Archive for March 2007

Apa yang Anda lakukan kalau yakin umur ini akan habis ? Apa yang Anda perbuat jika percaya bahwa semua manusia mati ?

Saya yakin banyak yang tidak ingat. Saya merasa banyak diantara kita lalai untuk mempersiakan garis final dalam perjalanan di bumi ini.

Saatnya kita beralih ke alam lain dari kehidupan ini. Alam yang lebih abadi dan menjanjikan. Alam yang memberikan ganjaran untuk semua yang kita perbuat. Alam dimana tidak ada lagi perdebatan mengenai yang haq dan bathil.

Jika Anda kewalahan menghadapi berbagai persoalan hidup yang sesak, maka alam berikut menilai Anda. Saatnya untuk merenungkan lebih dalam mengapa kita begitu sibuk dengan berbagai urusan tetapi melupakan sebuah keniscayaan ini. Ya semua orang dan mahluk akan menemui ajal dan akhir dari umurnya.

Semua mahluk akan binasa, tidak terkecuali kita.

Itu sering kita dengar. Sekali lagi bekal perjalanan dalam keabadian nanti perlu dipersiapkan dari sekarang. Betapa bodohnya – meski dia brgelar akademis tinggi – jika melalaikan alam abadi untuk mencicipi kenikmatan ragawi sementara ini. Betapa cerobohnya menyentuh barang haram di dunia hanya karna tergiur keuntungan materi.

Ingatlah bahwa “Kebenaran itu datang dari Allah SWT, maka janganlah Engkau ragu-ragu”. Kebenaran itu adalah kepastian bahwa ada alam yang akan memberikan kesempatan kepada Anda mendapatkan ganjaran dari ketulusan Anda dalam mengabdi dan hukuman jika Anda lalai.

Itulah mengapa secara logika manusia, alangkah pandir dan bodohnya jika kita berfikir kalau semua tindakan di dunia yang tidak adil ini dibiarkan tanpa pertanggung jawaban. Logika aneh jika kezaliman melenggang di dunia tanpa ada hukumannya.

Saya baru saja mendengar ceramah mengenai betapa kesatuan hati ini tidak bisa tercipta kecuali sama-sama mencari Ridha Allah. Hati ini hanya dipersatukan dengan keinginan melaksanakan aturan-Nya untuk manusia ini. Manakala hati ini berbeda tujuannya sulit disatukan.

Sama seperti dalam berkeluarga, maka dua hati dipersatukan karena rasa cinta dan kesamaan tujuan. Keluarga tercipta karena perpaduan hati dua insan. Manakala kedua insan ini sudah sepakat dalam menempuh hidup maka kehidupan baru akan tercipta.

Tarbiyah bisa memberikan visi baru terhadap ukhuwah dimana dengan mendidik diri dan keluarga maka rasa ukhuwah bisa tercipta. Tarbiyah yang setahap demi setahap akan memberikan kalbu ini sebuah nur yang memancarkan kedamaian kepada setiap orang di dekatnya. Itulah rasa ukhuwah dalam menjunjung tinggi nilai-nilai-Nya.

Ukhuwah yang merupakan perpaduan hati dalam mencapai ridha-Nya akan merupakan nikmat tiada taranya. Ukhuwah adalah buah dari proses tarbiyah yang berjalan seiring dengan pertumbuhan aqidah.

Syahadatain adalah rukun Islam yang pertama. Tidak banyak pembahasan yang mendalam mengenai makna syahadatain ini baik dalam konsepnya maupun prakteknya. Jika dijelaskan mengenai rukun shalat dan puasa maka sebagian besar umat Islam hafal. Namun jika diajukan pertanyaan mengenai syahadat ini tidak banyak penjelasan yang lengkap.

Mengapa syahadat ini penting dipahami ? Sedikitnya ada lima unsur shayadat ini menjadi penting.

Pertama, pintuk masuknya Islam. Sudah umum diketahui bahwa jika seseorang mengucapkan syahadat dengan tulus dan ikhlas serta disengaja, maka dia menjadi seorang Muslim. Meminjam istilah Ivoney Ridley, wartawan Inggris yang baru-baru ini masuk Islam, syahadat telah menjadikan dia memiliki saudara satu milyar orang di seluruh dunia.

Syahadat inilah yang membedakan seseorang menjadi muslim atau tidak. Syahadat membedakan Muslim dan Kafir. Kafir disini artinya menolak ajaran Islam dan Nabi Muhamamad sebagai utusan Allah terakhir.

