Karena Itulah Aku Cinta

i love you illustration

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

Kenapa?

Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.
Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap.Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.
Kamu pasti bercanda!
Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.
Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!
Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.
Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!
Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.
Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?
Nania terkesima.
Kenapa?
Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.
Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!
Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!
Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.
Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.
Tapi kenapa?
Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.
Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.
Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!
Cukup!
Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?
Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.
Mereka akhirnya menikah.

Baca juga :

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.
Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.
Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.
Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.
Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!
Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.
Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.
Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?
Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.
Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.
Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.
Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.
Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.
Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.
Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..
Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.
Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu.
Belum ada perubahan, Bu.
Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak!
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang?
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Baca juga :

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta?
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta?
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya!
Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung!
Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi
sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat.. Begitulah cinta. Aku harap dengan pernikahan ini kalian menjadi saling cinta dan mencintai lebih dari aku mencintai sahabatku ini. Untukmu yang telah menjadi seorang suami……dan untukmu yang telah menjadi seorang istri. Percayalah….bahwa Cinta itu akan menutupi segalanya

CINTA KARENA DIA……

(Kado Pernikahan YuLi & Aldo)

Baca juga :

Posted in Cerpen | Tagged , , | Leave a comment

Hindun binti ‘Uthbah

marquee love signage

Beliau adalah Hindun binti ‘Uthbah bin Robi’ah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf al-Umawiyah al-Qurasyiyah . Ibunya bernama Shafiyyah binti Umayyah bin Haritsah bin al-Auqashi bin Murah bin Hilal bin Falih bin Dzikwan bin Tsa’labah bin Bahtah bin Salim.

Hindun adalah seorang wanita yang memiliki sifat yang luhur di antara wanita-wanita di Arab. Dia adalah wanita yang fasih bicaranya, pemberani, kuat, dan berjiwa besar, seorang pemikir, penyair, dan seorang wanita yang bijak, beliau telah mengangkat kemuliaan dirinya dan nasabnya. Putra beliau yang bernama Mu’awiyah binti Abi Sofyan bercerita tentang beliau, ” Ibuku adalah wanita yang sangat berbahaya di masa Jahiliyah dan di dalam Islam menjadi seorang wanita yang mulia dan baik.”

Imam Ibnu Abdil Barr berkata tentang Hindun,”Beliau adalah seorang wanita yang berjiwa besar dan memiliki kehormatan.”

Ayahandanya menikahkan beliau dengan Fakihah binti Mughirah al-Makhzumi dan darinyalah beliau melahirkan dua anak kemudian setelah itu keduanya cerai. Beliau berkata kepada kedua orang tuanya, “Aku adalah wanita yang memiliki hak, maka janganglah menikahkan diriku dengan seorang laki-laki sebelum menawarkannya kepadaku.” Orang tuanya berkata, “Itu terserah kamu.”

Pada suatu hari orang tuanya berkata kepadanya, “Sesungguhnya ada dua orang laki-laki dari kaummu sendiri yang datang melamarmu, aku tidak akan menyebutkan nama salah satu di antara mereka sebelum aku sebutkan ciri-ciri mereka kepadamu. Adapun yang satu adalah seorang yang terhormat, terpandang kemuliaannya, engkau dapat mempengaruhinya karena kebodohannya, halus perangainya, pandai bergaul, penurut, jika kamu mengikutinya, maka dia akan mengikutimu, jika kamu menyimpang maka dia tetap bersama kamu, kamu dapat mengurus hartanya dan cukuplah kekurangannya engkau tutup dengan kecerdasanmu.”

Baca juga :

Adapun yang kedua, dia memiliki kehormatan, nasab dan kecerdasan yang tulen, gesit geraknya, berwibawa keluarganya, dia dapat mengatur keluarganya sedangkan keluarganya tunduk kepadanya, ia akan memberi kemudahan bagi mereka untuk mengikutinya, jika mereka menjauhinya itu adalah aib bagi mereka, memiliki semangat yang tinggi dan amat cepat terbangnya (lincah), kecil perutnya, jika lapar itu sudah biasa, jika berdebat tak dapat dikalahkan.

Ayahnya berkata, “Telah aku jelaskan kepadamu perihal mereka berdua,” Hindun berkata: “Adapun laki-laki yang pertama, dia adalah tuan yang akan lenyap kemuliaannya, akan membinasakan isteri jika kelak dia tak dapat menjaga untuk senantiasa berlemah lembut dengannya setelah tadinya menolaknya, dia akan merendahkan diri dibawah lambung isterinya, jika menghasilkan keturunan menjadi anak yang bodoh, jika melahirkan maka menjadi salah karenanya.”

Kemudian Hindun melanjutkan, “Urungkanlah laki-laki tersebut dariku dan tidak usah engkau sebutkan namanya kepadaku.”

Adapun yang satunya kelak menjadi suami yang memiliki kemerdekaan yang sebenarnya, sesungguhnya aku tertarik dengan kepribadiaannya dan aku menjadi isterinya, karena aku akan dapat bergaul dengannya dengan kesetiaanku dan sedikit kekuranganku, dan sesungguhnya dilihat dari segi nasab antara aku dengannya maka alangkah pantasnya dan tiada penghalang bagi kami untuk berumah tangga, melindungi hakikat kecantikan yang sebenarnya tanpa perwakilan dan perantara tatkala berbincang-bincang, siapakah laki-laki tersebut?”

Berkatalah ayahnya yang bernama Utbah, “Dia adalah Abu Sufyan bin Harb.” Hindun berkata, “Nikahkanlah aku dengannya, namun jangan tergesa-gesa seperti orang yang “beser”, jangan pula mendiktenya seperti api di tungku dan memintalah pilihan kepada Allah di langit agar memilihkan untukmu dengan ilmu-Nya terhadap qadha.”

Begitulah, kita melihat bagaimana Hindun menghadapi kesulitan, dia angkat kepalanya ke atas puncak, dia tidak mau menikah dengan baik-baik, akan tetapi nantinya suaminya hanya menjadi boneka yang dia permainkan seenaknya, akan tetapi dia menghendaki seoang suami yang memiliki kepribadian, mulia dan kuat, sehingga suami tersebut dapat menjadi pendamping dirinya, bukan dirinya yang menjadi pendamping suaminya.

Hindun menjalani kehidupan rumah tangganya bersama Abu Sufyan, dan kita melihat bahwa semangat Hindun untuk mendapatkan kemuliaan lebih besar dari sekedar keinginannya dalam menumpahkan syahwat seorang laki-laki terhadap wanita.

Dia memiliki ambisi yang serius terhadap sesuatu yang dia yakini bahwa dirinya mampu. Di antara bukti yang menunjukkan hal itu adalah bahwa suatu ketika orang-orang melihatnya sedang bersama putranya yang bernama Mu’awiyah, maka ketika itu orang-orang sama bergumam, “Jika anak ini sudah besar, kelak akan memimpin kaumnya.”

