Archive for September 2007

Sep 28

Menjaga Amanah

No comment - Post a comment

Oleh: Ustadz Hilmi Aminudin 

“Wahai orang-orang yang beriman, ruku dan sujudlah kamu serta beribadahlah kepada Rabb kamu dan kerjakanlah segala kebajikan, agar kalian mendapatkan kemenangan.”

Sebagai munthalaq kita ambil nilai-nilai rabbani dalam al Qur’an yang terkait dengan muwashafat (ciri) dan khashaish (karakteristik) seorang mukmin. Disebutkan dalam surat Al Mukmin, bahwa salah satu ciri orang mukmin adalah mushallun (menegakkan shalat). Kemudian yang berkaitan erat dengan komitmen kita berdakwah dan berjihad adalah: “Dan orang-orang yang memenuhi amanat dan janji mereka…”.

Hal itu harus menjadi titik tolak kita, bahwa salah satu karakteristik untuk membangun masyarakat muslimin adalah orang-orang yang selalu memelihara amanah yang diberikan Allah kepada manusia, yaitu wazhifah ibadah dan khilafah. Kewajiban itu telah ditawarkan sebelumnya kepada langit dan bumi, tapi mereka semua menolaknya, kemudian manusia yang siap menerima. Semoga kita tidak termasuk apa yang disebut Allah dalam akhir ayat: “Sesungguhnya manusia dalam keadaan zalim dan bodoh”.

Kita harus betul-betul menjaga amanah. Penerimaan manusia atas amanah telah dikokohkan dengan ahd (janji) dan aqd (komitmen) yang dilakukan bersama-sama dan berulang-ulang dalam bentuk ahd al intimai al islami dan ahd al intimai al jamai yang dilaksanakan dengan beragam wazhifah, posisi dan penugasan.

Harus kita sadari pula betapa amanah itu akan dipertangungjawabkan, “Sesungguhnya setiap janji akan dimintai pertanggungjawaban”. Karena itu tepatilah janji. Apabila Allah menyebutkan ikatan pernikahan sebagai basis masyarakat islami dengan istilah mitsaqan ghalizhan, maka ahd untuk dakwah dan upaya menegakkan khilafah sudah tentu lebih berat lagi.

Dalam al Qur’an, Allah bukan saja memberikan janji pahala yang besar, apabila kita dapat melaksanakan dan memenuhi amanah, tetapi juga memperingatkan kita dengan azab, apabila kita tidak menepatinya. Karena itu kita harus berupaya agar termasuk orang yang menepati janji.

Dan orang-orang yang menegakkan kesaksian (syahadat)-nya.” Selanjutnya kita harus menegakkan syahadah rabbaniyah dan syahadah amaliyah islamiyah. Kita membenarkan universalitas (syumuliyah) dan integralitas (takamuliyah) ajaran Islam sebagai wujud syahadah dakwah rabbaniyah. Kita berupaya mengambil pancaran nilai-nilai rabbani dari Al Qur’an, agar langkah-langkah dakwah tetap berada dalam khuthuwat ar rabbaniyah dan khuthuwat al Islam.

Dengan menegakkan syahadah akan amaliyah Islam, kita mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Islam yang selama ini selalu disudutkan dengan isu-isu kekerasan dan kerusakan harus kita bersihkan, dan kita buktikan bahwa Islam benar-benar rahmat bagi semua golongan. Dengan tegaknya Islam, orang kafir sekalipun akan terlindungi oleh rahmat Islam, kecuali orang-orang yang zalim dan memang dimusuhi oleh semua orang.

Dengan semangat ibadah dan berjamaah, kita pun akan dapat menanggulangi segala macam persoalan yang kita hadapi saat ini. Dalam berjamaah, kita dituntut untuk bersabar atas kekurangan yang mungkin kita temui pada saudara kita, sebab sesungguhnya kita tak akan pernah mendapatkan seorang teman tanpa kekurangan sedikitpun, dan sebenarnya kita sendiri memiliki banyak kekurangan.

Seorang penyair pernah berkata; “Barangsiapa mencari saudara yang tak memiliki cacat, maka ia akan hidup sendirian tidak punya kawan”. Penyair lain juga mengatakan: “Perhatikanlah saudaramu…perhatikanlah saudaramu. Sesungguhnya orang yang tidak memiliki saudara (kawan) adalah laksana seorang yang akan masuk ke medan tempur tanpa senjata”.