Sebenarnya manusia telah bersyahadah sebelum lahir ke dunia ini:

172. dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

Dan di dunia inilah disempurnakan syahadatnya . (bersambung)

Sejarah penyusunan Mushaf Al Quran kita masuki bagian kedua:

IV. Pengumpulan Qur`an pada Masa Abu Bakar

Abu Bakar menjalankan urusan islam sesudah Rasulullah. Ia dihadapkan kepada peristiwa-peristiwa besar berkenaan dengan kemurtadan sebagian orang arab. Karena itu ia segera menyiapkan pasukan dan mengirimkannya untuk memerangi orang-orang yang murtad itu. Peperangan Yamamah yang terjadi pada tahun 12 H melibatkan sejumlah besar sahabat yang hafal Qur`an. Dalam peperangan ini tujuh puluh qari dari para sahabat gugur. Umar bin Khatab merasa sangat kuatir melihat kenyataan ini, lalu ia menghadap Abu Bakar dan mengajukan usul kepadanya agar mengumpulkan dan membukukan Qur`an karena dikhawatirkan akan musnah, sebab peperangan Yamamah telah banyak membunuh para qarri`.

Di segi lain Umar merasa khawatir juga kalau-kalau peperangan ditempat-tempat lain akan membunuh banyak qari` pula sehingga Qur`an akan hilang dan musnah, Abu Bakar menolak usulan itu dan berkeberatan melakukan apa yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. Tetapi Umar tetap membujuknya, sehingga Allah membukakan hati Abu Bakar untuk menerima usulan Umartersebut, kemudian Abu Bakar nenerintahkan Zaid bin Sabit, mengingat kedudukannya dalam qiraat , penulisan pemahaman dan kecerdasannya, serta kehadirannya pada pembacaan yang terakhir kali. Abu Bakar menceritakan kepadanya kekhawatiran dan usulan Umar. Pada mulanya Zaid menolak seperti halnya Abu Bakar sebelum itu. Keduanya lalu bertukar pendapat, sampai akhirnya Zaid dapat menerima dengan lapang dada perintah penulisan Qur`an itu.

Zaid bin Sabit melalui tugasnya yang berat ini dengan bersadar pada hafalan yang ada dalam hati para qurra dan catatan yang ada pada para penulis. Kemudian lembaran-lembaran ( kumpulan) itu disimpan ditangan Abu Bakar. Setelah ia wafat pada tahun 13 H, lembaran-lembaran itu berpindah ke tangan Umar dan tetap berada ditangannya hingga ia wafat. Kemudian mushaf itu berpindah ketangan Hafsah putri Umar. Pada permulaan kekalifahan Usman, Usman memintanya dari tangan Hafsah.
Zaid bin Sabit berkata: Abu Bakar memanggilku untuk menyampaikan berita mengenai korban perang Yamamah. Ternyata Umar sudah ada disana. Abu Bakar berkata :
`Umar telah datang kepadaku dan mengatakan bahwa perang yamamah telah menelan banyak korban dari kalangan qurra ; dan ia khawatir kalau-kalau terbunuhnya para qurra itu juga akan terjadi ditempat-tempat lain, sehingga sebagain besar Qur`an akan musnah. Ia menganjurkan agar aku memerintahkan seseorang untuk menguimpulkan Qur`an. Maka aku katakan kepadanya, bagaimana mungkin kita akan melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah ? tetapi Umar menjawab: dan bersumpah, demi Allah, perbuatan tersebut baik. Ia terus menerus membujukku sehingga Allah membukakan hatiku untuk menerima usulannya, dan akhirnya aku sependapat dengan
Umar.