Pujian tersebut tidak membesarkan hatinya, bahkan dengan rasa tidak puas dan ingin lebih dari itu dia berkata, “Celakalah dia jika hanya menjadi pemimpin kaumnya saja.”

Ketika terjadi perang Badar al-Kubra terbunuhlah dalam peperangan tersebut ayah Hindun dan pamannya yang bernama Syaibah dan saudaranya yang bernama al-Walid. Maka tumbuhlah dihati Hindun rasa dendam yang membara, ketika di pasar Ukazh dia bertemu dengan al-Khansa’ yang bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Hindun?”, Maka dia menjawab:

Aku menangis karena rasa sakitnya dua luka
Menjaga keduanya dari perusak yang akan membinasakannya
Aku menangis karena ayahku Utbah yang telah berbuat baik
Duhai celakanya….ketahuilah
Juga karena Syaibah yang telah menjaga yang patut untuk dibela
Mereka itulah keluarga yang mulia di atas rata-rata keluarga
Di saat kewibawaan mulai tumbuh berlipat ganda.

Ketika perang Uhud, Hindun bin Utbah memainkan peranan sebagai juru perang yang handal, yang mana dia keluar bersama kaum musyrikin Qurasy dan ketika itu pemimpin mereka adalah suaminya, yakni Abu Sufyan, Hindun memberikan semangat berperang kepada orang-orang Qurasy bersama wanita musyrikin lainnya sambil memukul rebana dan bersyair:

Kami adalah wanita-wanita jalanan
Yang berjalan membawa bantal yang empuk
Jika kalian maju kami peluk
Jika kalian lari akan kami cerai

Dia juga mengulang-ulang syair:

Wahai Bani Abdi Daar
Wahai para pejuang
Pukullah dengan segala senjata yang tajam

Pada masa itu Hindun tertulis dalam lembaran yang hitam kelam yang tak pernah dilupakan oleh sejarah. Lembaran tersebut berupa perlakuannya terhadap bapak dari para syuhada’ dan penghulunya, yakni Hamzah bin Abdil Muthallib. Dia telah memerintahkan kepada al-Wahsy bin Harb, budaknya, dengan menjanjikan kemerdekaan bagi dirinya jika mampu membunuh Hamzah dan membalas dendamnya, senantiasa berkobar api permusuhan di dadanya dan dia berkata, “Wahai Abu Dasmah obatilah aku…sembuhkanlah luka hatiku.”

Ucapan tersebut tidaklah mengherankan keluar dari mulut seorang yang menyimpan dendam kesumat, akan tetapi yang tidak dapat diterima adalah perlakuannya yang tidak wajar terhadap mayat pahlawan yang syahid –yang telah dibunuh di luar batas kewajaran dengan memotong hidung dan kedua telinganya, kemudian merobek perutnya serta mengambil jantungnya lalu dikunyahnya, hanya saja ia tidak kuasa untuk menelannya maka diludahkan kembali, kemudian dia naik ke atas bukit dengan rasa puas, lalu berteriak dengan suara lantang:

Telah Kami balas kekalahan kami di perang Badar
Perang demi perang terus berkobar
Tiada bersabar diriku atas kematian Utbah ayahku
Tidak juga saudara dan pamanku

Telah kuobati luka hatiku dan telah kutebus nadzarku
Wahsyi telah hilangkan rasa haus di hatiku
Terima kasihku kepada Wahsy terhadap umurku
Hingga terkelupas dagingku di dalam kuburku.

Hindun juga berkata:

Telah terobati dendamku terhadap Hamzah di perang Uhud
Hingga kuambil jantungnya dengan merobek perutnya
Sirna sudah rasa sakit di hati
Dari kegundahan yang tiada berperi

Begitulah, hingga Hindun mendapatkan gelar yang cukup mengganggunya yang terus terngiang-ngiang di telinganya seteleh keislamannya, yaitu julukan “Aklatul Akbad” (Wanita pemakan jantung). Hindun terus menerus dengan kesombongan dan kebanggaan jahiliyahnya hingga kalimat Allah berjaya dan terjadi hari kemenanagan yang nyata (Fathul Makkah). Takdir Allah SWT agar pahlawan jahiliyah wanita berubah menjadi pahlawan Islam wanita. Pada malam penaklukan Mekah dan tatkala Fathu Makkah Abu Sofyan bin Harb kembali bersama Rasulullah saw sebagai seorang Muslim dan dia berteriak lantang: “Wahai orang-orang Qurasy ketahuilah sesungguhnya aku telah masuk Islam, maka masuk Islamlah kalian! Sesungguhnya Muhammad telah datang kepada kalian dengan sesuatu yang tidak mungkin kalian hadapi, barangsiapa yang masuk ke dalam rumah Abu Sofyan maka dia selamat.”

Maka berdirilah Hindun dan memegang jambangnya seraya berkata, “Seburuk-buruk pemimpin kaum adalah engkau… wahai penduduk Mekah berperanglah kalian, alangkah buruknya pemimpin kaum ini.”

Abu Sofyan berkata, “Celakalah kalian… janganlah kalian terperdaya dengan ocehannya, sungguh Muhammad telah datang dengan membawa kekuatan yang tidak mungkin kalian hadapi, barangsiapa yang masuk ke rumah Abu Sofyan, maka dia aman. Mereka berkata: “Semoga Allah membinasakanmu, mana cukup rumahm untuk menampung kami?” Kemudian dia berkata, ” Barang siapa yang menutup pintunya maka dia aman dan barang siapa masuk masjid maka dia aman. “Kemudian ketika itu orang-orang berpencar ada yang masuk ke dalam rumah dan adap pula yang masuk ke dalam masjid.

Pada hari kedua setelah Fathu Makkah Hindun berkata kepada suaminya, Abu Sofyan, “Aku ingin mengikuti Muhammad, maka bawalah aku menghadapnya.”Abu Sufyan berkata,” Sungguh aku melihat kemarin kamu benci dengan perkataan tersebut?” Berkata Hindun, “Demi Allah aku belum pernah melihat Allah disembah dengan sebenar-benarnya di dalam masjid sebagaimana yang aku lihat kemarin malam, demi Allah kemarin malam aku melihat orang-orang tidak melakukan selain salat dengan berdiri, rukuk, dan bersujud.”

Abu Sufyan berkata kepadanya, ” Sesungguhnya engkau telah banyak berbuat salah, maka pergilah kamu bersama laki-laki dari kaummu. “Maka Hindun pergi menemui Utsman bin Affan kemudian keduanya menghadap Rasulullah saw yang ketika itu bersamaan pula dengan para wanita. Setelah dia minta izin dan diizinkan masuk, maka dia masuk dengan menggunakan cadar lantaran takut atas apa yang telah ia perbuat terhadap Hamzah, dia takut kalau-kalau Rasulullah akan membalas perbuatan tersebut. Hindun berkata: “Wahai Rasulullah, alhamdulillah yang telah memenangkan dien yang telah dipilih-Nya sehingga bermanfaat bagiku semoga Allah merahmati anda wahai Muhammad, sesungguhnya aku adalah wanita yang telah beriman kepada Allah, membenarkan Rasul-Nya,” Setelah itu Hindun membuka cadarnya seraya berkata, “Saya adalah Hindun bin Uthbah.”

