Saya membaca di sebuah berita di surat kabar Surya, Surabaya mengenai anak yang bunuh diri karena sakit maag. Berikut berita yang kita bisa baca:
“Heran melihat Teguh Miswadi, 11, tidak masuk sekolah sejak Senin (18/2/2008), Sujarwo menjenguk salah satu murid pintarnya itu kemarin. Pak guru Sujarwo, 45, khawatir sakit maag Teguh kambuh, dan dia ingin membawanya ke Puskesmas.
Namun, tiba di rumah Teguh yang tinggal bersama neneknya di Desa Pupus, Kecamatan Lembeyan, Kab. Magetan,Sujarwo terkejut bukan kepalang. Di sebuah kamar yang tak terkunci di rumah setengah kayu dan setengah bambu itu,Sujarwo melihat siswa kesayangannya tergantung kaku. Teguh sudah tak bernyawa. Teguh bunuh diri.
Seutas tali tampar biru menjerat lehernya,kata Sujarwo. Tali itu diikatkan pada blandar atau kayu penopang atap. Menurut Sujarwo, Teguh gelap mata, sangat mungkin karena tidak tahan akan rasa sakit yang menyerang perut. Maag itu sering membuatnya mengerang. Penyakit ini seharusnya dilawan dengan makan teratur dan bergizi. Tapi, justru itulah yang tak mungkin didapatkan.”
Berita yang menyedihkan ini memberikan hikmah dan pelajaran kepada kita semua:
1. Jika kita memiliki tetangga yang dekat atau jauh kemudian dia sakit, maka kewajiban kita menolong dan menengoknya. Kalau bisa kita mengobatinya juga. Jangan sampai tetangga kita dibiarkan menderita kelaparan. Sudah menjadi tanggung jawab komunitas saling membantu.
2. Musuh nomor satu di Indonesia memang kemiskinan. Ini tanggung jawab para penyelenggara negara memberikan kemakmuran seluas-luasnya. Jangan sampai kelaparan kembali merenggut nyawa seorang siswa yang memiliki masa depan.
3. Tugas para ulama juga memberikan peringatan kepada para orang tua untuk memperhatikan pelajaran agama secara menyeluruh, bukan saja teori tetapi juga praktek dalam hal ini saling tolong menolong. Jangan sampai ulama hanya berceramah tanpa ada aksi yang nyata.
4. Sudah saatnya kita merenungkan untuk menolong keluarga yang terkena musibah berat ini. Sudah waktunya mengulurkan tangan sebisa mungkin menyantuni keluarga yang menghadapi ujian ini.

masya allah, masyarakat kita makin banyak yang tak peduli pada sesama
aduh aq ga bisa bayangin klo kejadian bunuh diri kyk gitu
ntar esoknya gimana jadinya klo seperti itu, memang hidup di dunia itu penuh dengan cobaan. Jadi harus lebih mendalami lg tentang ajaran islam.
iya benar !
semakin banyak seseorang kurang memahami makna musibah dan cobaan yang seharusnya menjadikan kita intan.
Merinding…rasanya…
ayo semangat ,,,,qta harus bisa peka terhadap lingkungan…
Merinding…membacanya…
ayo …qta harus bisa menjadi yang lebih baik lagi …agar bisa berbuat kebaikan yang lebih banyak lagi…
semangat y……
[...] sumber « Ingatkah Kita ? [...]
Materi kultum ini sangat bagus kebetulan saya mendapat giliran untuk mengisi kultum mohon keiklasan materi ini aku gunakan terima kasih