` Zaid berkata lagi: `Abu Bakar berkata kepadaku: ` Engkau seorang pemuda yang cerdas dan kami tidak meragukan kemammpuanmu. Engkau telah menuliskan wahyu untuk Rasulullah. Oleh karena itu carilah Qur`an dan kumpulkanlah.` `Demi Allah`, Kata Zaid lebih lanjut`, ` sekiranya mereka memintaju untuk memindahkan gunung, rasanya tidak lebih berat bagiku dari pada perintah mengumpulkan Qur`an. Karena itu aku menjawab: ` Mengapa anda berdua ingin melakukan sesuatu yang tridak pernah dilakukan oleh Rasulullah ? Abu Bakar menjawab: `demi Allah itu baik, Abu Bakar tetap membujukku sehingga Allah membukakan hatiku sebagaimana ia telah membukakan hati Abu Bakar dan Umar. Maka akupun mulai mencari Qur`an. Kukumpulkan ia dari pelepah kurma, dari keping-kepingan batu, dan dari hafalan para penghafal sampai akhirnya aku mendapatkan akhir surah taubah berada pada Abu Huzaimah al-Anshari; yang tidak kudapatkan pada orang lain, sesungguhya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri himgga akhir surah. Lembaran-lembaran ( hasil kerjaku) tersebut kemudian disimpan ditangan Abu Bakar higga wafatnya. Sesudah itu berpindah ketangan Umar sewaktu masih hidup, dan selanjutnya berada ditangan Hafsah binti Umar.`
Zaid bin Sabit bertindak sangat teliti, hati-hati. Ia tidak mencukupkan pada hafalan semata tanpa disertai dengan tulisan. Kata-kata Zaid dalam keterangan diatas: `Dan aku dapatkan akhir surah at-Taubah pada Abu Khuzaimah al-Anshari; yang tidak aku dapatkan pada orang lain.` Tidak menghilangkan arti keberhati-hatian tersebut dan tidak pula berari bahwa akhir surah Taubah itu tidak mutawatir. Tetapi yang dimaksud ialah bahwa ia tidak mendapat akhir surah Taubah tersebut dalam keadaan tertulis selain pada Abu Khuzaimah. Zaid sendiri hafal dan demikian pula banyak diantara para sahabat yang menghafalnya. Perkataan itu lahir karena Zaid berpegang pada hafalan dan tulisan, jadi akhir surah Taubah itu telah dihafal oleh banyak sahabat. Dan mereka menyaksikan ayat tersebut dicatat. Tetapi catatannya hanya terdapat pada Abu Khuzaimah al-Ansari.
Ibn Abu Daud meriwayatkan melalui Yahya bin Abdurrahman bin Hatib, yang mengatakan :

` Umar datang lalu berkata: `Barang siapa menerima dari Rasulullah sesuatu dari
Qur`an, hendaklah ia menyampaikannya.` Mereka menuliskan Qur`an itu pada lembaran kertas , papan kayu dan pelepah kurma. Dan Zaid tidak mau menerima dari Qur`an mengenai seseorang sebelum disaksikan oleh dua orang saksi. Ini menunjukkan bahwa Zaid tidak merasa puas hanya dengan adanya tulisan semata sebelum tulisan itu disaksikan oleh orang yang menerimanya secara pendengaran (langsung dari Rasul), sekalipun Zaid sendiri hafal. Ia bersikap demikian ini karena sangat berhati-hati. Dan diriwayatkan pula oleh Ibn Abu Daud melalui Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, bahwa Abu Bakar berkata pada Umar dan Zaid: `Duduklah kamu berdua dipintu masjid. Bila ada yang datang kepadamu membawa dua orang saksi atas sesuatu dari kitab Allah, maka
tulislah.` Para perawi hadis ini orang-orang terpercaya, seklaipun hadis tersebut munqati,(terputus). Ibn Hajar mengatakan: `Yang dimaksudkan dengan dua orang saksi adalah hafalan dan catatan.`

As-Sakhawi menyebutkan dalam Jamalul qurra, yang dimaksdukan ialah kedua saksi itu menyaksikan bahwa catatan itu ditulis dihadapan Rasulullah; atau dua orang saksi iti menyaksikan bahwa catatan tadi sesuai dengan salah satu cara yang dengan itu
Qur`an diturunkan. Abu Syamah berkata: `Maksud mereka adalah agar Zaid tidak menuliskan Qur`an kecuali diambil dari sumber asli yang dicatat dihadapan Nabi, bukan semata-mata dari hafalan. Oleh sebab itu Zaid berkata tentang akhir surah Taubah,
`aku tidak mendapatkannya pada orang lain,` sebab ia tidak menganggap cukup hanya didasarkan pada hafalan tanpa adanya catatan.`