Rasulullah saw bersabda, “Selamat datang untukmu.”

Hindun berkata, “Demi Allah dahulu tiada di muka bumi ini suatu kaum yang paling aku sukai untuk mendapat kehinaan melainkan kamu, akan tetapi sekarang tiada di muka bumi ini suatu kaum yang paling aku sukai untuk mendapatkan kemuliaan melainkan kaummu.”

Maka Nabi saw bersabda, “Dan lebih dari itu.” Kemudian beliau membacakan Alquran kepada para wanita tersebut dan membai’at mereka. Hindun berkata di tengah-tengah mereka, “Wahai Rasulullah haruskah kami menjabat tanganmu?” Kemudian Nabi saw bersabda:

“Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita dan bahwasanya perkataanku kepada seratus wanita sama sebagaimana kepada seorang wanita.”

Selanjutnya Rasulullah saw bersabda, “Apakah kalian membai’atku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun?” Hindun berkata, “Demi Allah sesungguhnya anda telah meminta dari kami apa yang tidak anda minta dari kaum laki-laki, kami akan menerima dan melaksanakannya.”

Kemudian Nabi melanjutkan, “Dan janganlah kalian mencuri.”

Hindun berkata, “Wahai Rasulullah saw sesungguhnya Abu Sofyan adalah suami yang bakhil, maka apakah boleh bagiku untuk mengambil makanannya tanpa seijinnya?” Maka Rasulullah saw memberikan rukhsah baginya untuk kurma basah dan tidak memberikan rukhsah untuk kurma kering.”

Rasulullah saw melanjutkan, “Dan janganlah kalian berzina.”

Hindun berkata, “Mungkinkah seorang wanita merdeka berzina?”

Nabi melanjutkan, “Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian.”

Hindun menjawab, “Sungguh telah kami pelihara mereka sejak kecil kemudian kalian telah membunuhnya di perang Badar tatkala dewasa, maka engkau lebih tahu akan hal itu, begitu pula mereka (para sahabat).” Maka ketika itu Umar bin Khattab tertawa mendengar perkataan Hindun tersebut, hingga lama sekali.

Baca juga :

Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Dan janganlah berbuat dusta yang diada-adakan antara tangan dan kaki kalian.”

Hindun berkata, “Demi Allah sesungguhnya kedustaan itu amatlah buruk.”

Nabi saw melanjutkan, “Dan janganlah kalian mendurhakaiku dalam urusan yang baik.”

Hindun menyahut, “Tidaklah kami akan duduk di majelis ini jika hendak mendurhakai anda dalam urusan yang makruf.”

Begitulah sikap Hindun di hadapan Rasulullah saw dengan kepribadiaannya yang kuat dan keimanannya yang tulus berdialog, bertanya dan mengulang-ulangnya.

Tatkala Hindun pulang ke rumahnya, langsung menuju patung-patung di rumahnya dan menghancurkannya dengan sebuah kapak besar hingga berkeping-keping seraya berkata, “Dahulu kami tertipu olehmu… dahulu kami tertipu olehmu.”

Hari-hari berlalu dan semakin bertambahlah pengetahuan Hindun dalam masalah keimanan, sehingga membawa dirinya untuk berjihad menyertai kaum Muslimin. Beliau bersama suaminya, yakni Abu Sufyan menyertai perang Yarmuk yang terkenal itu, hingga mendapatkan luka yang serius, beliau juga memompa semangat kaum Muslimin untuk memerangi Romawi dengan mengatakan, “Percepatkalah kematian mereka dengan pedang kalian wahai kaum Muslimin.”

Hindun juga turut meriwayatkan dari Nabi dan begitu pula putra beliau Mu’awiyah binti Abi Sofyan meriwayatkan dari beliau dan Aisyah Ummul Mukminin.

Pada tahun ke-14 Hijrah wafatlah Hindun binti Utbah. Selamat jalan Hindun, wanita yang kuat!

sumber: remasindo.cjb.net

Posted in Kisah | Tagged , , , , | Leave a comment

Selayang Pandang Tentang Al Haq Wal Bathil

Bahan ghazwul fikri, hizbu syetan dan juga qodhoya ummat adalah penyedaran kepada musuh-musuh islam yang sntiasa mengajak manusia ke jalan yang benar. Bahan alhaq wal bathil ini berusa untuk menyedarkan bahwa musuh islam itu sebetulnya berasal dari pihak kebatilan dan pertembungan dengan islam dengan islam merupakan keadaan yang akan selalu dihadapi. Mereka selain islam akan bersama menyerang dan menghancurkan islam. Bahan al haq wal bathil ini mencoba juga memberikan beberapa jalan keluar ke atas permasalahan ummat dengan memunculkannya hizbullah.

Penyederan bahwa pertembungan adalah antara haq dan bathil disampaikan melalui bahan sirak bayna haq wal bathil dan quwatul haq. Setelah itu sikap yang perlu di persiapkan dalam menghadapi pertembungan ini adalah furqon dan istiqomah. Akhirnya bagaimanapun sikap bertahan akan dilanjutkan kepada usaha menghadapi dan menyelesaikan masalah iaitu dengan menghadirkan hizbullah sebagai alternatif jawaban. Bagaimanapun keadaannya peranan hizbullah mesti di hidupkan.

Pertembungan diantara muslim dengan kafir dan musuh-musuhnya adalah disebabkan kerana pertembungan al haq dan bathil. Permusuhan al bathil sehingga ia dengan sengaja memerangi islam smnjak dulu hingga sekarang dan sampai hari kiamat merupakan bukti bahwa mereka tidak akan senang melihat islam kecuali apabila pengikut islam bertingkah laku kafir atau menjadi murtad. Keadaan ini keadaan yang paling diminati dan di senanginya. Tercapai objektif menyesatkan manusia dan membuat kerusakan ini selepas berhadapan dengan hizbullah yang merupakan kekuatan yang sebenarnya.

Pertembungan diantara al haq dan al bathil adalah peperangan diaantara hizbullah dan hizbusyetan. Allah yang menciptakan manusia dan alam ini mempunyai ilmu yang luas mengenai ciptaan sehingga kebenaran Allah ini menjadi suatu dien Allah yang juga akhirnya sebagai dien yang benar . Ansorullah adalah sikap mukmin kepada pemmpinya yang kemudian sebagai tentera Allah dan bergabung ke dalam hizbullah. Kemenangan akan diperoleh hizbullah dengan kejayan dunia akhirat.

Baca juga : Aplikasi belajar TOEFL Android

Di lain pihak pula mush dapat membentuk pengikut kebatilan yang tidak jelas bagaimana pandangan nya terhadap mahluk (manusia dan alam) yang berdasarkan andaian atau sangkaan sahaja. Mereka juga membentuk pendukung kebatilan yang kemudian menjadi junudul bathil dan akhirnya menjadi hizbu syetan. Dengan demikian pertembungan antara hizbu syetan dan hizbullah di pentas dunia dan khususnya di dunia dakwah mulai bermain.

