ibunda tersayang itulah yang harus kita sapa, kita telepon, kita besarkan dan kita doakan.

Membuat prestasi yang tinggi, akan membahagiakan ibunda. Betapa syukur dan bahagianya ketika ibunda kita mendengar prestasi di sekolah, prestasi di kantor dan prestasi di dalam karir kita. Semuanya dibalas ibunda kita dengan doa, doa dan doa.