Kita sudah mengetahui bahwa Qur`an sudah tercatat sebelum masa itu, yaitu pada masa Nabi. Tetapi masih berserakan pada kulit-kulit, tulang dan pelepah kurma. Kemudian Abu Bakar memerintahkan agar catatan-catatan tersebut dikumpulkan dalam satu mushaf, dengan ayat-ayat dan surah-surah yang tersusun serta dituliskan dengan sangat berhati-hati dan mencakup tujuh huruf yang dengan itu Qur`an diturunkan. Dengan demikian Abu Bakar adalah orang pertama yang mengumpulkan ur`an dalam satu mushaf dengan cara seperti ini, disamping terdapat pula mushaf-mushaf pribadi pada sebagian sahabat, seperti mushaf Ali, Ubai dan Ibn Mas`ud. Tetpi mushaf-mushaf itu tidak ditulis dengan cara-cara diatas dan tidak pula dikerjakan dengan penuh ketelitian dan kecermatan. Juga tidak dihimpun secara tertib yang hanya memuat ayat-ayat yang bacaannya tidak dimansuk dan secara ijma` sebagaimana mushaf Abu Bakar. Keistimewaan-keistimewaan ini hanya ada pada himpunan Qur`an yang dikerjakan Abu Bakar. Para ulama berpendapat bahwa penamaan Qur`an dengan `mushaf` itu baru muncul sejak saat itu, disaat Abu Bakar mengumpulkan Qur`an. Ali berkata:
`Orang yang paling besar pahalanya dalam hal mushaf ialah Abu Bakar. Semoga Allah mel;impahkan rahmat-Nya kepada Abu Bakar. Dialah orang yang pertama mengumpulkan kitab Allah.` (bersambung)

Kalimah syahadatain adalah kalimat yang tidak asing lagi bagi umat Islam. Kita senantiasa menyebutnya setiap hari, misalnya ketika shalat dan azan. Kalimah syahadatain sering diucapkan oleh ummat Islam dalam pelbagai keadaan. Sememangnya kita menghafal kalimah syahadah dan dapat menyebutnya dengan fasih, namun demikian sejauh manakah berkesan kalimah syahadatain ini difahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari ummat Islam ?

Soalan tersebut perlu dijawab dengan realiti yang ada. Tingkah laku ummat Islam yang terpengaruh dengan jahiliyah atau cara hidup Barat yang memberi gambaran bahawa syahadah tidak memberi kesan lainnya seperti tidak menutup aurat, melakukan perkara-perkara larangan dan yang meninggalkan perintah-Nya, memberi kesetiaan dan taat bukan kepada Islam, dan mengingkari rezki atau tidak menerima sesuatu yang dikenakan kepada dirinya. Contoh ini adalah wujud dari seseorang yang tidak memahami syahadah yang dibacanya dan tidak mengerti makna yang sebenarnya dibawa oleh syahadah tersebut.

Kalimah Syahadah merupakan asas utama dan landasan penting bagi rukun Islam. Tanpa syahadah maka rukun Islam lainnya akan runtuh begitupun dengan rukun Iman. Tegaknya syahadah dalam kehidupan seorang individu maka akan menegakkan ibadah dan dien dalam hidup kita. Dengan syahadah maka wujud sikap ruhaniah yang akan memberikan motivasi kepada tingkah laku jasmaniah dan akal fikiran serta memotivasi kita untuk melaksanakan rukun Islam lainnya.

Menegakkan Islam maka mesti menegakkan rukun Islam terlebih dahulu, dan untuk tegaknya rukun Islam maka mesti tegak syahadah terlebih dahulu. Rasulullah SAW mengisyaratkan bahawa, Islam itu bagaikan sebuah bangunan. Untuk berdirinya bangunan Islam itu harus ditopang oleh 5 (lima) tiang pokok iaitu syahadatain, shalat, saum, zakat dan haji ke baitul haram. Dalam hadits yang lain : Shalat sebagai salah satu rukun Islam merupakan tiangnya ad dien.

Di kalangan masyarakat Arab di zaman Nabi SAW, mereka memahami betul makna dari syahadatain ini, terbukti dalam suatu peristiwa dimana Nabi SAW mengumpulkan ketua-ketua Quraisy dari kalangan Bani Hasyim, Nabi SAW bersabda : Wahai saudara-saudara, mahukah kalian aku beri satu kalimat, dimana de-ngan kalimat itu kalian akan dapat menguasai seluruh jazirah Arab. Kemudian Abu Jahal terus menjawab : Jangankan satu kalimat, sepuluh kalimat berikan kepadaku. Kemudian Nabi SAW bersabda : Ucapkanlah Laa ilaha illa Allah dan Muhammadan Rasulullah. Abu Jahal pun terus menjawab : Kalau itu yang engkau minta, berarti engkau mengumandangkan peperangan dengan semua orang Arab dan bukan Arab.