Allah SWt sebagai kholik mempunyai kekuatan yang di gambarkan di dalam kaul(perkataan) dan kauni (alam). Kebenaran Allah SWT yang terdapat di dalam kaun ataupun yang terdapat di dalam kaul(Al Qur’an), apabila diterima oleh manusia maka berarti mereka adalah muslim sedangkan keengkarannya sebagai kafir. Allah akan mempertembngkan kebenaran haq dan bathil dan memenangkan islam keatas kejahiliyaan.

Furqon yang didasari oleh pertembungan haq dan bathil membezakan dua kekuatan iaitu Allah SWT sebagai kekuatan kebenaran sedangkan thagut adalah musuh yang nyata. Allah SWT telah menyebutkan bahwa mengikuti Allah berarti mengikuti kebenaran dan membawa kita kepada jannah sedangkan sebaliknya apabila mengikuti taghut maka akan membawa kita ke dalam neraka. Sikap mukmin menghadapi masalah pertembungan ini mesti berada di dalam ikatan tali yang kukuh iaitu dengan menjadikan Allah sebagai wala dan kemudian meninggalkan thagut.

Istiqomah adalah komitmen dan konsisten kita kepada islam berdasarkan prinsip kerana Allah dan islam, yang kemudian dilaksanakan berdasarkan cara islam dengan mengikuti minhaj Allah bersamaNya dan bertujuan kepada islam dan kepada Allah. Kebalikan dari istiqomah yang mempunyai kesertaan Allah dan islam pada semua proses maka ghoiru istiqomah adalah berdasarkan kepada sesuatu yang bukan Allah dan bukan islam. Furqon adalah pembeda dari haq dan bathil ini Kejayaan islam apabila berhasil membedakan kedua pengaruh yang saling bertentangan (haq dan batil). Muslim yang furqon akan meninggalkan kebatilan dengan cara menolaknya dan kemudian menerima islam.

Pertembungan haq dan batil hanya akan dimenangkan oleh hizbullah. Tanpa hizbullah adalah kehancuran. Dengan hizbulah maka akan muncul kemenagngan dan kejayaan. Beberapa cirri hizbullah adalah akhlak-akhlak asasiyah dan akhlak harakiah. Kedua akhlak ini perlu dipenuhi agar dapat menjadi hizbullah dan kemudian Allah SWT akan memenangkan diennya.

Posted in Belajar | Tagged , , , | Leave a comment

Dengarkan Al Quran 30 Juz Online

Al Quran

Bagi yang sedang menghafalkan surat-surat dalam Al Quran bisa didengarkan sambil online, silahkan kunjungi halaman situs Al Quran lengkap 30 juz di sini.

Dengan mendengarkan ayat-ayat suci Al Quran ini niscaya hati kita akan tergetar dan iman bertambah. Inilah tandanya orang-orang beriman.

Dengarkan 30 juz online di situs ini.

Allah telah menjanjikan kepada kaum muslimin yang berdzikir akan ditunjukkan jalan-jalan kehidupan penuh berkah, rezeki yang berlimpah, hati yang lapang, kehidupan yang tenang dan semakin mencintai-Nya.

Dengarkan kembali ayat-ayat Al Quran maka apabila hati kemudian terpaut kepada-Nya maka itulah cirinya Allah mencintai kita. Sebaliknya kalau hati gersang ketika mendengarkan ayat-ayat suci Al Quran maka saatnya untuk merenungkan penyebabnya.

Allah berjanji mereka yang mengingat-Nya dengan dzikrullah hati akan menjadi tenang.

Sebagai pelengkap, Anda juga bisa menginstall aplikasi pengingat waktu sholat untuk HP Android Anda. Inilah aplikasi adzan terbaik Android yang bisa Anda install.

Posted in Belajar | Tagged , , , , | Leave a comment

Setiap waktu dalam Iman kepada Allah

Perjalanan

Perjalanan waktu tidak dapat dihentikan oleh siapapun. Kini pada pertengahan tahun 2019 ini banyak sekali hikmah yang Allah berikan kepada kita semua. Berkah ilmu, rezeki dan umur telah kita rasakan. Saatnya menjadikan setiap langkah dalam kembali kepadaNya menjadi suatu kebahagiaan.

Mereka yang merasakan dengan bertambahnya usia bertambah bahagia karena janji bertemu yang Maha Rahmat sudah dekat, maka akan merasakan bahwa iman kepada Allah SWT merupakan sebuah nikmat yang luar biasa. Lebih membahagiakan daripada apapun yang ada di dunia termasuk emas, berlian, rumah mewah, mobil yang bagus bahkan jabatan apapun yang kita miliki.

Baca juga : Dengarkan Al Quran 30 Juz Online

Setiap detik ketika kita melangkah, setiap menit ketika kita bergerak, setiap jam ketika kita melakukan aktivitas di rumah, di kampus, sekolah, tempat kerja atau di daerah wisata maka iman kepadaNya merupakan naungan yang membahagiakan.

Cobalah berhenti sebentar ketika kita begitu sibuk setiap hari. Perhentian itu bisa dalam shalat lima waktu dimana kita mendapatkan tempat khusus untuk menjalin komunikasi, memanjatkan doa dan mensyukuri nikmat-Nya.

Dari Anas r.a. bahwa Nabi saw. bersabda,

“Tiga hal yang apabila terdapat pada diri seseorang maka ia mendapat manisnya iman yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai olehnya daripada selain keduanya, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan ia benci untuk kembali ke dalam kekafiran (1/11) sebagaimana bencinya untuk dicampakkan ke dalam neraka.”

Maka dalam perjalanan waktu ini rasa iman merupakan nikmat tiada tara.

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (Al’Ashr)

Surat ini dengan jelas menguraikan makna iman dalam perjalanan waktu dimana kita melaluinya setiap saat. Tahun 2019 tidak lama lagi berakhir sedangkan bulan Ramadhan sudah meninggalkan kita. Saatnya kita menuliskan dalam diary kita untuk menikmati rasa iman ini setiap waktu.

Ketika kita bekerja, ketika belajar, ketika belanja, ketika dalam perjalanan dan ketika bercengkrama dengan keluarga. Semuanya akan dirasakan sebagai karunia-Nya.

Iman kepada Allah inilah yang akan menjadikan tambahan waktu setiap hari kita menjadi nikmat. Nikmat karena kita akan bertemu dengan Sang Pencipta, Yang Maha Penyayang dan Maha Pengasih. Bukankah tujuan hidup kita di dunia tidak lain dalam mencari Ridha-Nya. Jadi alangkah herannya jika dalam perjalanan waktu ini kita terasa sesak dan berat.