Modal utama kita ber-amal jama’i adalah berjalannya proses: tawashau bil haq, wa bis shabr, wa bil marhamah. Saya berharap dengan menjalankan proses ini dengan sebaik-baiknya, sehingga nanti kita bisa tampil sebagai “khalqan akhar” (makhluq baru) yang lebih berkualitas.

Sumber: dakwatuna.com

AMALAN Rasulullah SAW dan sahabat pada malam akhir Ramadan untuk mengisi Lailatul Qadar. Antaranya:
Mandi, berpakaian indah dan berharum-haruman

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi `Asim bahawa Huzaifah pernah mengerjakan qiyam Ramadan bersama Rasulullah SAW dan melihat bahawa Baginda mandi pada malam itu.

Ibnu Jarir pula berkata bahawa sahabat menyukai mandi pada malam-malam akhir Ramadan.

Demikian pula beberapa riwayat daripada sahabat seperti Anas bin Malik dan ulama pada masa Tabi’in menyatakan bahawa mereka akan mandi, memakai baju indah dan berharum-haruman apabila berada pada akhir Ramadan.

Apa yang dilakukan oleh Rasulullah, sahabat dan Tabi’in ini adalah satu upaya untuk menyambut dan meraikan kedatangan Lailatul Qadar, sambil berdoa mendapatkan keampunan dan keberkatan malam itu.
Melaksanakan solat sunat, iktikaf dan membaca al-Quran.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan satu hadis daripada Aishah, bermaksud: “Adalah Rasulullah apabila telah masuk 10 akhir daripada Ramadan, maka Baginda akan menghidupkan malam-malamnya, membangunkan keluarganya dan mengikat pinggangnya.”

Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Amru bin `Ash bermaksud: “Barang siapa yang solat pada malam Ramadan dan membaca 10 ayat daripada al-Quran maka dia tidaklah dicatat sebagai orang yang lalai.”

Mengerjakan solat dan membaca al-Quran pada pada malam yang akhir ini sangat penting hingga dalam salah satu riwayat dikatakan bahawa Rasulullah SAW melakukan solat pada malam Ramadan dan membaca al-Quran dengan tertib.
Memperbanyak doa.

Rasulullah SAW bersabda doa adalah otak segala ibadat. Doa juga kunci daripada semua ibadat. Aishah diperintahkan oleh Baginda untuk memperbanyak doa pada 10 malam terakhir Ramadan.

Dalam satu hadis daripada Aishah diriwayatkan at-Tirmizi, Aishah diajar oleh Rasulullah SAW membaca doa pada malam al-Qadar.

Ulama bersepakat bahwa doa yang paling utama pada malam al-Qadar adalah doa yang meminta keampunan dan kemaafan daripada Allah. Perkara ini seperti doa yang diajarkan Rasulullah kepada Aishah. Doanya berbunyi: “Allahumma innaka afuwun tuhibbul afwa fa’ fu anni (maksudnya, Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun, yang suka Maha Mengampun, maka ampunilah aku ini).”

Pada malam itu Allah akan mengabulkan semua permohonan dan doa, terkecuali terhadap empat golongan manusia. Ibnu Abbas berkata: “Semua doa pada malam itu diterima terkecuali doa orang meminum arak, anak yang derhaka kepada ibu bapa, orang yang selalu bertengkar dan mereka yang memutuskan silaturahim.”

Sumber: Ramadhan Mubarak

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (QS Al-Baqarah: 185). 

Pendahuluan 

Puasa  di bulan Ramadhan erat kaitannya dengan Al Qur’an. Dalam surat yang berkaitan dengan turunnya kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan disebutkan pula mengenai diturunkannya Al Quran. Bahkan dalam Tafsir Ibnu Katsir dikatakan, Kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada para Nabi lainnya juga pada bulan Ramadhan. Oleh sebab itulah maka kedudukan bulan Ramadhan penting sekali. Dari bulan inilah bermula firman-firman Allah yang mulia ini disampaikan kepada Rasulullah SAW untuk generasi terakhir dari umat manusia. Al Quran yang turun berangsur-angsur diturunkan Mekkah dan Medinah memberikan kerangka yang jelas bagi umat manusia bagaimana way of life yang dikehendaki oleh-Nya. 

