Archive for April 2007

Istiqomah memiliki arti sangat mendalam dalam kehidupan kita. Seseorang yang istiqomah memiliki pendirian yang ajeg dalam menuju Ridha Allah. Dia tidak tergoyahkan oleh usia, lingkungan atau ujian dan cercaan. Dia bagaikan karang yang melawan tempaan ombak.

Menurut beberapa kamus, istiqomah berarti tegak di sebuah tempat tanpa pernah bergeser.  Akar katanya sendiri “qaama” yang berarti berdiri. Inilah pendirian seseorang yang tetap konsekuen.

Istilah ini dapat dipahami jika kita membaca beberapa pendapat sahabat Rasulullah dan ulama.

Abu Bakar As-Shiddiq ra ketika ditanya tentang istiqamah ia menjawab bahwa istiqamah adalah kemurnian tauhid (tidak boleh menyekutukan Allah dengan apa dan siapa pun).

Umar bin Khattab ra berkata, “Istiqamah adalah komitmen terhadap perintah dan larangan dan tidak boleh menipu sebagaimana tipuan musang”.

Utsman bin Affan ra berkata, “Istiqamah adalah mengikhlaskan amal kepada Allah Taala”

Ali bin Abu Thalib ra berkata, “Istiqamah adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban”.

Al-Hasan berkata, “Istiqamah adalah melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan”.

Mujahid berkata, “Istiqamah adalah komitmen terhadap syahadat tauhid sampai bertemu dengan Allah Taala”.

Ibnu Taimiah berkata, “Mereka beristiqamah dalam mencintai dan beribadah kepada-Nya tanpa menoleh kiri kanan”.Dengan kata lain istiqomah mengandung suatu arti mendalam dalam beribadah kepada-Nya, mencintai sepenuh hati dalam mencari Ridha-Nya.

“Maka tetaplah (istiqamahlah) kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”(Q.S. Hud:112)

Berikut ini tulisan yang mudah-mudahan membuka hati kita dalam memilih aktivitas Islam.

  • Pertama : Ghayah
    Ghayah adalah tujuan, baik tujuan utama maupun tujuan antara. Ghayah sebuah harakah harus terbutki semata hanya untuk Allah Subhanahu Wata`ala semata. Bukan untuk kepentingan terbatas atau tujuan duniawi semata. Tetapi untuk mendapatkan ridha Allah SWT dengan menegakkan syariat-Nya.
  • Kedua : Fikrah Wa Syariah
    Konsep pemikirannya yang harus selaras dengan realitas dan idealisme Islam itu sendiri. Harakah Islam yang menjadi pilihan tidak mungkin mengambil sistem pemikiran kapitalis, sosialis atau pun sekuleris dalam fikrahnya. Juga tidak mudah terkecoh dengan pemikiran oreintalis yang suka meracuni fikrah. Sebaliknya harakah itu haruslah komitmen untuk menerapkan syariat Islam pada setiap individu dan anggotanya, sebab tujuan akhirnya adalah penegakan syariah Allah Subhanahu Wata`ala di muka bumi.
  • Ketiga : Manhaj
    Manhaj adalah sistem dasar pergerakan yang harus mengacu kepada sistem dasar pergerakan dengan pola gerakan dakwah Rasulullah SAW. Pola ini dipahami secara cerdas dan manhaji sesuai dengan kaidah-kaidah yang lurus yang terjabarkan dalam fiqhus sirah dan fiqhul harakah.
  • Keempat : Akhlaq
    Yaitu masalah akhlaq dan adab berharakah. Sebuah pergerakan harus punya akhlaq mulia, mampu membina dengan budi yang luhur dan pendekatan yang penuh hikmah dan mau`izhah hasanah. Pandai menempatkan diri di tengah komunitas muslim yang beragama sehingga bisa dengan mudah diterima kehadirannya oleh semua pihak. Tidak mudah melemparkan tuduhan kepada sesama muslim, apalagi fitnah keji tanpa konfirmasi. Sebab tanpa akhlaq, harakah menjadi eksklusif dan cenderung ditakuti dan dijauhi umat.
  • Kelima : Syumuliyah
    Maksunya adalah luasnya ruang lingkup dan cakupan kerja harakah itu yang tidak bersifat parsial mementingkan satu sisi dengan meninggalkan sisi lainnya. Sebab Islam itu selain agama juga negara. Maka membuat harakah yang sepotong-sepotong perhatiannya pada suatu masalah hanya akan membuat orang memahami Islam menjadi sepotong-sepotong juga.
  • Keenam : Syuro
    Harakah itu harus dipimpin, dimanage dan diarahkan oleh sebuah sistem syuro yang efektif, aspiratif, komunikatif dan elastis. Isinya haruslah terdiri dari orang-orang yang ahli dibidangnya serta mampu berpikir yang menyeluruh namun up to date, sehingga bisa mengantisipasi perubahan zaman yang seringkali bergerak lebih cepat dengan kebijakan yang tepat dan bisa dipertanggung-jawabkan.
  • Ketujuh : Quwwatun Nasyr wal Bina` wa Tanmiyatil Kafa`ah
    Yaitu kemampuan untuk menyebarkan fikrahnya kepada khalayak luas dan diikuti dengan pembinaannya sampai memilik jumlah kader yang besar dan berkualitas. Juga diikuti dengan pengembangan sumber daya manusianya. Tiga langkah ini tidak mungkin ditinggalkan, sebab satu dengan lainnya akan terkait dengan erat. Harakah yang tidak bisa menyebarkan fikrahnya pastilah tidak akan berkembang. Sebaliknya, punya banyak pengikut tapi tidak mampu membina, hanya akan melahirkan kumpulan