Semuanya sudah berada dalam garis takdirnya, saatnya kita merasakan nikmat waktu ini dalam kehidupan sehari-hari, sebagai anugerah Allah SWT yang sangat besar. Wallahu’alam bishawab.

Posted in Renungan | Tagged , , | Leave a comment

Permohonan Kepada Allah Tanpa Bosan-bosannya

Perjalanan hidup manusia.

Ketergantungan kepada Allah yang dirasakan seorang beriman menyebabkan dia senantiasa memohon pertolongan kepada Allah. Semakin diri ini bergantung kepada Allah akan semakin memerlukan Allah, akan berdzikir terus menerus kepada Allah.

Sikap inilah yang kemudian Allah sebutkan dalam berbagai ayat Al Quran sebagai sifat orang yang beriman.

Baca juga : Tarbiyah Al Quran selama Ramadhan

Rasulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi:

Mintalah kepada Allah dari karuniaNya karena Allah senang untuk dimintai.

Coba kita renungkan bagaimana Allah begitu senangnya dan girangnya manakala hambanya senantiasa meminta kepada Nya. Tatkala hambanya kesulitan, tidak hentinya memohon pertolongan. Dan ketika gembira karena karuniaNya tak berhenti juga bersyukur atas Rahmat yang diberikannya.

Begitulah sifat orang beriman itu, senantiasa dalam dirinya ingat kepada Allah, selalu memohon kepada Dzat Yang Maha Kuasa karena dirinya merasa lemah.

Dan Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. (An Nisa:32)

Berbeda dengan sifat hambanya yang tidak mudah memberikan, apalagi dalam jumlah besar. Namun Allah menetapkan bahwa hambaNya lah yang harus senantiasa meminta pertolongan kepada Allah. Dirinya lemah dan Allah adalah Yang Maha Kuat. Begitu meminta kepada Yang Maha Perkasa, Maha Memiliki makan tak ada satupun mahluk yang yang bisa menghentikannya kalau Allah sudah memberikan sesuatu kepada hambanya.

Allah Maha Kaya sehingga kita yang miskin meskipun merasa berlimpah harta dan ilmu akan senantiasa dekat kepadaNya.

Baca juga : Kebahagiaan Saat Beribadah

Apa yang disisimu akan lenyap dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal (An Nahl:96).

Inilah sebuah ayat yang perlu direnungkan, berhenti sebentar untuk merasakan hikmah di dalamnya. Bahwa apapun yang ada dalam diri kita berupa harta, ilmu, tahta atau jabatan semuanya adalah titipan. Semuanya akan lenyap karena perintah-Nya. Maka yang disisi Allah berupa iman dan amal shaleh yang akan memberikan kebahagiaan kelak.

Sikap memohon pertolongan kepada Allah dalam keadaan apapun menunjukkan ketegantungan kepada Allah.

Rasulullah bersabda:Siapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan marah kepadanya. Karena itu, mintalah masing-masing dari kalian kepada Rabb-Nya dalam semua kebutuhannya bahkan hingga masalah tali sandal yang putus sekalipun. (HR Tirmidzi)

Posted in Renungan | Tagged , , , | Leave a comment

Shalat adalah ‘Latihan Pulang’ kepada Allah

Pulang.

Tadarus Al Quran selama Ramadhan dapat menjadi pengalaman dimana terjadi “pertemuan-pertemuan” dengan sejumlah ayat Al Quran yang ternyata “hidup” dalam menyiram ruh ini.

Empat tulisan terdahulu, mengenai perjalanan menuju Allah yang dilukiskan dalam proses penciptaan Nabiyullah Adam sampai dengan kepastian maut akan menjemput, mengukuhkan bahwa kita semua dalam langkah-langkah menuju kematian, yang dalam doa Al Matsurat disebutkan:”hidupkanlah dengan ma’rifah-Mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu.”

Tulisan kedua merupakan proses penyadaran bahwa Allah itu Dekat, lebih dari urat leher kita, yang menggugah kesadaran bahwa segala lintasan didengar Allah.

Tulisan ketiga, saat membaca ayat Kursi terungkap bahwa Allah itu Maha Hidup. Allah merespons doa kita, menanggapi permohonan kita melalui ilham-Nya.

Tulisan keempat, merupakan renungan akan bulan monumental dalam penanggalan Islam, training sebulan mengasah ruh sehingga selama Ramadhan menjadikan diri kita pada akhirnya kembali fitrah, ruh kita menjadi sadar dengan jasmani, ruh kita diilhamkan ketaqwaan.

Dalam Al Quran bertebaran ayat-ayat yang menjelaskan Shalat, sebuah ibadat yang dianugerahkan kepada umat Nabi Muhammad ketika Miraj. Kewajiban shalat lima waktu yang nyaris kita lupakan karena sudah terlalu rutin. Rukun Islam kedua sesudah Syahadat yang sangat bermakna, syarat dengan nilai dan bisa dikatakan dalam perjalanan menuju Allah, menunggu kita masing-masing dipanggil, Shalat merupakan sebuah pelatihan pulang kepada Allah.

Shalat merupakan ibadat yang dimulai dari Takbir dan diakhiri dengan Salam dan tata caranya sudah ditentukan secara teliti oleh ayat-ayat Al Quran dan dipraktekan oleh Rasulullah.

Shalat adalah menghadap-Nya dengan tata cara dan waktu yang sudah ditentukan – meski ada beberapa keringanan dalam keadaan tertentu – namun semuanya merupakan sebuah proses gerakan dan bacaan.

Apabila gerakan fisik ini disertai dengan gerakan ruhiah maka Shalat ternyata sebuah Kekuatan yang Maha Dahsyat.

Sayyid Qutb dalam salah ungkapannya menjelaskan bahwa Shalat sebenarnya merupakan Silatun (komunikasi) dan Liqoun (pertemuan) dengan Shang Khaliq. Pendapat ini jelas terlihat dari penjelasan Al Quran mengenai Shalat.

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (2:45-46)

Sabar dapat dimaknai dengan rasa ikhlas akan takdir yang sudah ditentukan, pasrah terhadap segala rencana Allah, menerima semuanya karena Allah, menyerahkan semuanya kepada Allah, tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah.

Baca juga : Setiap waktu dalam iman kepada Allah

Shalat ternyata merupakan sebuah proses yang meyakini ketika berdiri dalam shalat sedang menghadap Yang Maha Perkasa, Yang Maha Besar yang apabila dirasakan akan menimbulkan keharuan, kedamaian,kebahagiaan dan mungkin tangisan sebagai rasa syukur bahwa Allah benar-benar hadir menerima ibadat kita.

Maka doa-doa yang dibacakan dalam shalat menjadi komunikasi yang hidup, menjadi interaksi antara hamba dengan Tuhan, kita dengan Allah, sebuah komunikasi yang terjalin sehingga tumbuh kelezatan iman. Sehingga rasanya ingin setiap ucapan keluar dari qalbu, diresapi maknanya dan berhenti, tumaninah untuk merasakan getaran-getaran Ilahi berupa ilham, berupa janji Allah memberikan ketenangan, kesejukan, tambahan iman dan menunggu respons yang datang.

