Di tengah cuaca panas seperti di Indonesia, Ramadhan memang tidaklah ringan. Rasa haus yang sering dirasakan apalagi ketika menempuh perjalanan kerja setiap hari bukanlah sesuatu yang ringan. Puasa di tengah panas terik dan di kendaraan yang tidak nyaman membuat lidah kering dan rasa haus yang kuat. Puasa menjadi sesuatu yang membuat kita tidak nyaman.
Bisakah ibadah puasa ini menjadi kenikmatan seperti yang banyak dijelaskan para alim ulama? Ketika lapar melanda perut kita sementara pekerjaan tidak berhenti atau harus bekerja secara fisik maka puasa menjadi sebuah ujian tersendiri.
Lalu bagaimana menikmati Ramadhan ini? Kunci dari semua ini tentu kita pahami adalah pemahaman spiritual mengenai ibadah puasa ini sendiri. Saum Ramadhan akan memberikan nilai apabila kita paham akan makna meninggalkan makan dan minum ini selama siang hari. Bagi yang sudah berkeluarga juga dilarang melakukan hubungan intim selama puasa.
Nikmat Ramadhan ini bisa kita rasakan antara lain:
1. Ruh yang merupakan bagian dari pribadi kita memerlukan pembersihan sehingga derajat uluhiyah dalam diri perlahan-lahan terbentuk. Untuk mencapai derajat ruh yang bersih ini satu-satunya alat adalah meniadakan ketergantungan kepada benda-benda duniawi termasuk pangan. Dengan meninggalkan makan dan minum siang hari ini, fokus manusia kepada ruh bukan kepada fisik semata-mata. Perut yang kosong yang memberikan dimensi baru terhadap pembinaan ruh. Jika paham akan tujuan puasa ini seperti tercermin dalam surat Al Baqarah bahwa berpuasa ini menuju Taqwa makan ibadah ini diorientasikan kepada perombakan dan perbaikan ketaqwaan kepada Allah SWT.
2. Saat perut kosong ini maka fokus kepada pembersihan qalbu dan pengayaan intelektual menjadi kuat. Mata batin seyogyanya semakin tajam melihat dunia fana ini karena puasa memang akan membenturkan nafsu makan kedalam sebuah ketahanan ruhani. Mata batin yang tajam ini perlu diasah karena dunia fana ini hanyalah tempat perjalanan sementara menuju sebuah kampung akhirat yang kekal. Puasa akan menggembleng batin untuk melihat dengan kaca mata yang tajam seluruh aspek kehidupan dunia dan isinya sebagai sebuah adang persiapan menuju kampung abadi nanti.
3. Ramadhan juga bisa dinikmati karena seluruh amalan dan perbuatan baik ini dijanjikan balasan berlipat-lipat. Kedermawanan kita, kemurahan senyum, menahan nafsu (saya sedang berpuasa, katakan begitu, kalau ada yang mengajak berdebat dan berantam), membaya ayat-ayat Al Quran, mengkaji buku tafsir dan keilmuan agama menjadikan seluruh detik dan detak Ramadhan ini bernilai luhur.
4. Aspek kesehatan ketika Ramadhan ini mampir juga tidak bisa diabaikan. Penelitian kesehatan terbaru menyebutkan, berhenti makan dan minum selama waktu tertentu akan membuat tubuh lebih sehat dan tahan. Puasa merupakan sebuah ritual ibadah mulia sekaligus obat bagi fisik yang makin hari makin renta. Puasa akan membuat tubuh menjadi lebih segar dikemudian hari.
5. Menantikan malam Lailatul Qadr menjadi impian setiap Muslim. Malam turun ayat-ayat Ilahi yang lebih baik dari seribu bulan ini dinantikan mereka yang merindukan sebuah oase jiwa yang dalam sehingga kebahagiaan bisa terpancar dari bertemunya Lailatul Qadr dengan gerak ibadah kita. Inilah yang disebut-sebut seorang ulama Mesir sebagai anugrah khusus bagi umat Islam setelah umat lain juga diberikan kelebihan tertentu. Anugrah lebih baik dari seribu bulan ini menjadi pilar dan fundasi dari iman kita.
Beberapa poin menikmati Ramadhan ini masih bisa panjang daftarnya. Namun jelas bahwa Ramadhan itu berkah dan penuh dengan kegembiraan.