    massa yang cair. Dan bila tidak mampu mengembangkan sumber daya manusia yang dimiliki, harakah ini akan dipenuhi dengan orang-orang yang kurang produktif sehingga malah akan membebani harakah itu sendiri. Maka pengembangan potensi SDM menjadi sesuatu yang mutlak buat sebuah harakan yang besar agar terjadi diverensiasi kerja dan akfititas.
  • Kedelapan : At-Tanzhim Al-Matien
    Yaitu struktur internal yang solid. Sebab harakah yang punya pengikut banyak tapi tidak tertata rapi bisa dengan mudah diruntuhkan atau disusupi oleh lawan. Angka pendukung yang banyak tidak akan membuat lawan menjadi takut, sebaliknya malah akan menjadi bulan-bulanan bahkan akan dimanfaatkan untuk kepentingan lawan. Sebaliknya, bila semua pendukung itu terbina dengan baik dan terstruktur dengan rapi, akan menjadi sebuah kekuatan yang efektif dan tentu saja amat ditakuti lawan.
  • Kesembilan : At-Tadarruj fil Khutuwath
    Yaitu kemampuan membuat fase-fase langkah dan kebijakan yang tepat sesuai dengan waktu dan kondisi realitas lapangan. Tentu saja dengan membuat skala prioritas berdasarkan kajian yang ilmiyah serta pandangan yang mendalam dari para pengamat dan ahli di bidangnya. Langkah yang melompat terlalu jauh dengan memaksakan kemampuan tidak akan menghasilkan sesuatu yang permanen. Dan langkah yang tidak teratur justru akan membuat kebijakan harakah menjadi semerawut serta membingungkan pengikutnya.
  • Kesepuluh : Intima`
    Yaitu komitmen harakah itu yang harus terbukti selalu setia mengacu kepada kepentingan Islam. Sebab harakah yang terbukti tidak punya komitmen pada garis perjuangannya, akan ditinggalkan oleh umat.
  • Sumber: internet

Aqidah SalimahTidak ada sumber yang paling patut kita rujuk kepadanya, untuk kita minum aqidah salimah kecuali al Qur’an dan Sunnah Rasulullah s.a.w. Apakah yang baharu datang kepada Semenanjung Tanah Arab yang lantas menghapuskan Jahiliah dan meninggalkan untuk kita sebaik-baik ummah yang dikeluarkan untuk kebaikan manusia? Yang datang itu ialah turunnya wahyu, turunnya al Qur’an pada Muhammad s.a.w lalu dia mengajarkannya kepada manusia. Lalu Rasulullah s.a.w membentuk diri mereka menjadikan mereka laki-laki aqidah yang sebenarnya.

Di tangan merekalah dibangunkan daulah Islamiah, negara Islam yang tulin dan membawa rahmatul lil’alamin. Uslub al Quran itu di dalam menjelaskan aqidah adalah
sebaik-baik cara dan yang paling sempurna yang mengikat aqidah dengan hati lalu dia memancarkan mata air iman:

“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itu Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaanNya ke jalan keselamatan dan dengan kitab itu pula Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gelita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizinNya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Al-Maidah: 15 &16)

Uslub al Quran, cara al Quran dalam memuaskan dan memenuhkan hati dengan aqidah tauhid, hari kebangkitan dan pembalasan, adalah uslub yang indah dan menakjubkan, mudah dan memudahkan:

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Al-Qamar: 17)

Sebagaimana juga sunnah Rasulullah s.a.w itu yang menerangkan dan menjelaskan kitab Allah, ada padanya segala yang memberi pertolongan pada tiap-tiap orang yang suka menegakkan aqidah Islam dalam dirinya dan benarlah Rasulullah s.a.w.:

“Aku tinggalkan kepadamu dua perkara selagi kamu berpegang dengan keduanya, kamu tidak akan sesat selama-lamanya, iaitu kitab Allah dan sunnah ku, cara hidup ku.”