Sehingga rasanya ketika shalat-shalat wajib terutama ditunaikan tidak lagi secepat kilat untuk menggugurkan kewajiban, tidak pula hanya bacaan dan gerakan namun seluruh jasmani dan ruhani ikut dalam Shalat ini. Karena yakin bahwa Shalat adalah “pertemuan” dengan Allah.

Barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(29:5)

Rasanya shalat ini ingin lebih lama karena merasakan nikmat dan kebahagiaan tak terkira bertemu dan berinteraksi dengan Sang Maha Pencipta, Sang Maha Pemberi Rizki, Sang Maha Suci dan Maha Kasih Sayang. Inilah yang kemudian digambarkan dalam ayat-ayat Al Quran seperti Surat Maryam ayat 58.

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israel, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (19:58).

Shalat menjadi proses bukan menumpahkan semua keluh kesah namun sebuah ibadah yang membahagiakan dan apabila kemudian ayat-ayat itu membuatnya menangis, sungguh karunia yang sangat besar karena sesungguhnya getaran yang dirasakan itu merupakan sebuah nikmat dari Allah SWT. Ayat-ayat yang dibaca itu menjadi sebuah sarana komunikasi yang menghujam qalbu tidak hanya sampai lidah, menjadi penambah keimanan.

Apabila merasakan Shalat seperti itu maka waktu tidak menjadi sebuah hambatan, waktu terasa sangat cepat berlalu, rasanya ingin sekali berdiri, ruku, sujud dan bersimpuh duduk diantara dua sujud bermunajat, bertasbih, bertakbir, berdoa yang dilafalkan dengan seluruh jiwa, menyertakan jasmani dan ruhani, maka terasa sekali empat rakaat itu sangat nikmat.

Inilah yang disebut dalam Al Anfal bahwa ayat demi ayat yang didengar dan dibaca dalam Shalat dari hari ke hari semakin menambah Iman kepada Allah, Iman kepada semua rukun iman termasuk Iman kepada Qadha dan Qadar.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (8:3-4)

Gerakan dan bacaan mungkin beda, namun ruhiah yang ikut dalam shalat akan merasakan sekali bagaimana merespon bacaan dan doa yang dipanjatkan.

Baca juga : Dengarkan Al Quran 30 Juz Online

Kondisi Ruhiah inilah yang bisa membuat waktu tidak terasa, shalat empat rakaat bahkan sampai berlangsung lama bukanlah hal yang aneh. Lezatnya iman telah menyebabkan shalat tumaninah ini merupakan anugerah yang apabila tidak dirasakan dalam kehidupan ini sungguh sangat disayangkan, apabila salah satu nikmat Allah ini berupa lima kali shalat ini adalah sebuah ibadat yang Dahsyat dan Luar Biasa Pengaruhnya dalam perjalan menuju Allah.

Maka tatkala ruh kita dipanggil pulang, maka “latihan-latihan” dalam shalat ini akan menghantarkan dia dalam kebahagiaan. Dengan mengenal asma dan sifat-sifat Allah maka semakin akrab dan dekat dengan Allah, semakin shalat itu menjadi lebih bermakna. Maka mereka yang sudah melalui proses Shalat ini akan terhindar dari kemunkaran karena memang kedekatan dengan Allah yang akan mencegahnya.

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (29:45)

Seorang yang Shalat secara komprehensif sadar akan hasil Shalat. Ada hubungan antara pertemuan-pertemuan dan komunikasi dengan Allah dengan langkah-langkah sesudah Shalat. Bahkan rasanya ingin sekali setelah Shalat benar-benar khusyu bersimpuh duduk, berdzikir melanjutkan lezatnya berkomunikasi dengan Sang Pencipta.

Dan bagi mereka yang melakukan ibadat ini secara maksimal maka Allah menjanjikan sebuah kesuksesan.Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya,(23:1-2).

Rasulullah SAW yang menekankan betapa pentingnya Shalat wajib ini ditunaikan dengan paripurna. Hadits dari Imam Tabrani dengan sanad yang baik dari Abd Ibn Qurd dengan kalimat; Amal seorang hamba yang pertama yang dihisab (dihitung amalnya oleh Allah) adalah Shalat, Allah melihat shalat seorang hamba, apabila shalatnya baik, maka baiklah amal-amal yang lain, apabila shalatnya tidak baik/cela, maka tidak baiklah amal yang lainnya.

Karena Shalat ini adalah dzikir yang utama maka sangat diprioritaskan untuk merasakan bagaimana komunikasi dengan Allah yang Maha Hidup ini terjalin.

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (20:14)

Dan rasa tersambung dengan Allah ini Insya Allah ingin penulis lanjutkan dalam seri selanjutnya. Wallahu’alam bishawab.

Posted in Renungan | Tagged , , , | Leave a comment

Tarbiyah Al Quran selama Ramadhan

Kehidupan.

Tadarus Al Quran selama Ramadhan dapat dirasakan sebagai sebuah perjalanan ruhani ini. Membaca Al Quran memang memerlukan sebuah persiapan ruhani untuk tidak sekedar membaca dengan lidah. Firman-firman Allah yang merupakan mukjizat Allah kepada Rasulullah SAW dapat dirasakan sebagai sebuah nikmat tak terhingga bagi yang membacanya, menyelaminya dan merasakan aliran nikmat itu masuk kedalam hati.

Setiap individu memiliki takaran untuk mendapatkan energi Ilahi yang terpancarkan kepada hati ini, tergantung sejauh ini hati ini pasrah dan membuka diri kepada Allah. Seperti kata “Islam” yang salah satu maknanya “surender to Allah”, maka membaca Al Quran seperti menyerahkan diri kepada Allah untuk diberi apa saja hikmah-hikmah terkandung di dalamnya.

Banyak hikmah terungkap ketika mengikuti perjalanan ayat demi ayat, surat demi surat, juz demi juz, yang semakin membulatkan bahwa Allah memang akan memberikan karunia kepada diri kita melalui rasa sambung dengan-Nya tatkala ayat-ayat itu dibacakan.
Keyakinan bahwa perjalanan hidup ini adalah tujuan dan titik akhirnya kepada Allah. Bahwa semua apa yang kita lakukan dengan bebagai tenaga dan pikiran yang kadang menyita emosi tidak lain adalah sebuah perjalanan kepada Allah. Sebuah perjalanan yang sudah ditentukan dalam Al Quran dan sudah dipastikan paa akhirnya akan menemui-Nya.

(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (2:45)

yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” (2:156)

Benar bahwa kita semua milik Allah dan akan kembali kepada Allah.

Inilah perjalanan pulang kita menuju Allah. Al Quran menjelaskan secara detil bahwa perjalanan pulang diawali dengan IMAN KEPADA ALLAH karena kita akan kembali kepadanya. Mengetahui sifat-sifatnya yang dijelaskan dalam rangkaian ayat Al Quran.

