Archive for July 2008

Jul 28

Al Mathurat

5 comments - Post a comment

Setiap mahluk hidup pasti mati. Ini aksioma kehidupan yang diakui di Barat maupun Timur. Untuk mengetahui kadar kehidupan seseorang dan kadar ketahanan hidup mahluk hidup tidak memerlukan kecerdasan tinggi. Anak-anak juga tahu bahwa mati adalah sesuatu yang dialami orang atau mahluk hidup.

Hanya setiap orang sering alpa bahwa kematian senantiasa mengintai, bahwa batas waktu kita hidup di dunia sama sekali tidak diketahui.

Orang yang memiliki kesadaran akan batas-batas dalam kehidupan itulah yang disebut Rasullullah orang cerdas atau orang jenius.

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

“Orang yang cerdas ialah orang yang mengendalikan dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah kematian.” (HR Tirmidzi)

Maukah kita disebut orang jenius? Siapapun itu manusia sangat gembira kalau digolongkan orang yang memilki kecerdasan tinggi.

Dengan prinsip ini maka sadar akan waktu terakhir kehidupan di dunia ini menjadi bagian dari kecerdasan yang esensial dalam kehidupan. Sejarah telah mengajarkan Firaun yang mengaku Tuhan pun dan yang memerintahkan pembunuhan semua bayi laki-laki, akhirnya menelan kematian. Jejaknya bisa kita baca dan muminya bisa kita saksikan di Mesir.

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ

وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Al-Jumu’ah 8)

Peringatan ini mengharuskan kita senantiasa dalam keadaan sadar apakah sedang sibuk atau tidak, apakah mau tidur atau baru terbangun. Apakah sedang gembira atau sedih.

Semuanya diukur oleh kesadaran akan kematian.

Pasukan multinasional yang terdiri dari Kaum Musyrikin dari Mekah dilengkapi dengan Kaum Yahudi di Jazirah Arab telah bertekad untuk menghabisi Umat Islam sekali dan selamanya. Setelah kekalahan Perang Badar dan ketidakberhasilan Perang Uhud, Kaum Musyrikin masygul hatinya. Menyaksikan Islam berkembang dengan cepat, kegeraman dari para penyembah berhala Latta dan Uzza ini semakin tinggi.

Bujukan Yahudi untuk melakukan koalisi multi suku untuk menghabisi pangkalan umat Islam di Medinah menyebabkan semangat kaum Musyrikin bangkit lagi. Abu Sofyan langsung memimpin pasukan koalisi ini untuk menyerang habis-habisan benteng umat Islam.

Menurut catatan sejarah, Perang yang terjadi pada tahun kelima Hijriyah pada bulan Syawal. Di tengah panen yang tidak menguntungkan dan Medinah dalam kondisi minus pangan, umat Islam harus menghadapi perjuangan mati dan hidup.

Bayangkan saja, pasukan koalisi ini telah berhasil mengumpulkan balatentara sampai 10.000 personil termasuk didalamnya pasukan berkuda dan artileri. Kita bisa menggambarkan bagaimana persiapan logistik dari seluruh suku yang memusuhi Islam menempuh perjalanan jauh antara lain dari Mekkah yang bisa berlangsung lebih dari dua minggu perjalanan berkuda dan unta.

Menghadapi kekuatan luar biasa kaum musyrikin ini, Rasulullah SAW bermusyawarah. Terkumpul kekuatan 3000 personil prajurit. Namun bisakah 3000 ini berhadapan frontal melawan 10.000. Perhitungan rasional mungkin sulit. Umat Islam tidak mau hanya mengandalkan keberanian tetapi juga taktik dan strategi yang jitu. Umat Islam memutuskan tidak menghadang mereka di luar Medinah.

Akhirnya berkat ide Salman Al Farisi maka bagian yang rawan dari Medinah dibuatkan parit yang lebar sehingga pasukan berkuda menjadi tidak efektif dan parit juga menutupi seluruh bagian yang bisa dilalui dengan mudah kecuali di pegunungan dan perkebunan kurma.

Hampir satu bulan pasukan multi suku ini mengepung umat Islam tanpa berhasil menaklukkan Meddinah. Usaha penyerangan menjadi sia-sia karena dapat dipatahkan umat Islam yang melepaskan panah dari seberang parit kepada siapa yang mendekat. Kita bisa membayangkan bagaimana dalam waktu sekitar satu bulan ini, pasukan koalisi berfikir keras untuk menembus benteng parit ini. Kalkulasi mereka akhirnya gagal menaklukan Medinah.

Beberapa pelajaran antara lain:

1. Menghadapi pasukan besar, kuat, canggih teknologi, umat Islam harus berfikir kreatif, tidak frontal.

2. Inovasi baru yang diperkenalkan Salman dari Iran mengharuskan umat Islam sekarang meminjam teknologi dan bantuan pengetahuan dari umat yang lain.

3. Kekompakan umat Islam dalam membangun parit simbol semangat persatuan.

4. Soliditas umat menjadikan kekuatan 10.000 tentara yang siap temput tidak berdaya.

5. Pengkhianat dari umat Yahudi akhrinya dihukum. Hati-hati terhadap tusukan dari belakang.

Kisah selengkapnya mengenai dahsyatnya sekutu untuk menaklukan Medinah ini dapat kita baca antara lain:

- Wikipedia: Battle of Trench

- Peta perang Khandak

- Perang Ahzab dalam Al Quran