[Utz Mustafa Masyhur]

PemimpinDalam alam demokrasi, memilih pemimpin merupakan ritual penting.Pemimpin seperti apa yang Anda pilih ?

Pertanyaan memilih bukan hanya soal selera karena dia ganteng, banyak dukungan petinggi atau dan kampanyenya unlimited. Seperti halnya tindakan lainnya, seseorang bertindak tidak hanya dihitung niatnya juga caranya.

Sebuah tindakan apapun pertanggungjawaban tetap kepada Allah SWT. Manusia hanya perantara saja meskipun dia seorang pemimpin tinggi.

Jika Anda memilih seseorang yang menjadi pemimpin sudah wajar menginginkan pemimpin yang mengajak kepada kebaikan, bukan kepada keburukan. Pemimpin dan rombongannya yang mengajak kebaikan akan terlihat dari siap yang mendukung pemimpin itu. Pemimpin yang berkawan dengan orang-orang yang sudah dikenal sebagai manusia yang tidak mendukung kepada kebaikan maka tunggulah kerusakan di muka bumi.

Pemimpin yang mengajak kebaikan niscaya dia ingat kepada Sang Maha Pencipta. Pemimpin seperti itu sadar bahwa dirinya adalah hamba Allah, bukan hamba kekuasaan atau hamba kekuatan.

Disinilah kriteria pentingnya: pemimpin adalah hamba yang shaleh. Seorang hamba yang shaleh memiliki kualitas Aqidah yang salimah. Aqidah yang menyelamatkan dirinya dan umatnya. Dia memiliki kualitas Ma’rifatullah yang sangat kuat. Tidak hanya tampil dalam peribadatan seperti sholat tetapi juga ibadah lainnya termasuk kawan-kawan di sekitarnya.

Aqidah yang salimah tidak hanya memberikan keteduhan, panduan dan inspirasi bagi sang pemimpin dalam mengarungi kampanye dan pemilihan tetapi juga menjadi panduan untuk apa kekuasaan di tangannya nanti. Kesadaran bahwa kekuasaan ini bersifat sementara dan tidak yang abadi di dunia ini kecuali amal shaleh, maka aktualisasi dari pemimpin yang memiliki komitmen kuat dalam keimanannya, adalah mempersembahkan program dan kepribadiannya yang terbaik untuk kemajuan umat.

TarbiyahPolitik sering diartikan sebagai sebuah tipu muslihat. Politik kotor. Politik penuh tipu daya. Berbagai istilah tidak sedap mengikuti kata politik ini.

Jadi kalau ada dakwah di bidang politik, rasanya tidak masuk akal.

Dakwah adalah seruan kepada Islam secara kaafah. Seruan masuk kedalam Islam yang sempurna. Islam yang telah mengatur segala aspek kehidupan ini. Inilah dien yang telah diturunkan Allah SWT untuk umat manusia hingga akhir jaman. Panduan hidup generasi terakhir anak cucu Adam AS.

Mungkinkah tidak ada aturan mengenai unsur kemasyarakatan termasuk didalamnya tata negara? Mustahil itu terjadi. Allah pencipta manusia, tahu bagaimana manusia hidup bermasyarkat dan bersuku-suku.

Dalam konteks modern politik adalah sebuah tata cara dalam mengatur kehidupan masyarakat di dalam pemerintahan. Politik terkait dengan cara bagaimana mengelola sumber kehidupan masyarakat banyak seperti air, sumber daya alam dan sumber daya hayati. Jadi kalau tidak ada aturan dalam Islam cara mengelola lingkungan sosial, amat mustahil cara berfikir pendek seperti itu.

Jadi politik, sepertinya kehidupan ekonomi dan sosial budaya sudah ada norma-norma Islam di dalamnya.

Persoalannya, dunia politik sekarang banyak diatur oleh orang yang tidak memperhatikan dan menghormati Dien Islam. Mereka mengatur kehidupan politik dengan fikiran sendiri. Inilah pangkal masalahnya.