Satu generasi terbaik zaman Rasulullah SAW telah membuktikan dengan berbekal Al Qur’an ini seluruh pencapaian peradaban bisa diwujudkan. Prestasi itu tidak hanya secara individual tercipta manusia-manusia shaleh kelas dunia tetapi juga secara kolektif Al Qur’an telah mencetak generasi baru yang berkiblat kepada pengabdian semata-mata kepada Allah SWT. Generasi umat Islam pertama yang tidak diperhatikan dunia telah melahirkan peradaban selama tujuh abad dan dibanggakan sampai sekarang. Mereka lahir ke pentas peradaban dunia dengan panji-panji Islam yang didasarkan kepada Al Qur’an. 

Begitulah Al Qur’an dalam kehidupan ini. Jika terdapat generasi yang bisa membentuk peradaban baru melalui Al Quran yang mulia inilah maka saatnya kita merenungkan bahwa generasi seperti itu telah dijanjikan pula oleh Al Qur’an untuk masa-masa lainnya hingga empat belas abad kemudian. Semuanya bisa dicapai dengan syarat-syarat yang telah ditempuh oleh generasi salafusalih. Rasulullah bersabda: 

“Puasa dan Al-Qur`an itu akan memberikan syafa’at kepada hamba di hari kiamat. Puasa akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari makan dan syahwat, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at untuknya.’ Sedangkan Al-Qur`an akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at untuknya.’ Maka Allah Swt. memperkenankan keduanya memberikan syafa’at.” (HR Imam Ahmad dan Ath-Thabrani) Tidak lama lagi, peristiwa turunnya Al Qur’an yakni Nuzulul Al Qur’an akan diperingati. Saatnya kita mengenal lebih jauh mengenai ayat-ayat pertama yang diturunkan kepada umat manusia melalui Rasulullah SAW. Dan juga kewajiban kita berkaitan dengan Al Qur’an. 

Empat kewajiban 

Dari berbagai kajian ulama, dapat disebutkan disini sedikitnya empat kewajiban kita kepada Al Qur’an. Dalam bulan Ramadhan ini saatnya kita juga bersama-sama memperbaharui sikap kepada Kitab Suci terakhir ini. Pertama, seperti disebutkan dalam Surat Al Baqarah bahwa Al Qur’an adalah Al Huda dan Al Furqan. Pemandu dan Pembeda. Dalam ayat lain seperti surat Al Fath ayat 28 dimana Rasulullah menerima Al Huda dan Dinul Haq. Maka Al Quran merupakan sebuah panduan kehidupan secara individu maupun masyarakat. Tingkat nasional maupun internasional. 

Disinilah kita diperintahkan untuk meyakini sedalam-dalamnya bahwa sistem kehidupan yang dibawa Al Qur’an merupakan sesuatu yang haq dan menyelamatkan umat manusia. Seluruh petunjuk Al Qur’an merupakan kerangka kesuksesan kehidupan di dunia dan akhirat. Ambil saja sebuah surat seperti Al Alaq ayat satu Iqro (Bacalah) maka tersurat dan tersirat kewajiban kita untuk menuntut ilmu setiap hari tanpa henti dari sejak lahir sampai liang kubur. Kedua, karena adanya keyakinan itulah Al Qur’an dijadikan sebagai hiasan dalam kehidupannya. Kemanapun dia pergi baik dalam kepentingan individu, keluarga dan komunitas Al Qur’an dijadikan sebagai sandaran utamanya. Al Qur’an menjadi perhatian kita setiap hari apalagi di bulan Ramadhan baik dengan cara mendengarkannya sesering mungkin, dibandingkan mendengar lagu-lagu pop; membacanya secara sungguh-sungguh, selembar demi selembar. Dan tentu saja kecintaan dan keyakinan itu akan mendorong kesungguhan dalam menambah khasanah bacaan Al Qur’an.“Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (QS Al-A’raf: 204).Kita dianjurkan untuk tadarus Al Quran secara rutin Dikisahkan bahwa Umar bin Abdul Aziz apabila disibukkan oleh urusan kaum Muslimin, beliau mengambil Al-Qur`an dan membacanya walaupun hanya dua atau tiga ayat. Beliau berkata, “Agar saya tidak termasuk mereka yang menjadikan Al-Qur`an sebagai sesuatu yang ditinggalkan.” Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka ia memperoleh satu kebaikan, dan satu kebaikan berlipat sepuluh kali. Aku tidak katakan alif lam mim itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf” (HRTirmidzi). 