Getaran akan pulang ini dirasakan saat membaca ayat demi ayat Al Quran. Getaran itu kadang kuat, kadang menghentak dan kadang menghujam sehingga terasa ada suasana sejuk di hati, rasa ingin menangis, rasa syukur dan rasa bahagia mendapatkan sebuah “ilham” yang dipancarkan kepada kalbu oleh Sang Pencipta.

Mengapa dalam perjalanan pulang kadang kita tidak tahu kepada siapa kita pulang? Mengapa dalam perjalanan pulang itu kadang-kadang kita ribut mempesoalkan hal-hal yang tidak berkaitan dengan membawa bekal pulang? Mengapa perjalanan menuju Allah kok masih ribut antara satu orang dengan lainnya, antara satu kelompok dengan kelompok lainnya dengan mengaku lebih baik, tidak dengan kesejukan, kenyamanan, kebahagiaan karena pertemuan dengan-Nya, bagi yang meyakininya tentu akan membawa kebahagiaan. Oleh karena itu dapat dikatakan mereka yang berjuang dan berjalan menuju Allah akan saling membagi kebahagiaan.

Maka sejak awal dengan Surat Al Fatihah kita akan dirasakan tuntunan akan pulang itu bahwa Allah Maha Pemelihara Seluruh Alam – makro dan mikrokosmos. Kepada Allah kita hanya beribadah, tuntunan dalam doa setiap shalat

Tunjukilah kami jalan yang lurus (1:6)

Sebuah kepasrahan total kepada Allah agar kita senantiasa dibimbingnya, sebuah sikap yang menyerahkan semuanya kepada Allah agar senantiasa kita bergantung dan hanya bergantung kepadanya.Sikap kepasrahan, sikap ikhlas inilah yang ternyata membawa kepada ketenangan, kebahagiaan dan rasa bersama Allah.

Perjalanan kehidupan ini seperti dipaparkan dalam berbagai ayat Al Quran ternyata sebuah perjalanan tidak sederhana tetapi juga tidak rumit. Allah Ghayatuna, Allah tujuan kita bersama. Jadi kalau memang semua dalam perjalanan kepada Allah yang ada adalah kebahagiaan, rasa syukur untuk saling berbagi, yang menyambungkan Qalbu kita seperti doa dalam doa Rabithah yang dibaca pagi dan sore, sebuah permohonan dengan segala kerendahan hati agar hati kita disatukan dalam pejalanan menuju-Nya.

Maka membaca Al Quran merupakan sebuah proses ruhani sekaligus proses kemanusiaan, proses pencarian jati diri, proses peneguhan iman sehingga dengan tujuh ayat Al Fatihah dan diakhiri surat An Naas maka proses perjalanan semakin jelas, semakin indah dan semakin membahagiakan karena seperti dikatakan dalam Al Quran bahwa Allah yang menuntun kita semua untuk kembali kepada-Nya dengan syarat IMAN kepada-Nya.

Rasa IMAN inilah yang kemudian dimasukkan Allah kepada kita.

Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: “Kami telah tunduk”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (49:14)

Sebuah proses yang Allah sendiri memaparkan bahwa IMAN ini adalah karunia yang Allah berikan kepada kita.Allah yang memasukkan Iman itu kepada manusia sehingga terasa dalam dada ini iman yang semakin naik dari ke hari ke hari, atau kadang terasa semakin gersang karena kita menjauh dari Allah. Oleh karena itu membaca Al Quran dari ayat ke ayat dikatakan akan menambah iman, asalkan kita memang ikhlas membacanya. Dan dampak langsung dalam diri ini dapat diketahui hanya oleh kita sendiri yang membacanya.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, (8:2)

Ya betapa nikmatnya tadarus itu tatkala rasa iman ini Allah tambahkan kepada kita, keteguhan dan keyakinan bahwa kita akan kembali kepada-Nya dimasukkan kedalam qalbu kita sebagai landasan dalam perjalanan selanjutnya.

Baca juga : Shalat adalah ‘Latihan Pulang’ kepada Allah

Inilah salah satu nikmat yang dirasakan dalam tarbiyah Ramadhan, sudah semakin jelas bahwa ayat-ayat yang dibaca ini menambah keluasan hati dalam menerima dan pasrah kepada tuntutan-Nya.

Nikmat itu memang sulit dirasakan kalau tidak ada rasa Iman kepada-Nya, anugerah berupa kesejukan, kelapangan, keteguhan itu tidak bisa didapat kecuali karena ikhlas kepada Allah. Dan anugrah ini sulit diperoleh kalau kita tidak menghadapkan diri kecuali hanya dan hanya kepada Nya dalam setiap langkah kita. Wallahu’alam bishawab.

Posted in Renungan | Tagged , , , | Leave a comment

Memilih Puasa untuk menuju Taqwa

Berpuasa.

Buah berpuasa seperti diharapkan Allah SWT adalah menjadikan kita bertaqwa. Buah inilah yang menjadi sasaran selama menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Taqwa itu dapat dirasakan oleh diri sendiri dengan sebagian indikatornya terlihat mata manusia. Namun perasaan ketaqwaan inilah yang mengetahui mutlak hanyalah Allah SWT. Yang mulia di sisiNya pun adalah mereka yang bertaqwa, demikian firman Allah SWT.

Puasa merupakan salah satu jalan yang menuju kepada ketaqawaan, menuju maqam yang mulia disisi-Nya.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (Al Baqarah:183)

Lalu bagaimana berpuasa yang benar-benar melahirkan ketaqwaan di ujung Ramadhan?

Sebelum memahami bagaimana puasa dapat melahirkan taqwa perlu menelusuri kembali makna puasa. Shiyam di bulan Ramadhan seperti banyak dijelaskan para ulama adalah menahan dari makan, minum dan hubungan suami isteri pada siang hari. Jadi dapat dikatakan praktek utama shiyam ini adalah siang hari. Tidak makan dan tidak minum merupakan salah satu indikator berpuasa pada siang hari.

Secara istilah, shiyam adalah menahan dari dari dua jalan syahwat, mulut dan kemaluan, dan hal-hal lain yang dapat membatalkan pahala puasa mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

Baca juga : Tarbiyah Al Quran selama Ramadhan

Saat berpuasa inilah kebutuhan fisik utama yakni makan dan minum ditahan selama siang hari. Dengan menahan diri tidak mengkonsumsi apapun siang hari maka terasa sekali bahwa badan akan lebih lemas dari biasanya pada siang hari.

Hikmah yang dirasakan dari berpuasa ini adalah satu kesadaran bahwa ketergantungan kepada makanan dan minuman bukanlah segala-galanya. Kebutuhan untuk memberikan makan dan minum kepada jasad ini dihentikan tidak lain adalah untuk memberi kesadaran akan aspek ruhiah dalam diri kita.

Coba kita rasakan sendiri aspek ruhiah yang selama ini ada dalam diri ketika terbangun. Yang diambil oleh Allah SWT ketita kita tertidur.