Dakwah di bidang politik adalah ajakan mengembalikan tata cara pengurusan masyarakat kedalam suasana yang teduh dan Islami. Inilah panggilan yang sesuai dengan fitrah manusia dimanapun dia berada. Tidak ada manusia di dunia ini yang tidak diciptakan Allah SWT dan tidak satupun mahluk manusia yang tidak akan kembali kepada Allah SWT. Jadi wajarlah bahwa manusia yang berakal menghormati aturan pencipta-Nya dan kepada siapa dia kembali.

Dakwah dalam politik mungkin masih asing terdengar, itu disebabkan manusia sudah jauh dari nilai-nilai Islami dalam kehidupan bermasyarakat. Mereka lebih puas dengan aturan misalnya tatanan demokrasi.

Sudah saatnya mengenal lebih jauh bagaimana tata cara dakwah dalam politik.

Trend di Indonesia, menjadi anggota DPR merupakan salah satu – bukan satu-satunya – berdakwah di bidang politik. Parlemen atau DPR merupakan sebuah instrumen dalam pemerintahan modern. Maka menampilkan sosok Islami saat dalam meluluskan sebuah peraturan merupakan sebuah langkah brilian untuk berdakwah.

Sosok politisi yang tidak hanya bertanggung jawab kepada konstituen tetapi lebih dari itu, dia bertanggung jawab terhadap Allah Maha Pengasih. Dengan kehadiran dirinya di panggung parlemen inilah kemudian pertanggungjawabannya akan sangat bersih karena merasakan pengawasan langsung dari-Nya.

Mungkinkah dakwah di bidang politik ? Ternya sangat mungkin dan bahkan merupakan keniscayaan.

 Summarized from a treatise done by Dr. Saleh Al-Fouzan, and adopted from HUDAA Magazine, published by Masjid Al-Istiqaamah, NYCIMPORTANCE Syahadah- Definitely there could be no greater and more important a statement than ‘Laa ilaaha illa Allah’ (there is no deity worthy of worship but Allah).- It is the statement of declaration of belief in the Tawheed of Allah which is the dividing line between Imaan and kufr – It was the call of all of the previous Messengers and Prophets.- Allah (T) Himself attested to the importance of this statement in the Quraan:

He (T) said: “…and know that Laa ilaaha ill Allah (that there is no deity worthy of worship but Allah)…” [49:19, 20:8, 3:18, 59:22-3]

As long as this statement is an obligation for an unbeliever to declare in order for him to become a Muslim, and also, since a person who pronounces it faithfully his property and life are safeguarded in this world, it becomes an obligation upon any Muslim who wants to understand the Deen of Islaam to realize its meaning, merits, principles, conditions and its place in life.

- Remembering Allah (Dhikr Allah) is one of the most important commandments of Allah. This He Himself commanded in many verses of the Quraan, especially after the performance of important religious obligations:

“…Then when you leave Arafat, remember Allah (by glorfying and praising Him) at the Mash`ar il-Haraam. And remember Allah (by invokingAllah for all good) as He has guided you…” [2:198]

“Then when you have accomplished your ‘Manasik’ (all the rights of Hajj); remember Allah as you remember your father with a strong remembrance…” [2:200]

He (T) also said:

“…and establish prayers for My remembrance.” [20:14]

The best way to remember Allah is described to us in the Hadeeth of the Messenger (S), he said:

“…and the best (supplication) I and the other prophets who were sent who were sent before me proclaimed was: There is no deity worthy of worship but Allah, He is Alone and has no partner. To Him belongs the Ownership (of everything), and to Him belongs all Praise, and He has total power over all things.” [Laa ilaaha ill Allah, wah.dahu laa shareeka lahu, lahul mulku wa lahul h.amdu wa huwa `alaa kulli shay'in Qadeer.] At-Tirmidhi

The Messenger of Allah (S) also said: “The best remembrance of Allah is to say ‘laa ilaaha ill Allah’ (there is no deity worthy of worship except Allah).”

All of the above points highlight the importance of this ‘kalima’ which we will try to explain in some more detail so that a clearer understanding of it can be achieved.

THE PLACE OF LAA ILAAHA ILL ALLAH IN THE LIFE OF A MUSLIM

- It is pronounced daily by him in:

(a) The call to prayer.

(b) At the beginning of their prayers

(c) During Tashahud.

(d) During times of ‘Dhikr’, which is before and after prayers, in the

late evening and also in the early mornings.

(e) With this ‘Kalima’ did Allah send all His Messengers.