Ketiga, . “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS Shaad: 29).Ali bin Abi Thalib Ra. berkata, “Ketahuilah tidak ada kebaikan dalam ibadah kecuali dengan ilmu, tidak ada kebaikan dalam ilmu kecuali dengan pemahaman, dan tidak ada kebaikan dalam membaca Al-Qur`an kecuali dengan tadabbur.”Oleh sebab itulah kewajiban kita adalah menghayati Al Qur’an. Menyerap semua hikmah dalam Al Qur’an adalah kewajiban kita. Menyelamati dan merenungkan ayat-ayat Al Qur’an serta menghayati kebesaran Allah SWT dengan firman-firmannya seyogyanya menjadi keseharian kita. Terakhir, sesuatu yang wajar apabila kita memiliki keyakinan kepada Al Qur’an sebagai sumber keberhasilan hidup ini, maka dorongan untuk mengamalkannya menjadi alamiah. Artinya dalam diri tidak ada paksaan karena meyakini dengan jalan inilah keselamatan dan kesuksesan hidupnya dapat diraih.Allah berfirman dalam surat Al An’am:155. “Dan Al Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat” (QS Al-An’am: 155).  

Penutup Rasulullah menyatakan orang yang jenius adalah orang yang mempersiapkan dirinya untuk kehidupan hari akhir, kehidupan yang abadi. Wal akhirati khairul minal uula. Kehidupan hari akhir lebih baik dari kehidupan dunia. Al Qur’an yang diturunkan pada bulan Ramadhan ini adalah panduan kesuksesan mempersiapkan kehidupan di hari akhirat. Jadi mereka yang membaca, mengkaji, menghayati dan mengamalkanya tergolong orang dan umat jenius.Wallahu a’lam bishshawab. (dari berbagai sumber)

Di bulan Ramadhan ini membaca tafsir Al Qur’an merupakan sebuah amal yang sangat tinggi nilainya. Selain untuk tadabur Al Qur’an tetapi juga bermanfaat menambah khasanah mengenai tafsir. Salah satu tafsir yang banyak menjadi rujukan adalah Tafsir Ibnu Katsir.

Bagi pencinta tafsir ini silahkan download di Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Ibnu Katsir.

Alternatif untuk download bisa juga di Materi Tarbiyah

Sebelumnya ada di situs lain namun ternyata telah terputus. Semoga perbaikan ini semakin memudahkan dalam mencari sinar ilmu melalui tafsir ini.

Bagaimana cara downloadnya? Salah satu cara nya silahkan kunjungi alamat file itu di http://www.ziddu.com/download/6111821/Tafsir-Ibnu-Katsir-I-201400.pdf.html.

Nanti akan keluar tampilan seperti ini:

download1

Kemudian masukkan nomor dan abjad yang dikehendaki seperti dalam tampilan ini

download2

Mengenai berapa lama dan mengapa terputus itu karena line internetnya. Biasanya kalau pagi hari sekali atau sangat malam linenya bagus.

Menjelang Ramadhan ini, membaca, mengkaji, mendengarkan Al Quran merupakan sebuah tugas suci. Anda sekarang bisa mendownload Al Quran dengan berbagai versi murotal dalam situs Mangga atau alamat barunya Free Quran.

Tidak hanya kualitas yang baik dalam rekamannya, free download Al Quran ini juga disusun dengan rapi sesuai dengan nomor surat dalam Al Quran.

Pemilik situs ini juga memberikan kesempatan dengan mudah memilih versi murotal Al Quran untuk didengarkan.

Banyak pertanyaan mengenai bagaimana downloadnya. Berikut petunjuk dengan gambar mudah-mudahan bisa menjelaskan.

Kunjungi situsnya di alamat http://freequranmp3.com/ makan akan tampil seperti gambar ini.

Quran1

Sesudah itu klik bagian kanannya salah seorang pembaca Quran terkenal  sehingga tampil gambar baru.

Quran2

Sesudah muncul klik suratnya sesuai yagn dikehendaki seperti gambar di bawah ini

Quran3

Terakhir klik surat yang akan didownload misalnya Al Fatihah. Maka akan tampil layar kecil untuk download.

Quran4

Semoga penjelasan ini mempermudah pengunjung mendapatkan rekaman audio Al Quran.


Video thumbnail. Click to play
Click To Play


Video thumbnail. Click to play
Click To Play