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir. (Az Zumar:42)

Allah menyinggung pula tentang penciptaan manusia dimana didalamnya ditiupkan ruh.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (Al Hijr:28-29)

Hikmah dari puasa dimana lapar dan dahaga ini serta menahan syahwat akan mengangkat kita kedalam mahluk yang paripurna tidak hanya jasadiyah tetapi juga ruhiah.

Hidup ini tidak hanya makan dan minum tetapi ada yang lebih sejati yang mengantarkan kepada ketaqwaan yakni dengan melepaskan diri dari kergantungan kepada hal-hal yang fisik, duniawi.

Kesadaran inilah yang kemudian menjadikan diri kita mengabdi semata-mata kepada Allah SWT karena jasad kita akan ditinggalkan, ruh kita lah yang akan kembali kepada-Nya.

Selama siang hari berpuasa disertai berbagai amalah sunat seperti tadarus Al Quran, menunaikan shalat sunnat dan sedekah akan melengkapi bangkitnya kesadaran seorang yang beriman dan bertaqwa.

Itulah mengapa Allah akan menganugerahkan ketaqwaan manakala sudah memiliki kesadaran melihat kehidupan di dunia ini merupakan tangga dan perjalanan menuju sebuah kehidupan kekal di akhirat.

Baca juga : Setiap waktu dalam Iman kepada Allah

Sesungguhnya kita dari Allah dan akan kembali kepadanya.

“Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” (Al Baqarah:156)

Nah kalau puasa Ramadhan ini dikembalikan dan disadari sepenuhnya maka lapar, dahaga dan menahan shaywat ini menjadi sangat kecil. Mungkin juga menjadi ringan karena kita sedang mengejar derajat tinggi menuju ketaqwaan.

Akan muncul pula kebahagiaan yang tiada taranya ketika duduk atau beraktivitas dalam puasa ini disertai keimanan karena semuanya bagi Allah SWT.

Apalagi pada malam harinya dilengkapi berbagai ibadah yang melengkapkan kesadaran untuk menuju iman dan taqwa yang lebih tinggi. Sungguh berbahagia mereka yang berpuasa pada bulan Ramadhan, dan sungguh berbahagia yang mengisi amalan malam Ramadhan dengan berbagai ibadah.

Wallahu’alam bishshaab.

Posted in Renungan | Tagged , , , , | Leave a comment

Kebahagiaan Saat Beribadah

Beribadah kepada Allah.

Ibadah yang kita lakukan sehari-hari seperti shalat yang sudah jelas perintahnya sering terkesan rutin, kosong dan tidak terasakan. Di tengah segala kesibukan, di tengah studi, disela-sela rapat atau di sela-sela kegiatan yang padat, shalat dikerjakan sebagai cara untuk menghilangkan kewajiban.

Shalat dan ibadah lainnya bukan sebagai sebuah tindakan yang mencerminkan sebuah ketaatan yang membahagiakan. Artinya dalam ibadah itu dirasakan tidak hanya pelaksanaan rukun Iman, Islam tetapi juga Ihsan.

Ibadah shalat misalnya merupakan sebuah “pertemuan rutin” yang sudah dijadwalkan sejak perintah ini diturunkan melalui Mi’raj Rasulullah. Perintah ini turun di Sidratul Muntaha bahkan diriwayatkan Malaikat Jibril tidak dapat naik ke tahapan itu.

Dan ibadah inilah yang membahagiakan. Kita berada dalam Ihsan saat shalat, beribadah kepada Nya seolah menyaksikan langsung. Dan apabila tidak melihat pun Allah menyaksikan langsung. Allah Maha Dekat, dan itu bisa dirasakan dengan Ihsan itu.

Karena lima waktu itulah terasa sekali suatu kebahagiaan mendapatkan waktu khusus untuk bertemu dengan Nya. Lima waktu yang membahagiakan apabila kita memahami bahwa ibadah ini merupakan tiang Agama seperti dikatakan Rasulullah. Bahwa shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar.

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat.  Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain).  Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (29:45)

Kebanyakan dalam proses shalat itu baik ketika mempersiapkan maupun ketika di dalamnya, hati ini tidak terasa berbunga-bunga. Tidak terekam sikap kebahagiaan. Tidak terlihat hati dan muka tersenyum bahagia karena akan “bertemu” dengan Allah. Atau kita akan menghadap kepada-Nya.

Kadang terlihat muka yang akan pergi ke mesjid atau akan shalat berjamaah tidak terekam sebuah kebahagiaan. Yang terpantul sebagian seperti orang-orang yang tertekan karena harus shalat lagi. Harus melaksanakan ibadah mahdah yang berlangsung dalam keaadaan kita sedang sibuk atau sedang penat. Tidak ada terungkap dalam hatinya, Ya Allah aku bahagia bisa “bertemu” lagi dengan Engkau dalam shalat.

Baca juga : Memilih Puasa untuk menuju Taqwa

Oleh karena itu lah mereka yang merasakan kebahagiaan saat beribadah ini, kadang terlihat mukanya rileks, tersenyum dan lega. Mengapa? Karena semua permohonan dipanjatkan, semua doa disampaikan dan Allah mendengarkan langsung apa yang kita mohon dan kita minta. Bukankah ini sebuah kebahagiaan bahwa Allah yang Menguasai Alam Semesta mendengarkan doa-doa kita, “menjumpai” orang yang shalat khusyu.

Alangkah sulitnya dipahami, karena itu mereka yang dalam shalatnya itu tidak terasakan kebahagiaan. Tidak terasakan getaran-getaran kebahagiaan seperti halnya kebahagiaan dalam kesempatan mendapatkan kemenangan, menerima rezeki besar, mendengar kabar menyenangkan karena sanak keluarga kita mendapatkan kebahagiaan. Itulah mengapa yang merasakan kebahagiaan itu maka dalam shalatnya terasa sangat menyenangkan, asyik dan menyejukkan.

Oleh karena itu juga mengapa sesudah shalat, kebahagiaan itu terus menebar ke sekeliling kita. Kebahagiaan sesudah shalat itu karena doa-doa didengarkan-Nya maka aktualisasi shalat itu terlihat ketika sesudah shalat dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga : Setiap waktu dalam Iman kepada Allah

Dan karenanya, mereka yang sudah shalat dan menemukan kebahagiaan niscaya tidak akan menyakiti saudaranya, gibah di belakangnya, menjauhi sesuatu yang haram dan akan merindukan kebahagiaan dalam ibadah lainnya.

Katakanlah: “Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam (6:162)

Terminal lima kali dalam kehidupan kita itu tidak lain adalah terminal kebahagiaan. Terminal dimana seperti Rasulullah sabdakan dimana terjadi Miraj-nya kaum mukminin. Kebahagiaan karena ibadah itu tidak bisa digambarkan namun bisa kita rasakan masing-masing.Wallahu’alam.

Posted in Renungan | Tagged , , , , , | Leave a comment