(f) About it and its obligations will people be questioned

(g) To establish it when the swords of Muslims are drawn for Jihaad.

(h) The first question in the grave will be about this ‘Kalima’.

(i) It is the key to Al-Jannah.

(j) It is what the Muslims are commanded to invite to as is estbalished in the Hadeeth of Muadh when he was sent to Yemen to call the people to Islaam. The Messenger of Allah (S) said: “You are going to encounter with a people of the Book, so let the first thing you call them to is the proclamation of ‘laa ilaaha ill Allah’ (there is no deity worthy of worship but Allah)…” [Bukhari]

THE MERITS OF THE ‘KALIMAH’ (LAA ILAAHA ILL ALLAH)

Abu Sa`eed al-Khudri said, that the Messenger of Allah (S) said:

“Moses (AS) said: O Lord! Teach me something that I can remember You with and I can supplicate You with. He (T) said: Say ‘Laa ilaaha ill Allah’, O Musaa. He (Musaa) said: All of your servants say this. He (T) said: If the seven Heavens and those who dwell in them other than Me and the seven Earths are put into one pan (of the scale) and ‘Laa ilaaha ill Allaah’ is put into the other; ‘Laa ilaaha ill Allah’ would be heavier.” [Ibn Hibbaan and Haakim]

The Messenger of Allah (S) said:

“The best Dhikr (remembrance) is ‘Laa ilaaha ill Allah’ (There is no deity worthy of worship but Allah)…”

The Messenger of Allah (S) said:

“A person from my Ummah will be summoned in the presence of all creatures on the Day of Judgement. Ninety-nine records (of his deeds) would be unfolded, each extending as far as the range of the vision can stretch, then he would be asked: ‘Do you deny any of these deeds?’ He will reply: ‘No, My Lord.’ He will be asked: ‘Do you have any excuse or any good deed?’ The man who will be scared will say: ‘No’ It will be said to him: ‘Yes you have some good deeds. No iniquity will befall you.’

A card wll then be shown to him, on it will be written: ‘Laa ilaaha ill Allah, Muhammad Rasool Allah.’ He will say: ‘O Allah! What cards and records are these.’ It will be said to him: ‘No injustice shall befall you.’ The (ninety-nine) records will then be placed in one pan of the scale and the card on the other. The card will then outweigh the records.” [At-Tirmidhi and Al-Haakim]

All of These Merits of the ‘Kalimah’ Are Summarized by Ibn Rajab As Follows:

- Al-Jannah is its reward.

- Uttering it before death will cause one to be admitted to the Jannah.

- It is a refuge from the Fire of Hell.

- It is a cause for a Muslim to be forgiven.

- It is the best of good deeds.

- It wipes out sins.

- It traverses all bariers in order to be accepted by Allah, the Almighty

- It is a statement whose pronouncer will be accepted by Allah.

- It is the best proclamation ever uttered by the Prophets.

- It is the best celebration of His praises.

- It is the best of deeds and it multiplies into many good deeds.

- It is a protection against Satan.

- It is a safety from the darkness and the punishment of the graves and from the Day of Resurrection.

- The eight doors of Paradise will be accessible to its pronuncer.

- People who pronounce it will certain come out of the Fire of Hell, even after they have been cast into it for falling short of observing its obligations.
Dr. Saleh Al-Fouzan

Source: www.ummah.com

Sajadah dalam blog ? Apa itu ? Mungkin kalimat itu terasa aneh. Namun benar, dunia blog telah berubah menjadi lautan sajadah untuk memuji nama-nama suci Allah SWT dan Nabiyullah Muhammad SAW. Blog telah menjadi lautan dzikir.

Kemanapun Anda memandang, blog dzikir merupakan bagian dari dunia Web sekarang. Blog dzikir telah melanda dunia kemanapun Anda browsing. Blog penuh dengan dzikir kepada Allah SWT telah menjadi bagian dari festival kehidupan menuju kesempurnaan. Festival kehidupan, kata Sayyid Qutb, yang telah diciptakan-Nya untuk mengabdi kepada-Nya.

Jadikan blog Anda forum unutk dzikir dan fikir. Dengan rangkaian kalimat yang penuh kerinduan kepada Allah SWT, maka blog Anda menjadikan dunia blog penuh rahmat. Adakah tulisan yang lebih baik selain seruan kepada Ilahi ?

Setiap kalimat adalah goresan jihad. Tidak untuk membuat permusuhan namun jihad dalam mengobarkan sinar kasih sayang yang menyentuh kalbu kita semua.