Penolakan Abu Jahal kepada kalimah ini, bukan kerana dia tidak faham akan makna dari kalimat itu, tetapi justru sebaliknya. Dia tidak mau menerima sikap yang mesti tunduk, taat dan patuh kepada Allah SWT sahaja, dengan sikap ini maka semua orang akan tidak tunduk lagi kepadanya. Abu Jahal ingin mendapatkan loyaliti dari kaum dan bangsanya. Penerimaan syahadah bermakna menerima semua aturan dan segala akibatnya. Penerimaan inilah yang sulit bagi kaum jahiliyah mengaplikasikan syahadah.

Sebenarnya apabila mereka memahami bahawa loyaliti kepada Allah itu juga akan menambah kekuatan kepada diri kita. Mereka yang beriman semakin dihormati dan semakin dihargai. Mereka yang memiliki kemampuan dan ilmu akan mendapatkan kedudukan yang sama apabila ia sebagai muslim. Abu Jahal adalah tokoh di kalangan Jahiliyah dan ia memiliki banyak potensi diantaranya ialah ahli hukum (Abu Amr). Setiap individu yang bersyahadah, maka ia menjadi khalifatullah fil Ardhi.

Kalimah syahadah mesti difahami dengan benar, kerana di dalamnya terdapat makna yang sangat tinggi. Dengan syahadah maka kehidupan kita akan dijamin bahagia di dunia ataupun di akhirat. Syahadah seba-gai kunci kehidupan dan tiang dari pada dien. Oleh itu, marilah kita bersama memahami syahadatain ini.

Sumber: Kepribadian Muslim, Irwan Prayitno


Jika Anda ingin membuat blog khusus di webhosting muslim, Muslimways membuat khusus untuk Anda. Silahkan kalau mau membuat blog gratis khusus muslim di Muslimways.  Sebenarnya banyak tempat untuk membuat blog tetapi tidak ada salahnya membuat di situs muslim ini.

Tarbiyah pertama kali dilakukan Rasulullah SAW di rumah Darul Arqam. Disinilah materi tarbiyah dan gemblengan ruhani diberikan langsung oleh murobi agung. Sehari demi sehari, seminggu demi seminggu dan berbulan-bulan jamaah Islam pertama terbentuk di rumah Al Arqam. Mereka melakukan liqo pada malam hari sampai subuh.

Nabi Muhammad SAW membacakan wahyu Ilahi kepada madu yang pertama kalinya terutama dari kalangan budak dan kalangan masyarakat umum. Merekalah yang langsung menerima wahyu dari tangan pertama. Liqo yang dilakukan Rasulullah inilah yang kemudian melahirkan Syaksiyah Islamiyah, kepribadian Muslim pertama yang meski wahyu belum turun lengkap tetapi aqidah telah tertanam.

Tarbiyah pada tahap awal yang dilakukan Rasulullah SAW adalah menanamkan tauhid. Allah adalah dzat yang disembah dan diikuti, bukan berhala yang berada di sekeliling Mekah. Ma’rifatullah adalah pilar semua dari ajaran Islam. Iman yang mendalam kepada Allah dan Rasul-nya inilah yang menjadi dasar penting dalam pribadi seorang Muslim.

Murobi Agung, Rasulullah SAW juga melakukan tarbiyah fardhiyah dengan merekrut Abu Bakar, Usman dan diantara keluarganya Ali. Mereka berada di dalam liqo yang berbeda dengan para sahabat yang berkumpul di Darul Arqam. Rasulullah membagi beberapa liqo di Mekkah sehingga tidak mencurigakan kaum musyrikin.

Inilah cikal bakal tarbiyah Islamiyah yang dikemudian hari menjadi generasi penerangan dunia. Mereka tidak hanya faqih dalam keilmuan, zuhud dalam harta tetapi juga seorang pejuang dan penggerak yang tatkala genderang dakwah telah ditabuh maka tidak ada lagi kekuatan yang bisa menghentikan mereka. Dakwah dan Tarbiyah meluas ke seluruh dunia, sungguh kebesaran Allah SWT, sejarah dalam dakwah Rasulullah ini menjadi cermin yang perlu diikuti.